Pesta Kesenian Bali: Keroncong Tidak Mati
KETIKA tubuh meragang nyawa, dalam perukan persada. Tinggal nafas yang masih tersisa. Kau pekikkan merdeka. Bait lagu Puji Bagi Pahlawan ciptaan Basuki itu mengalun dalam sunyi. La...
PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC) dalam mengelola krisis di panggung. Sebagai jembatan komunikasi, seorang MC seharusnya memiliki kemampuan mendengarkan yang tajam terhadap seluruh pihak, terutama ketika tidak ada moderator yang bertindak sebagai penengah.
Sangat disayangkan ketika pernyataan seperti "sepertinya hanya perasaan adik-adik saja" terlontar, karena kalimat tersebut justru mencederai prinsip keadilan bagi peserta yang merasa dirugikan. MC semestinya hadir sebagai pemberi solusi yang berkeadilan, misalnya dengan menyarankan peninjauan ulang rekaman guna memastikan kebenaran secara objektif. Mengabaikan keberatan peserta dengan sikap defensif hanya akan merusak kredibilitas institusi, diri sendiri, serta mencederai integritas jalannya acara secara keseluruhan.
Sebagai akademisi yang juga berkecimpung secara otodidak sebagai MC sejak bangku sekolah, saya memahami bahwa jam terbang harus selaras dengan kepekaan rasa. Pengalaman saya menangani berbagai acara resmi maupun tidak resmi mengajarkan bahwa kemampuan mendengarkan dan menjadi penengah yang bijak adalah kompetensi absolut di atas panggung.
MC bukan sekadar leading the flow, melainkan harus mampu menjadi "mata dan telinga" yang memastikan setiap pihak merasa didengarkan. Hal ini sejalan dengan teori Interpersonal Communication yang menekankan pentingnya empati untuk membangun kesepahaman antara komunikator dan komunikan. Tanpa empati dan kemampuan mendengarkan, seorang MC hanyalah seorang pembicara searah yang kehilangan esensi sebagai fasilitator komunikasi.
Kesadaran akan keterbatasan ilmu membuat saya selalu selektif dalam memilah acara serta disiplin dalam melakukan riset mendalam jika tema acara terasa asing. Langkah kehati-hatian ini adalah bentuk tanggung jawab profesional untuk meminimalisir kesalahan fatal yang dapat merugikan penyelenggara maupun audiens.
Saya pribadi percaya bahwa bekal wawasan yang luas harus terus diperbarui, itulah sebabnya saya berencana mengambil sertifikasi kompetensi di bidang ini untuk memvalidasi kemampuan praktis saya. Riset mandiri dan pemetaan poin penting sebelum naik panggung merupakan kewajiban moral bagi setiap pemandu acara untuk membangun otoritas yang kredibel. Penguasaan materi bukan hanya soal teknis bicara, tetapi fondasi untuk mengambil keputusan bijak saat dinamika di lapangan mulai memanas.
Manajemen risiko melalui deteksi dini terhadap kemungkinan terburuk (worst-case scenario) adalah langkah preventif yang sering kali diabaikan oleh banyak pemandu acara. Seorang MC yang handal harus mampu memetakan potensi konflik, gangguan teknis, hingga ketidakpuasan peserta sejak tahap persiapan atau briefing.
Dengan memikirkan solusi alternatif sebelum masalah muncul, MC dapat bertindak cepat dan tepat tanpa harus mengeluarkan pernyataan yang bersifat spekulatif atau meremehkan. Sikap untuk tidak pernah merasa "cukup baik" dan terus mengembangkan diri menjadi bekal mendasar agar kita tetap tangguh menghadapi hal-hal tidak terduga. Kemampuan mengelola krisis secara tenang menunjukkan kedewasaan emosional seorang komunikator profesional dalam menjaga kondisi acara tetap kondusif hingga akhir.
Pada akhirnya, tanggung jawab moral seorang MC adalah memastikan marwah dan integritas acara tetap terjaga melalui komunikasi yang santun dan solutif. Keberpihakan MC seharusnya hanya pada kebenaran prosedur, bukan pada ego pribadi, segelintir kelompok, ataupun keinginan untuk sekadar menuntaskan durasi acara. Menghargai aspirasi peserta dengan memberikan ruang verifikasi adalah bentuk penghormatan tertinggi terhadap nilai-nilai edukasi. [T]
Penulis: Fitria Hani Aprina
Editor: Adnyana Ole
KETIKA tubuh meragang nyawa, dalam perukan persada. Tinggal nafas yang masih tersisa. Kau pekikkan merdeka. Bait lagu Puji Bagi Pahlawan ciptaan Basuki itu mengalun dalam sunyi. La...
Apakah yang paling membanggakan dari makhluk yang bernama manusia? “Kreativitas.” Itulah jawabnya. Manusia menjadi “lebih” ketimbang binatang karena memiliki ruang yang sangat luas...
Sebagai orang yang tidak berkompeten dalam bidang bahasa Bali, mungkin saya akan tulah idup karena apa yang akan saya paparkan barangkali banyak bohongnya. Saya bukan orang yang la...
Kaohsiung adalah kota terbesar kedua di Taiwan setelah Taipe. Di kota itulah saya berada, awal Juni 2016. Seperti sebuah mimpi, dari Singaraja – kota tempat tinggal saya - segalany...
FENOMENA The Great Pacific Garbage Patch menjadi bukti betapa kita sebagai manusia telah membunuh bumi dengan plastik. Miliaran ton sampah plastik terapung di laut, membuat jutaan...
KEMISKINAN, di Bali, bisa berarti sebuah upacara. Warga Desa Trunyan di Desa Kintamani, Kabupaten Bangli, sebelum berperilaku menjadi manusia miskin melakukan ritus kecil: membakar...
JIKA hobi facebook-an, singgahlah sesekali ke halaman Punk Kwala Ngibur. Bisa kita nikmati komik berbahasa Bali dari tingkat paling kepara sampai sor se-singgih-singgihnya. Tulisan...
MUNGKIN saya sudah terlambat menguraikan hal ini. Karena saat ini sudah makin banyak masyarakat yang menolak reklamasi Teluk Benoa. Namun dalam konteks ini, saya meyakini bahwa leb...
Bahasa menunjukkan bangsa. Itu peribahasa yang akrab saya dengar di Sekolah Dasar dulu yang bertahun-tahun kemudian saya amini kebenarannya. Kultur sebuah bangsa, seturut makna per...
Judul Buku : Badriyah Pengarang : Ayu Weda Penerbit : Gambang Buku Budaya Tahun Terbit : Maret 2016 Jumlah Halaman : xiv + 207 halaman ISBN : 978-602-6776-15-0 SELURUH cerita dala...