SAAT gelisahku, saat bongkar-bongkar buku lama berdebu – saya justru tertarik drama-drama karya William Shakespeare.
Setelah mencoba memahami lakon Macbeth – selanjutnya saya membuka-buka lagi lakon King Lear. Buku terbitan Pustaka Jaya 1976 ini diterjemahkan oleh Trisno Sumardjo
Menurutku, King Lear adalah salah satu tragedi terbesar karya William Shakespeare. Karya ini menggambarkan kejatuhan seorang raja tua akibat kesombongan, pengkhianatan keluarga, dan kegilaan.
Ceritanya berpusat pada keputusan fatal Lear saat membagi kerajaannya berdasarkan pujian kosong, yang berujung pada kehancuran dirinya dan keluarganya.
King Lear, Raja Britania yang menua, ingin membagi kerajaannya kepada tiga putrinya: Goneril, Regan, dan Cordelia. Ia meminta mereka menyatakan seberapa besar cinta mereka kepadanya.
Goneril dan Regan memuji dengan kata-kata manis, sementara Cordelia menolak berpura-pura dan berkata ia mencintai ayahnya _“sebagaimana seharusnya seorang anak mencintai.”_ Lear marah, mengusir Cordelia, dan membagi kerajaan hanya kepada Goneril dan Regan.
Setelah berkuasa, Goneril dan Regan segera melemahkan ‘otoritas’ ayah mereka. Lear kehilangan ‘martabat’, ‘perlindungan’, dan akhirnya tersesat dalam badai di padang rumput, ditemani oleh Fool dan Kent (bangsawan setia yang menyamar).
Gloucester, seorang bangsawan, juga dikhianati oleh anaknya yang tidak sah, Edmund, yang menipu ayahnya agar percaya bahwa Edgar (anak sah) berusaha membunuhnya.
Gloucester dibutakan oleh Regan dan suaminya Cornwall, lalu ditolong oleh Edgar yang menyamar sebagai pengemis gila “Poor Tom.”
Cordelia kembali dengan pasukan Prancis untuk menyelamatkan ayahnya, tetapi mereka kalah. Lear dan Cordelia ditangkap. Intrik cinta dan kekuasaan membuat Goneril meracuni Regan, lalu bunuh diri.
Edmund terbunuh dalam duel melawan Edgar. Cordelia dieksekusi atas perintah Edmund, dan Lear mati karena kesedihan mendalam atas kehilangan putrinya.
Akhirnya, Kerajaan jatuh ke tangan Albany, Edgar, dan Kent, namun penuh duka dan penyesalan.
Karya ini ditulis sekitar tahun 1605–1606, saat Shakespeare berada di puncak karier tragedinya. King Lear, sering dibandingkan dengan Hamlet dan Macbeth dalam intensitas tragedi.
Saya tertarik karya ini, sebab King Lear sering dibaca sebagai refleksi tentang kekuasaan, usia tua, dan rapuhnya hubungan keluarga --- tema ini tetap aktual hingga kini.
Selanjutnya, mari kita lihat King Lear sebagai refleksi politik dan moral yang relevan dengan konteks sosial Indonesia.
Menurut saya, tragedi King Lear bukan sekadar kisah tentang seorang raja tua yang salah menilai cinta anak-anaknya. Ia adalah alegori tentang rapuhnya kekuasaan ketika dilepaskan dari kebijaksanaan moral.
Lear percaya bahwa kata-kata manis bisa menjadi ukuran kesetiaan, padahal justru di sanalah jebakan ambisi dan pengkhianatan bersembunyi. Kesalahan penilaian ini membuatnya kehilangan otoritas, martabat, bahkan akal sehat.
Dalam konteks politik, King Lear mengingatkan bahwa kekuasaan yang hanya bertumpu pada simbol dan retorika, mudah runtuh. Sama seperti Lear yang terpesona oleh pujian kosong, banyak pemimpin tergoda oleh popularitas semu, survei, atau pencitraan media.
Namun, ketika badai datang -- baik berupa krisis ekonomi, konflik sosial, atau bencana ekologis -- yang bertahan bukanlah kata-kata manis, melainkan kesetiaan sejati dan integritas moral.
Di Indonesia, tragedi ini bisa dibaca sebagai peringatan terhadap praktik politik yang mengabaikan suara jujur demi retorika populis.
Cordelia, yang menolak berpura-pura, melambangkan keberanian moral yang sering kali dikorbankan dalam arena politik.
Sementara Goneril dan Regan mencerminkan bagaimana ambisi pribadi bisa menghancurkan tatanan keluarga maupun negara.
Lebih jauh, King Lear juga berbicara tentang usia tua dan generasi. Lear kehilangan kendali justru ketika ia menyerahkan kekuasaan tanpa mekanisme yang adil.
Ini menurut saya, relevan dengan perdebatan tentang regenerasi politik di Indonesia : bagaimana kekuasaan ditransfer, bagaimana generasi baru mengambil peran, dan bagaimana integritas dijaga agar tidak jatuh ke tangan mereka yang hanya pandai bersandiwara.
Akhirnya, tragedi Lear menegaskan bahwa kekuasaan tanpa kebijaksanaan adalah jalan menuju kehancuran. Ini sangat menarik bagi saya, sebab mengajarkan bahwa - demokrasi, seperti sebuah keluarga, membutuhkan kejujuran, kesetiaan, dan keberanian untuk berkata benar, meski tidak populer. [T]
Setiap bertemu orang yang bertanya, “Sudah kerja? Kerja di mana sekarang?” Saya kesal. Selalu kesal. Bukan lantaran karena tak punya pekerjaan. Namun betapa bingung mesti dengan ap...
Judul Buku: Cupak Tanah – Enam Naskah Drama
Pengarang : Putu Satria Kusuma
Penerbit : Mahima Institute Indonesia
Tahun Terbit : 2015
Jumlah Halaman : xvi + 216 halaman
ISBN :978-60...
Lucu itu pembawaan, tak bisa dipaksakan. Tidak banyak orang yang fasih melucu. Kebanyakan orang gigih mencoba melucu, justru jadinya tidak lucu. Kalaupun kemudian ada yang tertawa,...
SETIAP zaman punya ciri khasnya masing-masing. Zaman kita saat ini adalah zaman ‘dunia maya’. Dan, setiap zaman selalu melahirkan sejumlah konflik. Zaman kita sekarang ini melahirk...
Bila ditanya, manakah karya sastra yang benar-benar mampu berbaur dengan segala hal, barangkali puisilah jawabannya. Sebagaimana ia diistilahkan dengan berbagai nama di setiap bida...
KETIKA ideologi komunis atau sosialis dikatakan bangkrut, lantas apa yang mendasari kedatanganku ke kuburan Karl Marx, lelaki yang identik dengan ideologi itu?
"Untuk memenuhi ras...
Bali memahami konflik dengan sangat bijaksana. Ia adalah konsep rwa binedha, pertentangan yang menjadi satu, pertentangan yang melahirkan dinamika dan keberlangsungan hidup.
Ada ru...
Judul Buku: EKSPLO(RA)SI TUBUH - ESAI-ESAI KURATORIALSENI RUPAPenulis: HardimanPenerbit: Mahima Institute IndonesiaTebal : viii + 307 ISBN : 978-602-18311-7-5 Buku Eksplo(ra)si Tub...
Judul Buku : Perempuan Tanpa Nama
Pengarang : Kadek Sonia Piscayanti
Penerbit : Mahima Institute Indonesia
Tahun Terbit : 2015
Jumlah Halaman : x + 288 halaman
ISBN :978-602-18311-...
Berbahagia sekali saya masih diberi kesempatan untuk bernapas, kemudian tadi pagi masih berak dengan lancar, dan menyusun pidato ini dengan keadaan suhu tubuh serta kejiwaan yang n...