17 Agustus 2016, Belum Semua Anak Indonesia Merdeka
MERAYAKAN Hari Kemerdekaan memang bukan sebuah keharaman. Wajar saja rakyat Indonesia merayakannya. Betapa tidak, karena kemerdekaan ini diraih dengan iuran darah para pejuang terd...
BELAKANGAN ini, masyarakat di berbagai daerah di Indonesia dihebohkan oleh kemunculan ‘pocong jadi-jadian’. Sosok yang biasanya ada dalam cerita horor itu ternyata bukan makhluk gaib, melainkan manusia yang sengaja membungkus dirinya menyerupai pocong. Tujuannya bukan untuk menakut-nakuti semata, tetapi acap kali berkaitan dengan tindak kriminal seperti begal, pencurian, atau upaya mengalihkan perhatian warga.
Fenomena ini cukup meresahkan. Video dan foto yang beredar di media sosial menunjukkan adanya oknum yang berpura-pura menjadi pocong di jalan sepi hingga lingkungan perumahan. Entah dilakukan oleh satu komplotan yang terorganisasi, oknum berbeda yang meniru modus yang sama, atau sekadar terinspirasi dari kasus yang sudah viral, dampaknya tetap sama, membuat masyarakat waswas.
Kini di era media sosial, sebuah ide yang dianggap ‘berhasil’ akan sangat cepat menyebar. Ketika ada oknum menggunakan kostum pocong untuk menakuti calon korban dan kisahnya viral, tidak menutup kemungkinan pelaku lain akan meniru cara tersebut. Akibatnya, muncul kesan bahwa pocong-pocong palsu itu bermunculan di banyak kota secara bersamaan. Bahkan, belakangan muncul kabar dan isu bahwa modus serupa sudah terjadi di Bali, meski akhirnya dikatakan bahwa isu itu hanya hoaks.
Yang menarik, fenomena ini memperlihatkan bagaimana rasa takut dapat dimanfaatkan sebagai senjata. Banyak orang lebih takut pada sesuatu yang tidak diketahui daripada ancaman nyata. Ketika melihat pocong berdiri di tempat gelap, sebagian orang mungkin langsung panik, lari, atau kehilangan konsentrasi. Dalam kondisi seperti itulah pelaku dapat menjalankan aksinya. Dengan kata lain, yang sebenarnya dimanfaatkan bukanlah keberadaan pocong, melainkan ketakutan masyarakat terhadap cerita tentang pocong.
Lalu bagaimana sebaiknya menyikapi fenomena ini?
Pertama, masyarakat perlu membedakan antara kewaspadaan dan kepanikan. Jika melihat sesuatu yang mencurigakan, jangan langsung menyimpulkan bahwa itu makhluk gaib. Gunakan akal sehat dan amati situasinya dengan tenang. Banyak kasus akhirnya terungkap justru menunjukkan bahwa sosok yang dianggap hantu ternyata hanyalah manusia biasa.
Kedua, keamanan lingkungan perlu diperkuat. Pos ronda, patroli warga, penerangan jalan, dan komunikasi antartetangga masih menjadi cara yang efektif untuk mencegah tindak kriminal. Pelaku yang mengandalkan unsur kejutan dan ketakutan biasanya enggan beraksi di lingkungan yang aktif.
Ketiga, masyarakat perlu lebih bijak dalam menyebarkan informasi. Tidak semua video atau pesan berantai yang beredar di media sosial dapat dipercaya. Sebelum membagikan informasi tentang kemunculan pocong jadi-jadian, sebaiknya periksa terlebih dahulu sumber dan kebenarannya. Penyebaran kabar yang belum jelas justru dapat menimbulkan kepanikan, seperti kasus yang terjadi di Bali baru-baru ini.
Pada akhirnya, ancaman terbesar dalam kasus ini bukanlah pocong itu sendiri, melainkan kejahatan yang bersembunyi di balik kostum pocong. Oleh karena itu, respons terbaik bukanlah ketakutan berlebihan, melainkan kewaspadaan rasional. Jika masyarakat tetap tenang, saling menjaga, dan tidak mudah terprovokasi oleh isu yang belum jelas, maka modus semacam ini akan kehilangan daya gunanya.
Intinya, awas ada pocong! [T]
Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole
MERAYAKAN Hari Kemerdekaan memang bukan sebuah keharaman. Wajar saja rakyat Indonesia merayakannya. Betapa tidak, karena kemerdekaan ini diraih dengan iuran darah para pejuang terd...
Semalam di tengah gempita dentuman suara sound sistem, saya mengkhayal dibayar 150 juta untuk mengajar 34 jam per minggu, wah pasti kaki saya tidak akan pernah pegal saat berdiri d...
KETIKA mengantar seorang teman untuk membeli sepatu sebagai keperluan bekerja di sebuah instansi pemerintah, kami sempat terlibat obrolan singkat yang pada intinya alas kaki tidak...
BANGKUNG mepalu adaang di Buleleng, jeg pasti rame! Asal gratisss! Iya, babi betina saling sruduk digelar di Buleleng, pasti ramai penontonnya. Apalagi Slank pentas gratisan. Kutik...
MENJELANG Hari Galungan biasanya banyak warga adat menggelar karya gede di Pura. Karya Gede di sebuah Pura merupakan hari yang ditunggu-tunggu warga. Di situ banyak orang akan mema...
ADA semacam mitos yang tampaknya bisa menghantui keluarga Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Buleleng dalam Pilkada, Februari 2017. Yakni, kenyataan bahwa sejak era refor...
AKU adalah ruh sebuah negeri. Negeri nun jauh di sana. Tubuhku bersandar pada pegunungan yang berbaris rapi. Di hadapan mataku terhampar laut utara yang begitu tenang. Mungkin kare...
HALO, kawan sebangsa dan setanah air, sudah makan apa hari ini? Tahu? Tempe? Semoga Tuhan selalu memudahkan rejeki kita, agar tahu dan tempe selalu dapat terbeli. Tahu dan tempe m...
KISAH percintaan memang tak pernah habis jika dibicarakan. Virus-virus cinta dapat tumbuh di mana saja dan kapan saja. Tak seorangpun bisa menduga hal tersebut. Salah satu ajang ya...
I dan Ni oleh banyak orang dianggap title “wong jaba” padahal ini adalah honorific yang generic. I dan Ni adalah honorific. I semacam Mr dan Ni semacam Ms. I dan Ni bukan hanya di...