LANGIT mendung siang itu terasa menenangkan. Sepasang turis asing berjalan pelan menyusuri jalan kecil yang dikelilingi semak dan rimbun pohon. Di depan mereka, seorang pemandu wisata menuntun langkah, sesekali menoleh ke belakang, memastikan dua turis itu masih mengikuti.
“Ini tempatnya?” tanya si turis perempuan, berambut pirang dan bermata teduh. Sejak awal, ia lebih banyak diam, lebih banyak menyimak.
Sang pemandu, pria paruh baya dengan wajah ramah dan tenang, tersenyum kecil sambil mengangguk. “Ya. Ini namanya Rumah Topeng dan Wayang Setia Darma,” sahutnya pelan. “Tapi ini bukan sekadar museum. Tempat ini… hidup.”
Begitu mereka melewati gapura sederhana yang bertuliskan “Selamat Datang di Rumah Topeng dan Wayang Setia Darma”, suasana seketika berubah. Udara menjadi lebih sejuk. Aroma kayu tua dan tanah basah menyambut dari segala arah. Tak ada deru kendaraan. Tak ada musik. Hanya angin berdesir dan langkah kaki mereka yang pelan-pelan masuk ke pekarangan luas dan tenang.
Mereka berhenti di depan sebuah joglo besar. Sang pemandu melangkah masuk lebih dulu. Di dalamnya, ribuan mata menyambut dalam diam. Topeng-topeng menggantung di dinding, berdiri di panggung kecil, berjajar rapi di sudut-sudut ruangan. Wayang-wayang menunggu dalam kesunyian yang bukan kematian, melainkan jeda. Seolah menanti. Entah apa. Entah siapa. Tempat ini memang bukan sekadar rumah koleksi. Rumah Topeng dan Wayang Setia Darma di Desa Kemenuh, Sukawati, Gianyar, adalah tempat masa lalu belum sepenuhnya berlalu. Di mana setiap benda seolah masih bernapas, menyimpan jiwa.
Wisatawan asing di Rumah Topeng dan Wayang Setia Darma│Foto: Dede
Rumah yang Bernapas
Rumah Topeng dan Wayang Setia Darma lahir dari cinta dan ketekunan Hadi Sunyoto bersama mendiang Agustinus Prayitno. Sejak 1996, mereka mengumpulkan topeng dan wayang dari pelosok Indonesia hingga berbagai belahan dunia. Pelan-pelan, koleksi itu tumbuh, dan akhirnya dibuka untuk umum pada 2006. “Saya mengumpulkan topeng dan wayang dari Indonesia dan dunia. Sekarang sudah ada 1.300 topeng dan 5.700 wayang,” kata Prayitno – pria kelahiran Kembangbahu, Jawa Timur, 23 Juli 1946 – dalam sebuah wawancara yang kini hanya bisa dikenang.
Bagi Prayitno, tempat ini bukan museum. Kata “museum” terdengar kaku, terlalu dingin. Ia lebih memilih kata “rumah”. Rumah adalah tempat di mana sesuatu masih terasa hidup.
“Banyak yang ingin menamainya museum, bahkan pejabat. Tapi saya mohon, biarkan ini tetap menjadi rumah. Karena di dalam rumah ada senyum. Di dalam rumah ada interaksi,” ujarnya, dikutip dari YouTube NetNews.
Wisatawan asing di Rumah Topeng dan Wayang Setia Darma│Foto: Dede
Kompleks ini terdiri atas sebelas bangunan. Tujuh di antaranya adalah joglo, rumah kayu tradisional yang hangat dan bersahaja, menjadi ruang pamer yang membawa kita berjalan ke masa lalu, menyusuri berbagai budaya dari dalam dan luar negeri. Di Joglo Plumpang, barong dari berbagai daerah menyambut dengan ekspresi penuh karakter. Di Joglo Boma, topeng-topeng Bali berjajar, dari dewa-dewi hingga raksasa, seolah masih ingin menari lagi.
Joglo Senori menjadi pertemuan budaya Nusantara: Jawa, Kalimantan, hingga Papua. Sementara Joglo Keben menyimpan wayang dan gamelan Jawa. Di Joglo Bojonegoro, terdapat wayang golek dan boneka dari mancanegara. Paviliun Jepang menyuguhkan topeng-topeng khas Negeri Sakura. Dan di Joglo Blora, wajah-wajah dari Afrika hingga Eropa memandang dalam diam.
“Apakah semuanya pernah digunakan?” tanya si turis pria, bertubuh gempal dan berkacamata, dengan suara pelan.
Sang pemandu menyapu pandangan ke seluruh ruangan. “Pernah,” sahutnya. “Ada yang pernah menari. Ada yang bercerita. Sekarang, mereka hanya menunggu.”
Ada satu joglo yang dibiarkan kosong. Namanya Joglo Tembakau. Tak ada penjelasan pasti. Mungkin memang belum waktunya ia bercerita. Atau, mungkin ia memang ditakdirkan tetap sunyi. Di salah satu sudut, berdiri amphitheater, ruang untuk pertunjukan, diskusi, dan perayaan budaya. Di sinilah rumah ini benar-benar bernapas. Bukan sekadar ruang pamer, tapi tempat berkumpul dan berbagi.
Wisatawan asing di Rumah Topeng dan Wayang Setia Darma│Foto: Dede
Menunggu dalam Sunyi
Meskipun pintu-pintu joglo selalu terbuka, rumah ini tidak selalu ramai. Kadang hanya ada beberapa pelancong, keluarga kecil, atau rombongan pelajar. Sebagian besar datang sebentar, lalu pergi. Meninggalkan keheningan seperti semula.
“Kenapa tempat seperti ini tidak ramai, ya?” tanya si turis perempuan saat mereka duduk di bangku kayu depan Joglo Plumpang, memandang halaman hijau yang sejuk.
Sang pemandu tersenyum tipis. “Mungkin karena dia tidak berteriak. Tempat ini, hanya menunggu,” jawabnya.
Tak ada loket tiket, antrean, maupun mesin kasir. Rumah ini memberi tanpa menuntut. Tapi justru itu yang kadang terasa miris. Ribuan warisan budaya tersimpan di sini, tapi belum tentu masuk dalam kesadaran banyak orang.
Bukan karena tempat ini tidak menarik. Tapi mungkin karena kita terlalu sibuk mengejar yang baru, hingga lupa menengok cermin: siapa kita dan dari mana kita berasal. Di antara tempat-tempat wisata yang berlomba menawarkan atraksi dan sensasi, Setia Darma berdiri tenang. Tak memaksa. Tak membujuk. Ia hanya menawarkan ruang hening untuk merenung.
Rumah Topeng dan Wayang Setia Darma│Foto: Dede
Topeng-topeng itu tidak meminta perhatian. Mereka hanya ingin dilihat, dipahami, dikenang. Tapi hari-hari berlalu. Banyak yang lewat, sedikit yang betul-betul singgah.
Setiap topeng dan wayang di sini pernah “hidup”, “menari”, “bersuara”. Mereka datang dari tempat yang jauh, dengan kisah-kisah yang lebih panjang dari usia kita. Dan ketika sampai di sini, mereka tidak mati. Mereka hanya, menunggu. Menunggu pengunjung yang datang bukan hanya untuk memotret, tapi “melihat”. Menunggu mereka yang tak sekadar melintas, tapi benar-benar “mendengar”.
Waktu perlahan merayap menuju sore. Kedua turis itu duduk diam. Tak banyak bicara. Bahkan sang pemandu ikut larut dalam keheningan. Seolah semuanya sepakat: tempat ini lebih fasih berbicara lewat sunyi.
Sebelum melangkah pergi, si turis perempuan sempat menoleh lagi ke dalam. Lama. Seperti ingin mengingat setiap gurat wajah yang tergantung di sana. Lalu, perlahan, mereka pergi. Barangkali ada sesuatu dari tempat ini yang ikut mereka bawa pulang. Setia Darma kembali hening, tapi tak pernah benar-benar sepi. Karena mereka masih ada di sana. Menunggu. Sampai kisah mereka benar-benar selesai diceritakan.
Reprter/Penulis: Dede Putra Wiguna Editor: Gde Aryantha Soethama
Catatan: Tulisan ini merupakan salah satu karya dalam buku Kumpulan Berita Kisah “Sukawati, Ya Seni” karya Dede Putra Wiguna (Prasasti, 2025).
Sebuah Slide yang Mengusik Kesadaran
TERKADANG, inspirasi lahir bukan dari buku tebal atau hasil penelitian yang rumit, melainkan dari sebuah kalimat sederhana. Itulah yang say...
ETIKA lingkungan merupakan suatu perspektif moral yang menempatkan alam sebagai entitas yang memiliki nilai intrinsik, bukan sekadar objek eksploitasi untuk memenuhi kepentingan m...
SETELAH sempat absen pada tahun 2025, Festival Cerita Rasa di Desa Tukadaya, Jembrana kembali hadir dengan membubuhkan angka 0.4, pada akhir tajuknya Festival Cerita Rasa 0.4. Ang...
PERJALANAN nasib hidup dan mati cerita rakyat ditentukan oleh sikap pemiliknya. Cerita rakyat pun dengan beberapa alasan dikubur. Hal ini dialami oleh banyak sekali cerita rakyat...
TIGA buku tersusun rapi di atas meja. Sampulnya berbeda-beda, tetapi lahir dari ruang akademik yang sama. Ada ‘Lawaté Surup Ring Balé Gedé: Pupulan Puisi Bali Anyar’, ‘Geguritan D...
MENDAPAT amanah dari warganya, Suyadi merasa bangga dan terharu menjadi kepala desa. Jabatan yang membuatnya harus memimpin daerah yang agak jauh dari kota kabupaten. Daerah yang...
MUSIM libur kenaikan kelas dan pascakelulusan sekolah di Bali selalu menghadirkan dua tontonan besar. Yang pertama, Pesta Kesenian Bali (PKB). Yang kedua, Seleksi Penerimaan Murid...
Bagi anak-anak, Rekasadana (Pergelaran) Karya Legendaris Maestro Wayan Berata yang dipersembahkan Sanggar atau Sekaa Gong Gita Bandana Praja, Banjar Belaluan Sadmerta, Desa Dangin...
SEBUAH teks sastra tidak pernah tumbuh sendirian. Agar sampai ke pembaca, ia hadir melalui banyak tangan: penerjemah yang memindahkan makna, editor yang mengolah naskah, literary...
SAAT menyaksikan The Mystical Kecak Dance Glow in The Dark: Hanoman Duta, Amfiteater Panggung Budaya, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Sabtu malam, 16 Juni 2026, yang ditampil...