Untuk Perbaiki Bali, “Ngiring Sareng-sareng Dados Balian”
“Ngiring je sareng-sareng dados Balian,” kata teman saya minggu lalu, saat ngopi di bawah rindang pohon bambu, siang di belakang rumahnya. Mimih, ucap saya spontan. “Kenapa harus...
PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC) dalam mengelola krisis di panggung. Sebagai jembatan komunikasi, seorang MC seharusnya memiliki kemampuan mendengarkan yang tajam terhadap seluruh pihak, terutama ketika tidak ada moderator yang bertindak sebagai penengah.
Sangat disayangkan ketika pernyataan seperti "sepertinya hanya perasaan adik-adik saja" terlontar, karena kalimat tersebut justru mencederai prinsip keadilan bagi peserta yang merasa dirugikan. MC semestinya hadir sebagai pemberi solusi yang berkeadilan, misalnya dengan menyarankan peninjauan ulang rekaman guna memastikan kebenaran secara objektif. Mengabaikan keberatan peserta dengan sikap defensif hanya akan merusak kredibilitas institusi, diri sendiri, serta mencederai integritas jalannya acara secara keseluruhan.
Sebagai akademisi yang juga berkecimpung secara otodidak sebagai MC sejak bangku sekolah, saya memahami bahwa jam terbang harus selaras dengan kepekaan rasa. Pengalaman saya menangani berbagai acara resmi maupun tidak resmi mengajarkan bahwa kemampuan mendengarkan dan menjadi penengah yang bijak adalah kompetensi absolut di atas panggung.
MC bukan sekadar leading the flow, melainkan harus mampu menjadi "mata dan telinga" yang memastikan setiap pihak merasa didengarkan. Hal ini sejalan dengan teori Interpersonal Communication yang menekankan pentingnya empati untuk membangun kesepahaman antara komunikator dan komunikan. Tanpa empati dan kemampuan mendengarkan, seorang MC hanyalah seorang pembicara searah yang kehilangan esensi sebagai fasilitator komunikasi.
Kesadaran akan keterbatasan ilmu membuat saya selalu selektif dalam memilah acara serta disiplin dalam melakukan riset mendalam jika tema acara terasa asing. Langkah kehati-hatian ini adalah bentuk tanggung jawab profesional untuk meminimalisir kesalahan fatal yang dapat merugikan penyelenggara maupun audiens.
Saya pribadi percaya bahwa bekal wawasan yang luas harus terus diperbarui, itulah sebabnya saya berencana mengambil sertifikasi kompetensi di bidang ini untuk memvalidasi kemampuan praktis saya. Riset mandiri dan pemetaan poin penting sebelum naik panggung merupakan kewajiban moral bagi setiap pemandu acara untuk membangun otoritas yang kredibel. Penguasaan materi bukan hanya soal teknis bicara, tetapi fondasi untuk mengambil keputusan bijak saat dinamika di lapangan mulai memanas.
Manajemen risiko melalui deteksi dini terhadap kemungkinan terburuk (worst-case scenario) adalah langkah preventif yang sering kali diabaikan oleh banyak pemandu acara. Seorang MC yang handal harus mampu memetakan potensi konflik, gangguan teknis, hingga ketidakpuasan peserta sejak tahap persiapan atau briefing.
Dengan memikirkan solusi alternatif sebelum masalah muncul, MC dapat bertindak cepat dan tepat tanpa harus mengeluarkan pernyataan yang bersifat spekulatif atau meremehkan. Sikap untuk tidak pernah merasa "cukup baik" dan terus mengembangkan diri menjadi bekal mendasar agar kita tetap tangguh menghadapi hal-hal tidak terduga. Kemampuan mengelola krisis secara tenang menunjukkan kedewasaan emosional seorang komunikator profesional dalam menjaga kondisi acara tetap kondusif hingga akhir.
Pada akhirnya, tanggung jawab moral seorang MC adalah memastikan marwah dan integritas acara tetap terjaga melalui komunikasi yang santun dan solutif. Keberpihakan MC seharusnya hanya pada kebenaran prosedur, bukan pada ego pribadi, segelintir kelompok, ataupun keinginan untuk sekadar menuntaskan durasi acara. Menghargai aspirasi peserta dengan memberikan ruang verifikasi adalah bentuk penghormatan tertinggi terhadap nilai-nilai edukasi. [T]
Penulis: Fitria Hani Aprina
Editor: Adnyana Ole
“Ngiring je sareng-sareng dados Balian,” kata teman saya minggu lalu, saat ngopi di bawah rindang pohon bambu, siang di belakang rumahnya. Mimih, ucap saya spontan. “Kenapa harus...
TAHUN 1920-an sampai tahun 1950-an bisa dikatakan masa gemilang intelektualitas Buleleng, Bali Utara. Pada masa tersebut intelektual Buleleng bermunculan dan menerbitkan berbagai j...
MENJADI berbeda bukanlah suatu kesalahan karena itu merupakan anugrah dari Tuhan. Manusia diciptakan berbeda-beda oleh Yang Kuasa. Ketika seorang anak berbeda dari orang di sekitar...
Cerpen: Yusna Safitri BINTANG, pantai, dan kamu: tiga hal kesukaanku. Kencangnya angin malam tak membuatku malas untuk beranjak dari tempat tidurku. “22.30 WITA” “Pantai yuk,” aja...
Judul: Montase (Kumpulan Puisi) # Penulis: Wayan Jengki Sunarta # Penerbit: Pustaka Ekspresi # Tahun: 2016 # ISBN: 978-602-7610-73-6 PUISI bisa jadi apapun, apapun bisa jadi puisi....
DI KAMAR BLUES MASIH MENGALUN Dulu kita tak pernah percaya cinta "Cinta taik kucing!" katamu sambil mengacungkan botol bir ke langit memaki dia yang telah pergi Kini pun kita ta...
SEJUJURNYA, saya tidak tiba-tiba pandai menulis. Dari jalur genetik, tidak satu pun di antara kedua orang tua memiliki profesi penulis. Ayah seorang guru olah raga yang menjadi per...
BERKARYA hingga akhir hayat. Hal itulah yang dilakukan perupa Tedja Suminar. Perupa yang banyak memberikan pengaruh bagi ranah seni rupa di Bali dan Jawa Timur itu, tetap berkarya...
MARILAH kita tonton proses Pilkada sebagai sebuah seni pertunjukan drama. Kita mulai dari prosesi pendaftaran pasangan calon kepala daerah ke Komisi Pemilihan Umum (KPU) 21-23 Sept...
Apakah aksara bisa dipentaskan? Naskah teater untuk generasi masakini berhadapan langsung dengan aplikasi bahasa digital maupun teknologi media. Ini memiliki kemungkinan efek balik...