Rumor Demo 4 November - Provokasi Media dan Jurnalisme Damai
KEMARIN banyak yang bertanya, “Benar akan ada demonstrasi besar-besaran 4 November nanti?” “Demo penistaan agama di Jakarta?” “Isu yang diseret-seret ke ranah politik.” Bukan orang...
ADA satu kalimat yang beberapa tahun terakhir identik dengan Arsenal: trust the process. Kalimat itu awalnya lebih sering menjadi bahan olokan dibanding sumber optimisme. Arsenal beberapa kali gagal dalam perebutan gelar, bahkan menjadi runner-up liga selama tiga musim berturut-turut. Namun fans mereka terus mengulang satu hal: percaya proses.
Dan kesabaran itu bukan sebentar. Arsenal harus menunggu selama 22 tahun untuk kembali merasakan gelar liga. Dalam rentang waktu itu, mereka melewati pergantian generasi, kegagalan demi kegagalan, hingga menjadi bahan ejekan rival-rivalnya. Banyak fans kecewa, marah, bahkan kehilangan harapan. Namun sebagian tetap percaya bahwa klub mereka sedang membangun sesuatu yang pada akhirnya akan membuahkan hasil.
Di tengah budaya sepak bola modern yang menuntut hasil instan, kesabaran fans Arsenal terasa aneh. Banyak klub memecat pelatih hanya karena satu musim buruk. Namun Arsenal memilih bertahan dengan Mikel Arteta. Mereka memberi waktu, ruang, dan dukungan untuk proyek jangka panjang.
Menariknya, kepercayaan itu tidak lahir dari slogan kosong. Arsenal perlahan menunjukkan bahwa memang ada fondasi yang sedang dibangun. Rekrutmen pemain lebih terarah, identitas permainan mulai terlihat, pemain muda berkembang, dan kultur klub berubah. Bahkan ketika trofi belum datang, publik bisa melihat arah yang jelas. Fans Arsenal tidak percaya karena dijanjikan gelar setiap musim, tetapi karena mereka merasa klub benar-benar bergerak menuju sesuatu.
Dalam politik, logika yang sama sebenarnya berlaku. Publik tidak selalu menuntut hasil instan. Kadang masyarakat bersedia bersabar menghadapi proses panjang, selama mereka percaya bahwa proses itu nyata dan masuk akal. Di Kuba pasca-revolusi Fidel Castro, banyak rakyat tetap mendukung pemerintahan baru meski menghadapi tekanan ekonomi dan embargo karena mereka merasa sedang membangun kedaulatan nasional yang lebih adil melalui reforma agraria, pendidikan massal, layanan kesehatan universal, dan lain-lain.
Hal serupa terjadi di Venezuela pada awal era Hugo Chávez, ketika masyarakat kelas bawah rela memberi waktu bagi proyek politik Chávez karena merasa akhirnya ada negara yang berpihak kepada mereka. Program sosial seperti pendidikan gratis, subsidi pangan, dan layanan kesehatan untuk kelas bawah membangun loyalitas politik yang sangat kuat. Bahkan ketika inflasi mulai naik dan ekonomi menunjukkan masalah struktural, banyak pendukung tetap percaya bahwa proyek Chávez sedang “dikepung” elite lama dan tekanan asing, sehingga membutuhkan kesabaran dan solidaritas rakyat.
Kedua pengalaman itu menunjukkan bahwa masyarakat tidak selalu menuntut hasil instan. Mereka bisa menerima proses panjang, bahkan pengorbanan ekonomi, selama ada keyakinan bahwa pemerintah memiliki arah yang jelas, komunikasi yang jujur, dan keberpihakan yang nyata terhadap rakyat.
Pemerintahan Prabowo Subianto hari ini sebenarnya juga boleh memiliki visi besar dan target jangka panjang. Tidak ada yang salah dengan ambisi pertumbuhan ekonomi tinggi, Makan Bergizi Gratis, Koperasi Merah Putih atau program sosial berskala besar lainnya. Namun seperti Arsenal, visi panjang hanya akan dipercaya jika publik dapat melihat fondasi yang sedang dibangun dari hari ke hari.
Masalahnya, banyak masyarakat hari ini justru merasa jauh dari keyakinan tersebut. Pertanyaan mereka bukan lagi soal jargon besar tentang masa depan, melainkan soal kehidupan sehari-hari yang semakin berat: apakah harga kebutuhan pokok akan stabil? Apakah lapangan kerja benar-benar tersedia? Mengapa pemutusan hubungan kerja terus terjadi di berbagai sektor? Mengapa daya beli melemah sementara nilai tukar rupiah terhadap dolar terus mengalami tekanan?
Bagi rakyat biasa, pelemahan rupiah bukan sekadar angka ekonomi makro. Itu berarti harga barang naik, biaya hidup meningkat, dan rasa cemas terhadap masa depan semakin besar. Dalam situasi seperti ini, masyarakat membutuhkan lebih dari sekadar optimisme. Mereka ingin melihat arah kebijakan yang jelas dan meyakinkan.
Situasi itu diperumit oleh sejumlah persoalan eksternal dan politik luar negeri. Kontroversi terkait Board of Peace (BOP) serta perjanjian ART antara Amerika Serikat dan Indonesia memunculkan pertanyaan tentang posisi Indonesia di tengah rivalitas global. Namun isu-isu tersebut tidak dijelaskan secara memadai kepada publik. Pemerintah terlihat lebih sibuk membangun citra optimistis dibanding menerangkan risiko dan konsekuensi kebijakan secara terbuka.
Padahal kepercayaan publik tidak dibangun melalui slogan. Ia dibangun lewat konsistensi, keterbukaan, dan kemampuan menunjukkan progres yang nyata. Fans Arsenal bisa menerima kegagalan menjadi juara selama mereka melihat klub bergerak ke arah yang benar. Mereka melihat pola permainan, perkembangan pemain muda, dan keputusan-keputusan yang terasa masuk akal.
Pemerintah sebenarnya bisa belajar dari hal yang sama. Rakyat mungkin bersedia menunggu hasil besar, asal mereka melihat fondasi yang jelas dan merasa pemerintah memahami keresahan mereka. Karena pada akhirnya, trust the process bukan sekadar meminta publik untuk sabar. Ia adalah kemampuan menunjukkan bahwa proses itu benar-benar ada, berjalan, dan layak dipercaya.[T]
Penulis: Afgan Fadilla
Editor: Adnyana Ole
KEMARIN banyak yang bertanya, “Benar akan ada demonstrasi besar-besaran 4 November nanti?” “Demo penistaan agama di Jakarta?” “Isu yang diseret-seret ke ranah politik.” Bukan orang...
Hai Gess! Kenken Kabare, Gess? Nu inget nyoblos, Gess? Calon Tunggal di Buleleng jani, Gess. Memusuh jak KOTAK KOSONG, Gess. Musuh ngenah aluh ngelawan! Musuh sing ngenah, kaden al...
Sekilas MEA ASEAN sebagai pasar tunggal kemudian disebut Masyarakat Ekonomi Asean (MEA), seperti dimuat pada laman Kementerian Luar Negeri RI (www.kemlu.go.id), Selasa 17 Maret 20...
BELAJAR dari figur dan tokoh perempuan, itulah barangkali pesan utama dari buku kumpulan cerpen berbahasa Bali terbaru I Made Suarsa, “Luh-Luh”. Buku ini memuat 19 cerpen yang kese...
Dear para jomblo di muka Bumi ini, Aku adalah kawanmu yang masih setia. Menjomblo bersama kalian adalah sebuah anugerah tak terbatas. Terima kasih karena kalian juga masih setia...
TIDAK banyak yang mengira bahwa kini masyarakat Eropa ternyata malas dalam mempelajari bahasa asing. Meski perkembangan pendidikan di Eropa sangatlah pesat, siapa sangka bahwa mere...
Prodi Pendidikan Seni Rupa, FBS, Undiksha, Singaraja, menggelar pameran bertajuk “Qilin” (Membaca Sosial Budaya Warga Pecinan Kota Singaraja) di Neka Art Museum, Jalan Sanggingan C...
SARJANA. Bak mobil yang telah turun kastanya dari kebutuhan tersier menjadi kebutuhan primer. Sarjanapun, maknanya semakin memudar. Terlalu banyak sarjana modern yang merasa sal...
ANDA pernah jatuh cinta? Baiklah, yang sudah pernah jatuh cinta sebelumnya pasti akan mengerti tentang pembahasan kali ini. Jika belum pernah, sayang sekali, anda hanya akan bisa...
Cerpen: Komang AstiariAKU rindu kampung halaman. Aku rindu nenek. Kepergiannya masih menyakitkan bagiku, batinku belum mampu menerima dia sudah pergi, selamanya. Apakah Tuhan mengg...