PADA hari terakhir Ubud Food Festival 2026, Minggu, 31 Mei 2026, Rumah Kayu, Taman Kuliner Ubud dipenuhi pengunjung yang datang bukan hanya untuk berkuliner ria, tapi juga mendengarkan cerita di balik lahirnya sebuah rasa. Di tengah festival yang selama empat hari merayakan keberagaman kuliner, sesi Food for Thought bertajuk ‘The Art of Taste: Lessons from Japan and Thailand’ menghadirkan percakapan yang membawa audiens memahami lebih dalam hikayat rasa.
Diskusi tersebut mempertemukan dua sosok yang datang dari tradisi kuliner berbeda namun memiliki kegelisahan yang sama: bagaimana menjaga identitas kuliner tetap hidup di tengah dunia yang terus berubah. Mereka adalah Hiro Imamura, chef asal Jepang dengan pengalaman lebih dari tiga dekade di berbagai negara, dan Mint Jarukittikun, pendiri Samrub Samrub Thai yang dikenal sebagai pegiat budaya sekaligus penggerak pelestarian kuliner tradisional Thailand.
Percakapan dipandu oleh Adam McAsey, Founder dan Director 8 Degree Projects, perusahaan di balik sejumlah brand hospitality seperti Sisterfields, Bossman Burger, Fu House, dan Estia. Dengan gaya santai namun terarah, Adam membawa diskusi mengalir dari persoalan teknik memasak hingga makna yang lebih dalam tentang tradisi, warisan budaya, dan rasa.
Mint Jarukittikun│Foto: tatkala.co/Dede
Meski berasal dari dua negara dengan karakter kuliner yang berbeda, Jepang dan Thailand ternyata memiliki fondasi serupa. Keduanya dibangun di atas prinsip kejelasan, keseimbangan, dan penghormatan terhadap identitas. Dari titik itulah diskusi berkembang.
Mint Jarukittikun berbicara dari perspektif seseorang yang selama bertahun-tahun berupaya menghidupkan kembali resep-resep tradisional Thailand. Latar belakangnya memang tidak berangkat dari dapur profesional. Ia menempuh pendidikan desain grafis dan meraih gelar Master di bidang Innovation Management dari Central Saint Martins, London. Ia juga pernah bekerja di Thailand Creative and Design Center (TCDC), United Nations Development Programme (UNDP), hingga ikut mengembangkan Thailand Social Innovation Platform.
Namun sejak 2017, fokusnya bergeser ke dunia kuliner. Bersama suaminya, Chef Prin Polsuk, ia mendirikan Samrub Samrub Thai, sebuah inisiatif yang tidak hanya berfungsi sebagai restoran, tetapi juga ruang belajar hidup (living school) yang terus menggali dan mengembangkan warisan kuliner Thailand melalui resep tradisional dan penggunaan bahan-bahan musiman.
Sesi Food for Thought bertajuk ‘The Art of Taste: Lessons from Japan and Thailand’ pada UFF 2026│Foto: tatkala.co/Dede
Dalam diskusi itu, Mint menjelaskan bahwa memahami kuliner tidak cukup hanya melalui resep. Ada konteks budaya, sejarah, lingkungan, hingga kebiasaan masyarakat yang membentuk setiap hidangan.
Karena itulah, menurutnya, seseorang tidak bisa memahami makanan hanya dengan melihat hasil akhirnya di atas piring. Yang jauh lebih penting adalah kesediaan untuk terus belajar dan menerima perbedaan.
“Pada akhirnya, yang harus diperhatikan dalam kuliner adalah mempunyai pikiran terbuka (open mind) dan bisa menghargai setiap perbedaan ꟷ rasa, bumbu, teknik, resep, tradisi, budaya, dan lain sebagainya,” ujar Mint Jarukittikun.
Pernyataan itu menjadi salah satu benang merah diskusi siang tersebut. Ketika dunia semakin terhubung dan batas-batas geografis semakin kabur, keterbukaan menjadi syarat penting untuk memahami kekayaan kuliner yang lahir dari latar budaya yang berbeda-beda.
Audiens menyimak diskusi dengan khusyuk│Foto: tatkala.co/Dede
Sementara itu, Hiro Imamura membawa perspektif berbeda namun juga melengkapi. Berbekal pengalaman lebih dari 30 tahun di dunia kuliner, Hiro telah bekerja di Jepang, New York, Las Vegas, Hong Kong, Singapura, hingga berbagai negara di Asia Tenggara. Sepanjang kariernya, ia dikenal sebagai chef yang mampu memadukan teknik memasak Jepang dengan pendekatan modern dan internasional.
Ia juga pernah memimpin sejumlah dapur yang mendapatkan pengakuan dari Michelin Guide serta berbagai penghargaan bergengsi di kawasan Asia. Meski demikian, di balik berbagai pencapaian tersebut, filosofi memasaknya justru berangkat dari sesuatu yang sederhana, yakni kualitas bahan.
Hiro menjelaskan bagaimana selama bertahun-tahun ia membangun hubungan yang dekat dengan nelayan, petani, dan produsen lokal. Baginya, tugas seorang chef bukan hanya memasak, tetapi juga memahami asal-usul bahan yang digunakan dan menghormati karakter yang dimiliki setiap daerah.
Diskusi kemudian bergerak pada pertanyaan utama yang menjadi tema sesi tersebut: apa arti sebenarnya memahami tradisi kuliner?
Bagi kedua pembicara, memahami tradisi kuliner bukan berarti sekadar mampu mengulang resep yang sama dari generasi ke generasi. Pemahaman maupun penguasaan justru lahir dari proses panjang yang melibatkan disiplin teknik, ketelitian, konsistensi, dan kemauan untuk terus belajar.
Keduanya sepakat bahwa menemukan rasa yang tepat tidak pernah terjadi secara instan. Tidak ada jalan pintas dalam proses tersebut. Yang ada hanyalah keberanian untuk terus mencoba, gagal, memperbaiki, lalu mencoba lagi.
Dari kiri ke kanan: Mint Jarukittikun, Hiro Imamura, dan Adam McAsey│Foto: tatkala.co/Dede
Di tengah percakapan mengenai teknik, filosofi, dan perjalanan panjang dalam dunia kuliner, Hiro kemudian merangkum semuanya dalam satu kalimat yang sederhana namun kuat.
“Inti dari kuliner adalah cinta, semua harus didasari dengan cinta, entah itu memasak, makan, semuanya perlu diiringi dengan cinta yang tulus.”
Kalimat itu seolah menjadi penutup yang menjelaskan seluruh diskusi siang itu.
Di balik teknik yang rumit, penghargaan internasional, atau reputasi restoran yang mendunia, pada akhirnya kuliner tetap berangkat dari hubungan manusia dengan makanan. Hubungan yang dibangun melalui perhatian terhadap bahan, penghormatan pada tradisi, keterbukaan terhadap perbedaan, dan keinginan untuk terus belajar.
Melalui The Art of Taste: Lessons from Japan and Thailand, Ubud Food Festival 2026 menghadirkan lebih dari sekadar diskusi tentang makanan. Sesi tersebut menjadi refleksi tentang bagaimana tradisi kuliner diwariskan, dipelajari, dan dijaga agar tetap relevan di tengah perubahan zaman.
Di hadapan puluhan peserta yang memenuhi Rumah Kayu pada hari terakhir festival, Mint Jarukittikun dan Hiro Imamura menunjukkan bahwa rasa tidak hanya lahir dari resep. Rasa lahir dari perjalanan panjang, ketekunan, penghormatan terhadap budaya, dan seperti yang dikatakan Hiro, dari cinta yang tulus kepada makanan dan segala hal yang menghidupkannya.[T]
Reprter/Penulis: Dede Putra Wiguna Editor: Adnyana Ole
Sebuah Slide yang Mengusik Kesadaran
TERKADANG, inspirasi lahir bukan dari buku tebal atau hasil penelitian yang rumit, melainkan dari sebuah kalimat sederhana. Itulah yang say...
ETIKA lingkungan merupakan suatu perspektif moral yang menempatkan alam sebagai entitas yang memiliki nilai intrinsik, bukan sekadar objek eksploitasi untuk memenuhi kepentingan m...
SETELAH sempat absen pada tahun 2025, Festival Cerita Rasa di Desa Tukadaya, Jembrana kembali hadir dengan membubuhkan angka 0.4, pada akhir tajuknya Festival Cerita Rasa 0.4. Ang...
PERJALANAN nasib hidup dan mati cerita rakyat ditentukan oleh sikap pemiliknya. Cerita rakyat pun dengan beberapa alasan dikubur. Hal ini dialami oleh banyak sekali cerita rakyat...
TIGA buku tersusun rapi di atas meja. Sampulnya berbeda-beda, tetapi lahir dari ruang akademik yang sama. Ada ‘Lawaté Surup Ring Balé Gedé: Pupulan Puisi Bali Anyar’, ‘Geguritan D...
MENDAPAT amanah dari warganya, Suyadi merasa bangga dan terharu menjadi kepala desa. Jabatan yang membuatnya harus memimpin daerah yang agak jauh dari kota kabupaten. Daerah yang...
MUSIM libur kenaikan kelas dan pascakelulusan sekolah di Bali selalu menghadirkan dua tontonan besar. Yang pertama, Pesta Kesenian Bali (PKB). Yang kedua, Seleksi Penerimaan Murid...
Bagi anak-anak, Rekasadana (Pergelaran) Karya Legendaris Maestro Wayan Berata yang dipersembahkan Sanggar atau Sekaa Gong Gita Bandana Praja, Banjar Belaluan Sadmerta, Desa Dangin...
SEBUAH teks sastra tidak pernah tumbuh sendirian. Agar sampai ke pembaca, ia hadir melalui banyak tangan: penerjemah yang memindahkan makna, editor yang mengolah naskah, literary...
SAAT menyaksikan The Mystical Kecak Dance Glow in The Dark: Hanoman Duta, Amfiteater Panggung Budaya, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Sabtu malam, 16 Juni 2026, yang ditampil...