Ketika geguritan Dwijendra Stawa dan Astapaka Stawa ditembangkan, suasana sore itu berubah menjadi hening. Tanpa tersadari, orang-orang yang duduk sejak sore merapatkan kedua belah telapak tangannya di depan dada, dan ujung kedua ibu jari dipertemukan. Hujan yang mengguyur perlahan mereda, seakan memberikan alunan lembut menyentuh telinga yang datang sejak sore. Beberapa diantaranya masih ada yang menyapa para tamu hingga menyuguhkan hidangan selamat datang.
Lantunan geguritan itulah sebagai penanda dimulainya acara mengenang 10 tahun kepergian Ida Pedanda Gede Made Gunung bertempat di Pasraman Yogadhiparamaguhya Bali, Banjar Tengah, Desa Blahbatuh, Gianyar, Minggu 17 Mei 2026 sore. Acara bertajuk “Patinget Lepas Ida Betara Lingga (Ida Pedanda Gede Made Gunung) itu dihadiri oleh keluarga besar pasraman, para sulinggih, pemangku, hingga masyarakat umum yang mengenakan busana adat bernuansa putih.
Ida bagus Made Purwita Suamen, Ketua Umum Yayasan Pasraman Yogadhiparamaguhya | Foto: tatkala.co/Budarsana
Petinget Lepas Ida Bhatara Lingga itu menjadi momentum memperkuat pelestarian sastra suci, lontar, dan nilai spiritual Hindu Bali bagi generasi muda. Acara tersebut dirangkai dengan bedah buku geguritan yang mengisahkan perjalanan spiritual Ida Pedanda Gede Made Gunung. Buku yang belum berisi judul itu, dibedah oleh Ida Pedanda Gde Putra Pidada, sulinggih dari Gria Pidada Klungkung yang juga akademisi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana.
Buku yang merupakan kumpulan geguritan karya Ida Pedanda Gede Made Gunung itu memuat 508 pupuh berisi ajaran agama, nilai kehidupan, hingga refleksi sosial spiritual masyarakat Bali. Sebelum buku geguritan itu dibedah secara tuntas, tiga orang Penyuluh Bahasa Bali di Kabupaten Gianyar mengawali dengan manembangkan beberapa pupuh yang ada.
Mereka adalah Ni Wayan Miani, S.Pd. dan Ni Wayan Juliantini, S.Pd. yang bertugas sebagai panembang, lalu I Wayan Sumarka, S.Pd. yang bertugas sebagai pangartos. Bagian awal, Wayan Miani manembangkan pada (bait) 1 dengan menggunakan Pupuh Durma. Julianti kemudian manembangkan geguritan pada (bait) 223 menggunakan Pupuh Pangkur. Pada bagian penutup yang manembangkan pada (bait) 504 menggunakan Pupuh Maskumambang dan manembangkan pada (bait) 506 menggunakan Pupuh Ginanti.
Bedah Buku Karya Ida Pedanda Gede Made Gunung | Foto: tatkala.co/Budarsana
Setelah ditembangkan, geguritan karya Ida Pedanda Gede Made Gunung itu kemudian dibedah oleh Ida Pedanda Gde Putra Pidada, sulinggih dari Gria Pidada Klungkung yang juga akademisi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana. Kumpulan karya tersebut memuat sebanyak 508 pupuh berisi ajaran agama, nilai kehidupan, hingga refleksi sosial spiritual masyarakat Bali. Pada ksemeatn itu pula, buku geguritan yang belum ada judul itu, kemudian diberi judul Paparikan Dharma Yatra Ida Bhatara Sakti Wawu Rauh.
Ida Pedanda Gde Putra Pidada memaparkan, kumpulan geguritan tersebut sesungguhnya merupakan sebuah peparikan yang bersumber dari lontar Dwijendra Tatwa dan Paniti Gama Tirta Pawitra. Dari lontar kedua itu kemudian lahir pemikiran tentang Hindu Dresta Bali—ajaran yang tumbuh dari perjalanan sejarah dan kebudayaan Bali sendiri.
Setelah runtuhnya Majapahit, Ida Danghyang Dwijendra membawa ajaran spiritual ke Bali untuk dimurnikan dan dijadikan landasan kehidupan masyarakat Bali yang bernapaskan Hindu. Konsep itu kemudian melahirkan gagasan Padma Bhuwana, simbol keseimbangan dan kesatuan spiritual Bali, dengan Pura Besakih sebagai pusatnya. “Warisan spiritual ini tidak boleh dicampuri kepentingan kelompok, kebencian, atau agenda tertentu. Karena ini adalah pemersatu masyarakat Bali,” ucapnya.
Ida Pedanda Gde Putra Pidada membedah buku | Foto: tatkala.co/Budarsana
Ida Pedanda Gde Putra Pidada menegaskan, inti ajaran Ida Bhatara Lingga Ida Pedanda Gede Made Gunung bukan sekadar ritual, melainkan menjaga harmoni antara manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam semesta. Ancaman terbesar Bali hari ini adalah hilangnya keseimbangan akibat pembangunan yang tidak selaras dengan nilai spiritual dan kelestarian alam.
Dengan kesucian dan kemurnian spiritual, manusia diharapkan mampu menjaga bumi, tanah air, dan alam semesta. Konsep keseimbangan ini mencakup hubungan vertikal maupun horizontal—antara manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam. Semua itu menjadi bagian dari karakter khas Hindu Dresta Bali yang berbeda dengan tradisi Hindu di tempat lain, karena dibentuk oleh kondisi alam, budaya, dan kehidupan Bali sendiri. “Agama itu ibarat air. Ditempatkan di gelas berbeda akan tampak berbeda, tetapi esensinya tetap sama,” ujar Ida Pedanda Gde Pidada.
Ketua Umum Yayasan Pasraman Yogadhiparamaguhya Bali, Ida Bagus Made Purwita Suamem SS MSi, mengatakan peringatan tersebut bukan sekadar mengenang sosok sulinggih, melainkan juga menjaga kesinambungan ajaran spiritual dan budaya Bali. “Peringatan ini menjadi bentuk bhakti dan rasa tresna kepada Ida Bhatara Lingga sekaligus upaya menanamkan nilai spiritual kepada generasi penerus melalui karya sastra dan geguritan,” sebutnya.
Geguritan karya Ida Pedanda Gede Made Gunung mencapai sekitar 508 bait. Selain bernilai sastra, karya tersebut memuat ajaran spiritual dan filosofi Hindu yang dapat menjadi pedoman kehidupan umat. Warisan pemikiran dan karya beliau kini diteruskan putranya, Ida Bagus Made Purwita Suamem, yang aktif merawat ratusan koleksi lontar di Gria Purnawati, Desa Blahbatuh. Selain bertugas sebagai ASN di Dinas Kebudayaan Bali, Purwita juga terlibat dalam pelestarian bahasa, sastra, dan konservasi naskah kuno bersama pemerintah.
Semasa walaka, Ida Pedanda Gede Made Gunung bernama Ida Bagus Gede Suamem. Beliau lahir di Gianyar pada 31 Desember 1952 dan wafat pada 18 Mei 2016. Sebelum menjadi sulinggih, ia sempat mengabdi sebagai petugas PLKB Gianyar sejak 1972. Sosoknya dikenal luas di Bali lewat dharma wacana yang disampaikan dengan pendekatan humor, sehingga ajaran agama terasa dekat dan mudah diterima masyarakat lintas kalangan.
Penyuluh Bahasa Bali di Gianyar tembangkan gehuritan karaya Ida Pedanda Made Gunung | Foto: tatkala.co/Budarsana
Pelestarian lontar dan sastra keagamaan dinilai menjadi bagian penting menjaga identitas budaya Bali di tengah perkembangan zaman. Melalui Petinget Lepas ini, keluarga besar dan pasraman berharap ajaran serta keteladanan Ida Pedanda Gede Made Gunung tetap hidup dan menjadi sumber pembelajaran lintas generasi. [T]
Sebuah Slide yang Mengusik Kesadaran
TERKADANG, inspirasi lahir bukan dari buku tebal atau hasil penelitian yang rumit, melainkan dari sebuah kalimat sederhana. Itulah yang say...
ETIKA lingkungan merupakan suatu perspektif moral yang menempatkan alam sebagai entitas yang memiliki nilai intrinsik, bukan sekadar objek eksploitasi untuk memenuhi kepentingan m...
SETELAH sempat absen pada tahun 2025, Festival Cerita Rasa di Desa Tukadaya, Jembrana kembali hadir dengan membubuhkan angka 0.4, pada akhir tajuknya Festival Cerita Rasa 0.4. Ang...
PERJALANAN nasib hidup dan mati cerita rakyat ditentukan oleh sikap pemiliknya. Cerita rakyat pun dengan beberapa alasan dikubur. Hal ini dialami oleh banyak sekali cerita rakyat...
TIGA buku tersusun rapi di atas meja. Sampulnya berbeda-beda, tetapi lahir dari ruang akademik yang sama. Ada ‘Lawaté Surup Ring Balé Gedé: Pupulan Puisi Bali Anyar’, ‘Geguritan D...
MENDAPAT amanah dari warganya, Suyadi merasa bangga dan terharu menjadi kepala desa. Jabatan yang membuatnya harus memimpin daerah yang agak jauh dari kota kabupaten. Daerah yang...
MUSIM libur kenaikan kelas dan pascakelulusan sekolah di Bali selalu menghadirkan dua tontonan besar. Yang pertama, Pesta Kesenian Bali (PKB). Yang kedua, Seleksi Penerimaan Murid...
Bagi anak-anak, Rekasadana (Pergelaran) Karya Legendaris Maestro Wayan Berata yang dipersembahkan Sanggar atau Sekaa Gong Gita Bandana Praja, Banjar Belaluan Sadmerta, Desa Dangin...
SEBUAH teks sastra tidak pernah tumbuh sendirian. Agar sampai ke pembaca, ia hadir melalui banyak tangan: penerjemah yang memindahkan makna, editor yang mengolah naskah, literary...
SAAT menyaksikan The Mystical Kecak Dance Glow in The Dark: Hanoman Duta, Amfiteater Panggung Budaya, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Sabtu malam, 16 Juni 2026, yang ditampil...