Razia Warung? Ah, Saya Selalu Sukses Puasa Dikurung Warung
SAYA geli membaca berita tentang razia warung saat Ramadhan. Razia yang katanya demi “mengamankan” masyarakat saat bulan puasa. Ini dilakukan setiap tahun. Ada apa dengan warung? A...
ERA digital ini, kemarahan hampir selalu bergerak lebih cepat daripada proses memahami, seperti sebuah judul yang diadili sebelum karya itu sendiri selesai ditonton. Sebuah potongan narasi yang terburu-buru menjadi perkara moral sebelum sempat diperlakukan sebagai pintu masuk diskusi. Polemik seputar film dokumenter Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita memperlihatkan gejala tersebut secara gamblang.
Secara substantif film ini hadir untuk berbicara tentang kasus konkret terkait perubahan besar di Papua Selatan akibat ekspansi proyek, hilangnya hutan, tergesernya tanah adat, dan rapuhnya masa depan masyarakat adat yang bergantung pada ruang hidup itu. Kenyataannya, beberapa pihak menganggap bahwa film itu mungkin dapat memicu kegaduhan sosial. Nobar (nonton bareng) dibubarkan dengan alasan administrasi, dampak sosial, sensitivitas SARA, dan ketidakelokan judul.
Ya, judul film Pesta Babi dinilai “tidak elok”. Kita bisa melihat bagaimana asumsi terkait simbol berperan dalam polemik film dan pembubaran nobar yang baru-baru saja terjadi.
Reaksi semacam itu mengingatkan kita pada konsep moral panic dari Stanley Cohen. Bagi Cohen, kepanikan moral terjadi ketika suatu kondisi, peristiwa, orang, atau kelompok tampil sebagai ancaman terhadap nilai dan kepentingan sosial, lalu ancaman itu digambarkan secara stereotipik dan disederhanakan melalui media dan para penjaga moral. Pada titik ini kita perlu berhenti sejenak dan bertanya: apakah judul Pesta Babi hanya bersifat sensasional?
Kita harus tahu bahwa dalam tradisi Muyu-Mandobo, Atatbon atau pesta pasar babi merupakan praktik adat yang sakral, yang sangat berkaitan dengan ikatan persaudaraan, pertukaran sosial, dan keberlangsungan nilai budaya. Pada kehidupan masyarakat Papua, babi bukan semata hewan konsumsi, tetapi penanda kehormatan, solidaritas, penyelesaian konflik, dan relasi sosial. Dengan demikian, judul film tersebut merupakan jagat simbolik yang syarat makna dan sangat kontekstual. Tentu, membaca judul secara literal artinya sama saja dengan memotong seluruh dimensi antropologis yang menopang film ini.
Stuart Hall membantu kita memahami mengapa satu film yang sama bisa memunculkan bacaan yang sangat berbeda. Film Pesta Babi dapat dipahami sebagai kritik ekologis, sebagai kritik kolonialisme internal, sebagai ekspresi budaya, sebagai provokasi artistik, atau sebagai penghinaan—dan seluruh kemungkinan ini lahir dari perjumpaan antara teks dan posisi pembacanya. Demokrasi justru seharusnya merawat pluralitas bacaan ini, bukan menutupnya sejak awal, bahkan sebelum film itu sendiri selesai dihayati.
Sayangnya, yang terjadi dalam polemik ini adalah penyusutan ruang tafsir. Publik seperti didorong untuk percaya bahwa hanya ada satu pembacaan yang sah: film ini berbahaya. Simbol diperlakukan sebagai fakta literal. Provokasi artistik dibaca sebagai serangan langsung. Kritik terhadap kebijakan negara dianggap identik dengan ancaman pada kohesi sosial.
Akibatnya, yang lenyap bukan hanya kesempatan untuk menonton, tetapi juga kapasitas warga untuk membedakan antara membaca dan menyetujui, antara memahami dan membenarkan, antara membahas simbol dan menelannya mentah-mentah. Moral panic ini menunjukkan bahwa seolah-olah kita tidak cukup dewasa untuk berjumpa dengan karya kontroversial tanpa otomatis menjadi rusak olehnya. Pada situasi seperti ini, kita seharusnya tidak mundur dari fungsi utama sebagai penjaga jeda tafsir.
Nobar bukan sekadar ritus kolektif menatap layar, tetapi ia bisa menjadi laboratorium intelektual tempat gambar dibaca, argumen diuji, data dipertanyakan, dan simbol diperdebatkan. Ini menjadi sangat penting justru karena persoalan yang disentuh—Papua, hutan, tanah adat. Surga kecil yang jatuh ke bumi, kata Franky. [T]
Penulis: Lailatus Sholihah
Editor: Adnyana Ole
SAYA geli membaca berita tentang razia warung saat Ramadhan. Razia yang katanya demi “mengamankan” masyarakat saat bulan puasa. Ini dilakukan setiap tahun. Ada apa dengan warung? A...
JUDUL tulisan ini merupakan tema diskusi Kupang Pesta Monolog yang coba menggali daya vital teater dan perannya dalam kehidupan konkret (aktual). Bahwa teater sebagai seni...
DI Bali, lumrah bila di tempat atau kawasan yang disucikan, jika melihat sesuatu, umpamanya benda, hewan atau binatang (langka), orang sering menyebutnya “Due”. (“Due” dibaca seper...
“KINI banyak pengarang muda yang bagus. Banyak sekali,” kata Seno Gumira Ajidarma saat ngobrol singkat pada suatu pagi dengan tatkala.co di Honeymoon Guest House, Ubud, 6 Juni lalu...
SEBUAH analog yang saya anggap pas untuk menggambarkan budaya korupsi di Indonesia adalah tradisi buang sampah sembarangan. Meski lingkungan jadi kotor, menghilangkan rasa nyaman,...
HALO sahabat mahasiswa super di manapun kalian berada, selamat beraktivitas. Semoga semua hidup berbahagia dan dalam lindungan dosen yang maha buasnya. Sangat super sekali kita mas...
Buta paling buruk adalah buta politik. Dia yang buta politik adalah dia yang tidak mendengar, tidak berbicara, dan tidak berpartisipasi dalam peristiwa politik. Dia tidak tahu bahw...
DUNIA pendidikan, modal utama dalam perkembangan peradaban manusia. Inovasi-inovasi dalam ilmu pengetahuan dan teknologi mutakhir terlahir di dalamnya. Sejarah perubahan besar-bes...
PAWAI pembukaan Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-38 dibuka Presiden Joko Widodo alias Jokowi, di depan Monumen Bajra Sandi, Denpasar, Sabtu (11/6). Dan betapa senang mendengar Presiden...
Menikah itu sulit, tapi bercerai ternyata jauh lebih sulit. Saat mau menikah, yang penting hanya sedikit kemantapan hati, komitmen untuk sama susah sama senang, izin orang tua, sed...