Belajar Kesetiaan dari Anjing Bali
JANGAN mengaku setia kalau belum pelihara anjing bali. Jangan mengaku pecinta anjing kalau makan daging anjing. Jangan mengaku petugas peternakan kalau kerjanya membunuh anjing sem...
ADA satu kalimat yang beberapa tahun terakhir identik dengan Arsenal: trust the process. Kalimat itu awalnya lebih sering menjadi bahan olokan dibanding sumber optimisme. Arsenal beberapa kali gagal dalam perebutan gelar, bahkan menjadi runner-up liga selama tiga musim berturut-turut. Namun fans mereka terus mengulang satu hal: percaya proses.
Dan kesabaran itu bukan sebentar. Arsenal harus menunggu selama 22 tahun untuk kembali merasakan gelar liga. Dalam rentang waktu itu, mereka melewati pergantian generasi, kegagalan demi kegagalan, hingga menjadi bahan ejekan rival-rivalnya. Banyak fans kecewa, marah, bahkan kehilangan harapan. Namun sebagian tetap percaya bahwa klub mereka sedang membangun sesuatu yang pada akhirnya akan membuahkan hasil.
Di tengah budaya sepak bola modern yang menuntut hasil instan, kesabaran fans Arsenal terasa aneh. Banyak klub memecat pelatih hanya karena satu musim buruk. Namun Arsenal memilih bertahan dengan Mikel Arteta. Mereka memberi waktu, ruang, dan dukungan untuk proyek jangka panjang.
Menariknya, kepercayaan itu tidak lahir dari slogan kosong. Arsenal perlahan menunjukkan bahwa memang ada fondasi yang sedang dibangun. Rekrutmen pemain lebih terarah, identitas permainan mulai terlihat, pemain muda berkembang, dan kultur klub berubah. Bahkan ketika trofi belum datang, publik bisa melihat arah yang jelas. Fans Arsenal tidak percaya karena dijanjikan gelar setiap musim, tetapi karena mereka merasa klub benar-benar bergerak menuju sesuatu.
Dalam politik, logika yang sama sebenarnya berlaku. Publik tidak selalu menuntut hasil instan. Kadang masyarakat bersedia bersabar menghadapi proses panjang, selama mereka percaya bahwa proses itu nyata dan masuk akal. Di Kuba pasca-revolusi Fidel Castro, banyak rakyat tetap mendukung pemerintahan baru meski menghadapi tekanan ekonomi dan embargo karena mereka merasa sedang membangun kedaulatan nasional yang lebih adil melalui reforma agraria, pendidikan massal, layanan kesehatan universal, dan lain-lain.
Hal serupa terjadi di Venezuela pada awal era Hugo Chávez, ketika masyarakat kelas bawah rela memberi waktu bagi proyek politik Chávez karena merasa akhirnya ada negara yang berpihak kepada mereka. Program sosial seperti pendidikan gratis, subsidi pangan, dan layanan kesehatan untuk kelas bawah membangun loyalitas politik yang sangat kuat. Bahkan ketika inflasi mulai naik dan ekonomi menunjukkan masalah struktural, banyak pendukung tetap percaya bahwa proyek Chávez sedang “dikepung” elite lama dan tekanan asing, sehingga membutuhkan kesabaran dan solidaritas rakyat.
Kedua pengalaman itu menunjukkan bahwa masyarakat tidak selalu menuntut hasil instan. Mereka bisa menerima proses panjang, bahkan pengorbanan ekonomi, selama ada keyakinan bahwa pemerintah memiliki arah yang jelas, komunikasi yang jujur, dan keberpihakan yang nyata terhadap rakyat.
Pemerintahan Prabowo Subianto hari ini sebenarnya juga boleh memiliki visi besar dan target jangka panjang. Tidak ada yang salah dengan ambisi pertumbuhan ekonomi tinggi, Makan Bergizi Gratis, Koperasi Merah Putih atau program sosial berskala besar lainnya. Namun seperti Arsenal, visi panjang hanya akan dipercaya jika publik dapat melihat fondasi yang sedang dibangun dari hari ke hari.
Masalahnya, banyak masyarakat hari ini justru merasa jauh dari keyakinan tersebut. Pertanyaan mereka bukan lagi soal jargon besar tentang masa depan, melainkan soal kehidupan sehari-hari yang semakin berat: apakah harga kebutuhan pokok akan stabil? Apakah lapangan kerja benar-benar tersedia? Mengapa pemutusan hubungan kerja terus terjadi di berbagai sektor? Mengapa daya beli melemah sementara nilai tukar rupiah terhadap dolar terus mengalami tekanan?
Bagi rakyat biasa, pelemahan rupiah bukan sekadar angka ekonomi makro. Itu berarti harga barang naik, biaya hidup meningkat, dan rasa cemas terhadap masa depan semakin besar. Dalam situasi seperti ini, masyarakat membutuhkan lebih dari sekadar optimisme. Mereka ingin melihat arah kebijakan yang jelas dan meyakinkan.
Situasi itu diperumit oleh sejumlah persoalan eksternal dan politik luar negeri. Kontroversi terkait Board of Peace (BOP) serta perjanjian ART antara Amerika Serikat dan Indonesia memunculkan pertanyaan tentang posisi Indonesia di tengah rivalitas global. Namun isu-isu tersebut tidak dijelaskan secara memadai kepada publik. Pemerintah terlihat lebih sibuk membangun citra optimistis dibanding menerangkan risiko dan konsekuensi kebijakan secara terbuka.
Padahal kepercayaan publik tidak dibangun melalui slogan. Ia dibangun lewat konsistensi, keterbukaan, dan kemampuan menunjukkan progres yang nyata. Fans Arsenal bisa menerima kegagalan menjadi juara selama mereka melihat klub bergerak ke arah yang benar. Mereka melihat pola permainan, perkembangan pemain muda, dan keputusan-keputusan yang terasa masuk akal.
Pemerintah sebenarnya bisa belajar dari hal yang sama. Rakyat mungkin bersedia menunggu hasil besar, asal mereka melihat fondasi yang jelas dan merasa pemerintah memahami keresahan mereka. Karena pada akhirnya, trust the process bukan sekadar meminta publik untuk sabar. Ia adalah kemampuan menunjukkan bahwa proses itu benar-benar ada, berjalan, dan layak dipercaya.[T]
Penulis: Afgan Fadilla
Editor: Adnyana Ole
JANGAN mengaku setia kalau belum pelihara anjing bali. Jangan mengaku pecinta anjing kalau makan daging anjing. Jangan mengaku petugas peternakan kalau kerjanya membunuh anjing sem...
MAHASISWA baru, di mana pun, mau tak mau, akan mengawali “kuliah” dengan melakukan adaptasi dan pengenalan lingkungan kampus. “Kuliah” awal itu di Indonesia biasa disebut Ospek (Or...
TANGGAL tujuh belas Agustus adalah peringatan, perayaan, dan perenungan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia. Semua orang tahu itu. Pada tanggal 17 Agustus pada setiap tahunnya, sej...
KALAU seseorang dinilai bicara panjang lebar tetapi tak ada isinya, lazimnya orang itu disebut mengumbar omong kosong. Orang macam begini dianggap lebih buruk tinimbang seorang pen...
KAMPUS adalah tempat kaderisasi bagi para pemimpin bangsa dan negara. Di suatu negara kita mengenal adanya pemerintahan, pada umumnya pemerintahan diselenggarakan dan dijalankan ol...
“DENGAN melewati tahapan hidup dari Sudra menuju Wesya, dari Wesya menuju Satria, dari Satria menuju Brahmana, seseorang mencapai Moksha,” guru saya pernah berucap demikian suatu h...
UNTUK yang ketiga kalinya, saya menginjakkan kaki di Desa Mausamang Kiralela di Kecamatan Alor Timur, NTT. Bersahabat lebih dekat dengan desa ini membuat saya kecanduan untuk pergi...
ADA banyak cara merayakan Kemerdekaan. Seperti warga sekitar sungai Tukad Unda, Klungkung. Di situ, suasana 17 Agustus 2016 berbeda dari sebelumnya. Dari jembatan Tukad Unda terben...
Indonesia tanah airku Tanah tumpah darahku Di sanalah aku berdiri Jadi pandu ibuku ……. TIAP kali menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya atau mencermati teksnya, saya selalu te...
MUNGKIN banyak yang belum tahu bahwa salah satu putra Buleleng ikut berperan dalam terbentuknya Republik Indonesia. Namanya, Mr. I Gusti Ketut Pudja. Dia menjadi satu-satunya waki...