Michel Platini Menuai Karma di Stade de France
Menjelang kick-off, sambil sesekali menatap langit-langit Stade de France, Antoine Griezmann khidmat menyanyikan La Marseillaise, ekspresi Christiano Ronaldo datar-datar saja melaf...
ERA digital ini, kemarahan hampir selalu bergerak lebih cepat daripada proses memahami, seperti sebuah judul yang diadili sebelum karya itu sendiri selesai ditonton. Sebuah potongan narasi yang terburu-buru menjadi perkara moral sebelum sempat diperlakukan sebagai pintu masuk diskusi. Polemik seputar film dokumenter Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita memperlihatkan gejala tersebut secara gamblang.
Secara substantif film ini hadir untuk berbicara tentang kasus konkret terkait perubahan besar di Papua Selatan akibat ekspansi proyek, hilangnya hutan, tergesernya tanah adat, dan rapuhnya masa depan masyarakat adat yang bergantung pada ruang hidup itu. Kenyataannya, beberapa pihak menganggap bahwa film itu mungkin dapat memicu kegaduhan sosial. Nobar (nonton bareng) dibubarkan dengan alasan administrasi, dampak sosial, sensitivitas SARA, dan ketidakelokan judul.
Ya, judul film Pesta Babi dinilai “tidak elok”. Kita bisa melihat bagaimana asumsi terkait simbol berperan dalam polemik film dan pembubaran nobar yang baru-baru saja terjadi.
Reaksi semacam itu mengingatkan kita pada konsep moral panic dari Stanley Cohen. Bagi Cohen, kepanikan moral terjadi ketika suatu kondisi, peristiwa, orang, atau kelompok tampil sebagai ancaman terhadap nilai dan kepentingan sosial, lalu ancaman itu digambarkan secara stereotipik dan disederhanakan melalui media dan para penjaga moral. Pada titik ini kita perlu berhenti sejenak dan bertanya: apakah judul Pesta Babi hanya bersifat sensasional?
Kita harus tahu bahwa dalam tradisi Muyu-Mandobo, Atatbon atau pesta pasar babi merupakan praktik adat yang sakral, yang sangat berkaitan dengan ikatan persaudaraan, pertukaran sosial, dan keberlangsungan nilai budaya. Pada kehidupan masyarakat Papua, babi bukan semata hewan konsumsi, tetapi penanda kehormatan, solidaritas, penyelesaian konflik, dan relasi sosial. Dengan demikian, judul film tersebut merupakan jagat simbolik yang syarat makna dan sangat kontekstual. Tentu, membaca judul secara literal artinya sama saja dengan memotong seluruh dimensi antropologis yang menopang film ini.
Stuart Hall membantu kita memahami mengapa satu film yang sama bisa memunculkan bacaan yang sangat berbeda. Film Pesta Babi dapat dipahami sebagai kritik ekologis, sebagai kritik kolonialisme internal, sebagai ekspresi budaya, sebagai provokasi artistik, atau sebagai penghinaan—dan seluruh kemungkinan ini lahir dari perjumpaan antara teks dan posisi pembacanya. Demokrasi justru seharusnya merawat pluralitas bacaan ini, bukan menutupnya sejak awal, bahkan sebelum film itu sendiri selesai dihayati.
Sayangnya, yang terjadi dalam polemik ini adalah penyusutan ruang tafsir. Publik seperti didorong untuk percaya bahwa hanya ada satu pembacaan yang sah: film ini berbahaya. Simbol diperlakukan sebagai fakta literal. Provokasi artistik dibaca sebagai serangan langsung. Kritik terhadap kebijakan negara dianggap identik dengan ancaman pada kohesi sosial.
Akibatnya, yang lenyap bukan hanya kesempatan untuk menonton, tetapi juga kapasitas warga untuk membedakan antara membaca dan menyetujui, antara memahami dan membenarkan, antara membahas simbol dan menelannya mentah-mentah. Moral panic ini menunjukkan bahwa seolah-olah kita tidak cukup dewasa untuk berjumpa dengan karya kontroversial tanpa otomatis menjadi rusak olehnya. Pada situasi seperti ini, kita seharusnya tidak mundur dari fungsi utama sebagai penjaga jeda tafsir.
Nobar bukan sekadar ritus kolektif menatap layar, tetapi ia bisa menjadi laboratorium intelektual tempat gambar dibaca, argumen diuji, data dipertanyakan, dan simbol diperdebatkan. Ini menjadi sangat penting justru karena persoalan yang disentuh—Papua, hutan, tanah adat. Surga kecil yang jatuh ke bumi, kata Franky. [T]
Penulis: Lailatus Sholihah
Editor: Adnyana Ole
Menjelang kick-off, sambil sesekali menatap langit-langit Stade de France, Antoine Griezmann khidmat menyanyikan La Marseillaise, ekspresi Christiano Ronaldo datar-datar saja melaf...
MASIH ingat dulu orang tua kita sering menasehati dan melarang agar tidak duduk di bantal yang ada di tempat tidur. Jika hal itu dilakukan konon bisa membuat bisulan atau dalam ba...
Judul Film: Petani Terakhir # Sutradara: Dwitra J. Ariana # Produser: Maria Ekaristi & Agung Bawantara # Produksi: Sanggar Siap Selem, 2016. PERMASALAHAN kehidupan petani di In...
DI Bali, selama berabad-abad, seni-seni yang berakar pada tradisi, terus lahir. Dan tentu saja sangat beragam. Jaman dulu seni tak hanya lahir dari tangan seniman karawitan seperti...
Pelawak drama gong, I Wayan Tarma (62) yang terkenal dengan nama Dolar, meninggal Sabtu (9/7) sekitar pukul 05.30 Wita. Ia meninggal ketika seni drama gong yang melambungkan namany...
DNA literasi berbangsa terbentuk sungguh unik sejak dulu kala. Nenek moyang bangsa Indonesia merupakan penutur andal di dunia. Ini dibuktikan dengan adanya beragam cerita rakyat da...
TRADISI adalah perayaan kebersamaan. Juga di Bali. Untuk menjaga kebersamaan nyama Bali mempertahankan sekaligus tetap merayakan tradisi di era digital ini. Sebut saja tradisi magi...
GELIAT seni di Bangkalan, Pulau Madura, Jawa Timur, kembali semarak. Di bulan ramadhan ini gaung kegiatannya sampai merambah ke Desa Arosbaya. Seperti yang terjadi Minggu (3/7). Se...
PERADABAN dunia mengenal sedikit orang hebat. Einstein, Newton, Galileo, adalah manusia-manusia hebat, seperti juga Napoleon, Socrates, Machiavelli, Karl Marx, Adam Smith, Shakespe...
UNGKAPAN “apalah artinya sebuah nama”, bagi saya memiliki makna kebalikannya. Dalam realitas budaya dan adat, nama memiliki banyak arti dan makna, mulai dari yang sederhana hingg...