Topeng Tugek Carangsari – Memainkan Topeng Mengolah Karakter
KALANGAN Ayodya di Taman Budaya Bali, malam itu begitu riuh. Gelak tawa dan tepuk tangan terus berganti. Penonton berjejalan. Duduk berdesak-desakan. Banyak yang akhirnya duduk les...
SIANG hari beberapa waktu lalu saat pulang kampung, saya membuka sebuah kotak lama berisi tumpukan surat. Kertas-kertas itu mulai menguning. Sebagian pinggirnya kusut dimakan usia. Ada amplop dengan perangko bergambar burung, bunga, juga tokoh-tokoh yang dulu terasa asing bagi anak kecil di Bali seperti saya. Tulisan tangan di tiap surat berbeda-beda. Ada yang rapi seperti huruf cetak, yang miring dan tergesa-gesa. Dan, ada pula yang tintanya mulai pudar, nyaris tak terbaca.
Saya membuka satu per satu surat itu seperti membuka kembali masa kecil sendiri. Dulu, sejak sekolah dasar, saya punya hobi korespondensi atau surat-menyurat. Saya memiliki banyak sahabat pena dari berbagai kota di Indonesia. Ada juga dari luar negeri. Saya lupa bagaimana awalnya. Mungkin dari rubrik majalah anak-anak, mungkin juga dari alamat yang dibagikan teman. Yang saya ingat, setiap pulang sekolah, saya sering menunggu tukang pos lewat di depan rumah.
Ada perasaan yang sulit dijelaskan ketika menerima surat pada masa itu. Rasanya berbeda dengan notifikasi telepon genggam hari ini. Surat datang bersama waktu tunggu. Kadang seminggu, dua minggu, bahkan sebulan. Namun justru karena penantian itu, surat terasa lebih berarti.
Saya membaca surat berkali-kali. Menghafal nama pengirimnya. Membayangkan kota tempat ia tinggal, dan bagaimana wajah orang yang menulis huruf-huruf itu. Pada masa ketika internet belum akrab bagi anak-anak sekolah dasar, surat membuat dunia terasa lebih luas. Agaknya dari sana keterampilan menulis saya mulai diasah secara perlahan.
Korespondensi terlihat sederhana, bahkan mungkin sepele bagi generasi sekarang. Namun diam-diam ia melatih banyak hal. Ia mengajarkan seseorang menyusun pikiran, memilih kata, menceritakan pengalaman, juga menerjemahkan perasaan ke dalam tulisan. Ketika menulis surat, seseorang belajar berbicara tanpa suara.
Saya sering berpikir, masihkah hal semacam itu diajarkan di sekolah-sekolah hari ini? Atau jangan-jangan ia telah lama hilang, tergantikan oleh layar percakapan digital yang serba cepat.
Di sekolah dulu, pelajaran menulis surat pribadi masih dianggap penting. Guru meminta kami menulis surat kepada teman, keluarga, atau tokoh tertentu. Kami belajar menulis alamat pada amplop. Belajar membedakan surat resmi dan surat pribadi. Belajar bagaimana membuka percakapan dengan sopan, belajar bagaimana menutup surat dengan hangat.
Mungkin saat itu kami tidak sadar bahwa semua itu sesungguhnya adalah latihan literasi. Hari ini, teknologi memang berkembang jauh lebih modern. Anak-anak sekolah bisa berkomunikasi dalam hitungan detik. Pesan dikirim tanpa perangko. Tanpa amplop, dan arus menunggu tukang pos. Dunia terasa jauh lebih cepat.
Namun ada sesuatu yang perlahan ikut hilang dalam kecepatan itu. Saya sering menerima pesan singkat yang hanya berisi satu huruf: “P”. Entah sejak kapan budaya itu menjadi lazim. Huruf tunggal itu bisa berarti banyak hal. Permisi. Ping. Panggil. Atau sekadar tanda seseorang ingin memulai percakapan tanpa tahu bagaimana membuka kalimat dengan utuh.
Kadang saya membayangkan, betapa jauhnya jarak antara sepucuk surat beberapa halaman dengan satu huruf “P”. Bukan berarti generasi sekarang malas. Mereka hanya tumbuh dalam budaya komunikasi yang berbeda. Dunia digital mendorong manusia berbicara lebih cepat, singkat, dan praktis. Sayangnya, tidak semua hal bisa disampaikan dengan baik dalam komunikasi yang serba dipadatkan.
Kita hidup di zaman ketika orang bisa mengirim ratusan pesan dalam sehari, tetapi semakin sulit menjelaskan isi hati sendiri. Padahal kemampuan menulis tidak lahir secara tiba-tiba. Ia dibentuk lewat kebiasaan. Lewat latihan yang terus-menerus, dan keberanian menuangkan pikiran secara utuh.
Karena itu, kemampuan seseorang dalam menulis sering kali terlihat bahkan dari pesan singkat yang ia kirim. Cara menyusun kalimat, memilih kata, menggunakan tanda baca, hingga cara menyampaikan maksud memperlihatkan bagaimana seseorang berpikir. Menulis bukan sekadar kemampuan akademik. Ia adalah cara manusia menata isi kepala.
Dalam pekerjaan saya sebagai wartawan, saya semakin sering menemukan ironi itu. Banyak orang berpendidikan tinggi, bahkan mahasiswa, masih kesulitan menjelaskan sesuatu secara runtut lewat tulisan. Pesan-pesan yang dikirim kadang meloncat-loncat, tanpa struktur, dan tanpa konteks yang jelas. Tidak sedikit yang menulis seperti sedang terburu-buru mengejar sesuatu.
Barangkali karena memang dunia hari ini bergerak terlalu cepat. Media sosial membuat semua orang ingin segera merespons. Segera berkomentar, membalas, dan segera viral. Dalam suasana seperti itu, kemampuan merenung perlahan menjadi barang mewah.
Padahal menulis surat dulu justru mengajarkan kebalikannya. Surat membuat seseorang berpikir sebelum berbicara. Sebab sekali surat dikirim, ia tidak bisa diedit seperti pesan digital masa kini. Karena itu orang lebih hati-hati memilih kata, lebih sabar menyusun kalimat. Selain itu, lebih sungguh-sungguh menjelaskan maksud.
Mungkin itu pula sebabnya surat terasa lebih manusiawi. Tulisan tangan menyimpan emosi yang tak selalu bisa dijelaskan teknologi. Dari bentuk huruf saja, kadang kita bisa menebak suasana hati seseorang. Ada tulisan yang tampak ceria, gugup, ada yang seperti ditulis sambil menangis. Bahkan coretan kecil dan bekas tinta sering terasa lebih hidup dibanding ribuan emoji.
Saya masih ingat bagaimana dulu beberapa surat disemprot parfum tipis-tipis oleh pengirimnya. Hal sederhana seperti itu kini nyaris tak ditemukan lagi. Komunikasi digital memang membuat segalanya mudah, tetapi sering kehilangan jejak personal.
Bahkan rasa rindu hari ini terasa berbeda. Dulu, kerinduan membutuhkan waktu. Orang menunggu balasan surat dengan sabar. Hari demi hari. Minggu demi minggu. Ada ruang kosong yang membuat perasaan tumbuh perlahan. Sekarang, pesan yang tak dibalas beberapa menit saja bisa membuat orang gelisah.
Mungkin teknologi memang mempercepat komunikasi, tetapi sekaligus mengurangi kemampuan manusia menikmati jeda.
Saya teringat ibu angkat saya yang dulu juga memiliki sahabat pena dari Australia bernama Shelly. Mereka saling berkirim surat selama bertahun-tahun. Dari hubungan yang awalnya hanya tulisan di atas kertas, tumbuh persahabatan lintas negara yang nyata. Surat menjadi jembatan budaya, juga jembatan kemanusiaan.
Hari ini, dunia memang terasa lebih dekat lewat internet. Namun kedekatan digital tidak selalu berarti kedekatan emosional.
Kita mungkin memiliki ribuan pengikut media sosial, tetapi semakin sedikit percakapan yang benar-benar mendalam. Karena itu saya merasa korespondensi sesungguhnya bukan cuma soal surat-menyurat. Ia adalah latihan memahami manusia lain. Ketika menulis surat, seseorang belajar membayangkan perasaan penerimanya. Belajar memilih kata agar tidak melukai. Belajar menyampaikan cerita dengan utuh.
Bukankah itu juga inti dari pendidikan? Sayangnya, sekolah hari ini tampaknya lebih sibuk mengejar kemampuan teknis dibanding kemampuan mengolah rasa dan pikiran. Anak-anak diajarkan menggunakan teknologi sejak dini, tetapi belum tentu diajarkan bagaimana menyampaikan isi hati dengan baik.
Padahal literasi bukan sekadar kemampuan membaca buku atau mendapat nilai bagus di kelas bahasa Indonesia. Literasi juga menyangkut kemampuan memahami diri sendiri dan orang lain. Dan salah satu latihan paling sederhana untuk itu pernah bernama surat-menyurat.
Saya tidak sedang mengajak generasi sekarang kembali hidup tanpa teknologi. Itu mustahil. Dunia memang berubah. Teknologi membawa banyak kemudahan yang tidak bisa ditolak. Saya sendiri menggunakan telepon pintar setiap hari. Mengirim pesan, membaca berita, bekerja lewat internet.
Namun di tengah semua kemudahan itu, saya kira kita tetap perlu mempertanyakan satu hal penting: apakah manusia modern masih benar-benar mampu berbicara satu sama lain secara utuh? Atau jangan-jangan kita hanya semakin mahir mengirim sinyal-sinyal pendek tanpa makna mendalam. Mungkin karena itu saya masih menyimpan surat-surat lama tersebut sampai hari ini. Bukan semata-mata untuk bernostalgia, melainkan sebagai pengingat bahwa pernah ada masa ketika manusia meluangkan waktu cukup panjang hanya untuk berkata, “Apa kabar”. Dan mungkin, di tengah dunia yang semakin bising dan terburu-buru, pertanyaan sederhana itu justru semakin sulit dituliskan dengan sungguh-sungguh. [T]
Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole
KALANGAN Ayodya di Taman Budaya Bali, malam itu begitu riuh. Gelak tawa dan tepuk tangan terus berganti. Penonton berjejalan. Duduk berdesak-desakan. Banyak yang akhirnya duduk les...
JIKA di atas meja belajar anda terdapat dua buah benda yaitu gadget dan buku, manakah yang akan anda pilih? Saya percaya, demi sinetron kesukaan ibu-ibu di tivi, kebanyakan dari a...
LAGU anak-anak itu kadang unik, terutama liriknya. Saat Taman Kanak-Kanak dulu kita tidak begitu hirau dan memang tak banyak mengerti arti dan maksud lagunya itu apa. Cuma nyanyi d...
BALI merupakan kepulauan seribu pura yang telah terkenal sejak zaman dahulu. Masyarakat Bali tak lepas dari Tri Hita Karana yang merupakan landasan kehidupan beragama dan beradat....
JIKA benar harga rokok setinggi langit biru, dan jika benar harga tinggi itu bisa menghentikan orang merokok, dan (siapa tahu) nanti benar-benar tak ada yang merokok, bagaimana nas...
PERNAH nyuluh jangkrik? Zaman saya kecil, di desa saya di Jembrana, nyuluh jangkrik (memburu jangrik malam hari) adalah kegemaran saya dan teman sebaya. Jauh-jauh sebelumnya, bapak...
Cerpen: Putri Handayani HAMPIR setiap hari Griya Siwa tidak pernah sepi dari orang-orang yang ngayah1. Mulai dari membuat sarana upakara sampai meracik tirta, semua dilakukan oleh ...
KELAHIRAN istilah 'simakrama' menarik untuk ditelusuri. Awalnya istilah ini yang lebih mengarah pada padanan kata 'silahturahmi', yang mencerminkan keinginan untuk berbicara dan sa...
ADA serombongan remaja sedang berebut peran. Mereka akan menjadi pelakon sandiwara dalam perayaan Agustusan tingkat RT. Peran konglomerat, menteri, dokter, mahasiswa, semua mereka...
GARIS berliku itu menyerupai sungai. Lebar di hulu kemudian menyempit di hilir. Warnanya hijau, biru, dan jingga. Garis berliku serupa sungai itu membelah lukisan menjadi dua bagia...