Bulan Juni Milik Empat Presiden
“Tulislah tentang aku dengan tinta hitam atau tinta putihmu. Biarlah sejarah membaca dan menjawabnya” (Ir. Soekarno). PEMERINTAH Provinsi Bali sejak Gubernur Wayan Koster meray...
ADA satu kalimat yang beberapa tahun terakhir identik dengan Arsenal: trust the process. Kalimat itu awalnya lebih sering menjadi bahan olokan dibanding sumber optimisme. Arsenal beberapa kali gagal dalam perebutan gelar, bahkan menjadi runner-up liga selama tiga musim berturut-turut. Namun fans mereka terus mengulang satu hal: percaya proses.
Dan kesabaran itu bukan sebentar. Arsenal harus menunggu selama 22 tahun untuk kembali merasakan gelar liga. Dalam rentang waktu itu, mereka melewati pergantian generasi, kegagalan demi kegagalan, hingga menjadi bahan ejekan rival-rivalnya. Banyak fans kecewa, marah, bahkan kehilangan harapan. Namun sebagian tetap percaya bahwa klub mereka sedang membangun sesuatu yang pada akhirnya akan membuahkan hasil.
Di tengah budaya sepak bola modern yang menuntut hasil instan, kesabaran fans Arsenal terasa aneh. Banyak klub memecat pelatih hanya karena satu musim buruk. Namun Arsenal memilih bertahan dengan Mikel Arteta. Mereka memberi waktu, ruang, dan dukungan untuk proyek jangka panjang.
Menariknya, kepercayaan itu tidak lahir dari slogan kosong. Arsenal perlahan menunjukkan bahwa memang ada fondasi yang sedang dibangun. Rekrutmen pemain lebih terarah, identitas permainan mulai terlihat, pemain muda berkembang, dan kultur klub berubah. Bahkan ketika trofi belum datang, publik bisa melihat arah yang jelas. Fans Arsenal tidak percaya karena dijanjikan gelar setiap musim, tetapi karena mereka merasa klub benar-benar bergerak menuju sesuatu.
Dalam politik, logika yang sama sebenarnya berlaku. Publik tidak selalu menuntut hasil instan. Kadang masyarakat bersedia bersabar menghadapi proses panjang, selama mereka percaya bahwa proses itu nyata dan masuk akal. Di Kuba pasca-revolusi Fidel Castro, banyak rakyat tetap mendukung pemerintahan baru meski menghadapi tekanan ekonomi dan embargo karena mereka merasa sedang membangun kedaulatan nasional yang lebih adil melalui reforma agraria, pendidikan massal, layanan kesehatan universal, dan lain-lain.
Hal serupa terjadi di Venezuela pada awal era Hugo Chávez, ketika masyarakat kelas bawah rela memberi waktu bagi proyek politik Chávez karena merasa akhirnya ada negara yang berpihak kepada mereka. Program sosial seperti pendidikan gratis, subsidi pangan, dan layanan kesehatan untuk kelas bawah membangun loyalitas politik yang sangat kuat. Bahkan ketika inflasi mulai naik dan ekonomi menunjukkan masalah struktural, banyak pendukung tetap percaya bahwa proyek Chávez sedang “dikepung” elite lama dan tekanan asing, sehingga membutuhkan kesabaran dan solidaritas rakyat.
Kedua pengalaman itu menunjukkan bahwa masyarakat tidak selalu menuntut hasil instan. Mereka bisa menerima proses panjang, bahkan pengorbanan ekonomi, selama ada keyakinan bahwa pemerintah memiliki arah yang jelas, komunikasi yang jujur, dan keberpihakan yang nyata terhadap rakyat.
Pemerintahan Prabowo Subianto hari ini sebenarnya juga boleh memiliki visi besar dan target jangka panjang. Tidak ada yang salah dengan ambisi pertumbuhan ekonomi tinggi, Makan Bergizi Gratis, Koperasi Merah Putih atau program sosial berskala besar lainnya. Namun seperti Arsenal, visi panjang hanya akan dipercaya jika publik dapat melihat fondasi yang sedang dibangun dari hari ke hari.
Masalahnya, banyak masyarakat hari ini justru merasa jauh dari keyakinan tersebut. Pertanyaan mereka bukan lagi soal jargon besar tentang masa depan, melainkan soal kehidupan sehari-hari yang semakin berat: apakah harga kebutuhan pokok akan stabil? Apakah lapangan kerja benar-benar tersedia? Mengapa pemutusan hubungan kerja terus terjadi di berbagai sektor? Mengapa daya beli melemah sementara nilai tukar rupiah terhadap dolar terus mengalami tekanan?
Bagi rakyat biasa, pelemahan rupiah bukan sekadar angka ekonomi makro. Itu berarti harga barang naik, biaya hidup meningkat, dan rasa cemas terhadap masa depan semakin besar. Dalam situasi seperti ini, masyarakat membutuhkan lebih dari sekadar optimisme. Mereka ingin melihat arah kebijakan yang jelas dan meyakinkan.
Situasi itu diperumit oleh sejumlah persoalan eksternal dan politik luar negeri. Kontroversi terkait Board of Peace (BOP) serta perjanjian ART antara Amerika Serikat dan Indonesia memunculkan pertanyaan tentang posisi Indonesia di tengah rivalitas global. Namun isu-isu tersebut tidak dijelaskan secara memadai kepada publik. Pemerintah terlihat lebih sibuk membangun citra optimistis dibanding menerangkan risiko dan konsekuensi kebijakan secara terbuka.
Padahal kepercayaan publik tidak dibangun melalui slogan. Ia dibangun lewat konsistensi, keterbukaan, dan kemampuan menunjukkan progres yang nyata. Fans Arsenal bisa menerima kegagalan menjadi juara selama mereka melihat klub bergerak ke arah yang benar. Mereka melihat pola permainan, perkembangan pemain muda, dan keputusan-keputusan yang terasa masuk akal.
Pemerintah sebenarnya bisa belajar dari hal yang sama. Rakyat mungkin bersedia menunggu hasil besar, asal mereka melihat fondasi yang jelas dan merasa pemerintah memahami keresahan mereka. Karena pada akhirnya, trust the process bukan sekadar meminta publik untuk sabar. Ia adalah kemampuan menunjukkan bahwa proses itu benar-benar ada, berjalan, dan layak dipercaya.[T]
Penulis: Afgan Fadilla
Editor: Adnyana Ole
“Tulislah tentang aku dengan tinta hitam atau tinta putihmu. Biarlah sejarah membaca dan menjawabnya” (Ir. Soekarno). PEMERINTAH Provinsi Bali sejak Gubernur Wayan Koster meray...
īśāvāsyam idaṁ sarvaṁ yat kiñca jagatyāṁ jagat |tena tyaktena bhuñjīthā mā gṛdhaḥ kasyasvid dhanam || "Seluruh alam semesta ini, apa pun yang bergerak di dunia yang bergerak in...
ADA satu pemandangan yang hingga kini selalu mengusik. Seorang barista selesai meracik secangkir kopi, lalu menyadari ada kesalahan kecil. Mungkin ukuran gelasnya keliru, jenis su...
PADA tanggal 14 Juni 2026, saya mengikuti acara kolaborasi Grab Bali Nusra dengan Bali Book Party. Museum Pasifika Nusa Dua adalah lokasi acara diselenggarakan. Siang hari, ...
Kenapa jagat sosmed Bali semakin dijangkiti fenomena: Ngandang Nganjuh. Secara harfiah, istilah ini menggambarkan tindakan yang melintang (ngandang) dan mendorong atau memaksak...
PAGI saat Hari Suci Kuningan, sebagian keluarga sudah mengenakan pakaian adat sebelum fajar menyingsing. Sebagian lagi masih sibuk menata banten, memasak, atau menunggu anggota ke...
DI Desa Kembang Asri hiduplah seekor babi betina bernama Ica. Ia adalah babi kesayangan Made Subur. Ica tumbuh sehat dan jinak. Ia juga sangat menyayangi majikannya. Selain Ica...
KUCING aku seekor kucing yang memanjat jendelamukau penghuni yang selalu menutupnya,bersantai menenteng cangkir teh yang pekat. aku mengeong dan mengamuk, mendesis,mencakar-...
"Gemerlap lampu Manhattan tidak pernah mampu menggantikan cahaya seekor kunang-kunang." KALIMAT itu memang tidak pernah ditulis secara harfiah oleh Umar Kayam dalam cerpennya S...
DALAM sejarah musik populer abad ke-20, sedikit lagu yang mampu merangkum pengalaman eksistensial manusia dalam lirik sesederhana “Knockin’ on Heaven’s Door.” Ditulis oleh Bob Dyl...