Bulan Juni Milik Empat Presiden
“Tulislah tentang aku dengan tinta hitam atau tinta putihmu. Biarlah sejarah membaca dan menjawabnya” (Ir. Soekarno). PEMERINTAH Provinsi Bali sejak Gubernur Wayan Koster meray...
— Mengenang Kembali Pohon Pesisir yang Dimuliakan Danghyang Nirartha
Oleh: Sugi Lanus
Di sepanjang garis pantai pulau Serangan dan pantai-pantai di Bali dimuliakan dan dilindungi pohon Pidada/Pedada/Prapat — inilah yang secara umum dikenal sebagai 'mangrove'.
Pidada/Pedada/Prapat yang menjadi bagian hutan mangrove, tegak berdiri, tapi seringkali terabaikan, tidak dipahami nilai kekuatan alamiahnya dan spiritualnya.
Bagi mata awam, ia mungkin hanyalah sekadar penjaga pantai dari genus Sonneratia. Namun, bagi masyarakat Hindu di Bali, Pidada adalah simbol kesucian pesisir yang kedudukannya sejajar dengan pohon Beringin di daratan.
Dalam kosmologi Bali, harmoni jagat dibangun di atas poros Kaja (gunung/ giri) dan Kelod (laut/ segara). Kedua titik ini memiliki simbol penjaga spiritualnya masing-masing. Jika di wilayah Kaja atau pusat desa kita mengenal pohon Beringin sebagai paku bumi yang disucikan, maka di wilayah Kelod, Pidada adalah representasinya. Pohon ini disamakan sebagai "Beringin Laut".
Memahami lokasi tumbuhnya beringin dan pidada berarti memahami bagaimana leluhur Bali memetakan representasi alam semesta secara utuh. Keberadaannya bukan sekadar vegetasi, melainkan pembatas suci yang menjaga keseimbangan antara darat dan laut.
Kesucian Pidada bukanlah sebuah mitos tanpa akar sejarah. Hubungan spiritual pohon ini memiliki benang merah yang kuat dengan tokoh besar abad ke 15-16 Danghyang Nirartha (Ida Peranda Sakti Wau Rauh). Beliau adalah tokoh sentral yang merevitalisasi tradisi Hindu Jawa Kuno ke Bali. Begitu sakralnya nilai kesucian yang pohon mangrove ini, membuat nama Pidada diabdikan menjadi salah satu nama garis keturunan beliau yang bermukim di Griya Pidada. Nama ini melekat dengan salah satu trah Danghyang Nirartha yaitu Pidada sampai kini.
Hal ini menegaskan bahwa dalam tradisi suci Bali, Pidada dipandang sebagai entitas yang mulia, yang kehadirannya dihargai dalam silsilah spiritual dan sejarah intelektual Bali.
Bukti lain dari kesucian Pidada dapat ditemukan dalam ritual Ngaben.
Sebagaimana tradisi ngalap don bringin (memetik daun beringin) dilakukan sebagai bagian penting dalam proses penyucian ruh, pohon Pidada pun memegang peran serupa di pesisir. Bagian dari pohon ini seringkali menjadi komponen sesaji suci untuk prosesi kremasi.
Sebagai "Beringin Laut", ia bertugas menyucikan kembali jiwa manusia sebelum akhirnya kembali bersatu dengan alam semesta (segara).
Selain fungsi spiritual, Pidada adalah pengawal dan pahlawan ekologi. Akar napasnya yang kuat mencuat dari lumpur, membentuk benteng alami yang menahan gempuran ombak dan mencegah abrasi. Tanpa keluarga Pidada yang berbaris dengan berbagai jenis lain dari keluarga besar mangrove lainnya, daratan Pulau Serangan dan pesisir Bali akan terus tergerus oleh kekuatan samudra.
Secara historis, Pidada juga menjadi tumpuan pangan dan kesehatan bagi warga pesisir. Buahnya yang bulat sering diolah menjadi Rujak Pidada yang menyegarkan—sebuah sumber pangan alternatif di masa lalu. Lebih dari itu, buah ini diyakini sebagai obat bagi berbagai penyakit.
Jika tubuh pohonnya membentengi pantai dari amukan alam, maka buahnya menjadi "benteng kesehatan" yang melindungi fisik warga sekitar.
Dengan segala nilai historis, ritual, dan ekologis yang dimilikinya, pembabatan terhadap hutan mangrove dan keluarga Pidada adalah sebuah pelanggaran serius terhadap tradisi suci dan kearifan lokal (local wisdom). Tindakan merusak ekosistem ini merupakan laku yang fatal karena tidak hanya menghancurkan benteng alam, tetapi juga memutus mata rantai spiritual yang telah dijaga berabad-abad.
Memuliakan Pidada di masa kini berarti melakukan upaya konservasi yang nyata. Melindungi dan menanam kembali pohon Pidada bermakna sama dengan sebuah Yadnya (persembahan tulus). Dengan menjaga kelestariannya, kita sedang menjaga martabat ritual kita sendiri, menghormati sejarah leluhur, dan memastikan bahwa "Beringin Laut" ini tetap tegak berdiri sebagai penjaga abadi pesisir Bali. [T]
“Tulislah tentang aku dengan tinta hitam atau tinta putihmu. Biarlah sejarah membaca dan menjawabnya” (Ir. Soekarno). PEMERINTAH Provinsi Bali sejak Gubernur Wayan Koster meray...
īśāvāsyam idaṁ sarvaṁ yat kiñca jagatyāṁ jagat |tena tyaktena bhuñjīthā mā gṛdhaḥ kasyasvid dhanam || "Seluruh alam semesta ini, apa pun yang bergerak di dunia yang bergerak in...
ADA satu pemandangan yang hingga kini selalu mengusik. Seorang barista selesai meracik secangkir kopi, lalu menyadari ada kesalahan kecil. Mungkin ukuran gelasnya keliru, jenis su...
PADA tanggal 14 Juni 2026, saya mengikuti acara kolaborasi Grab Bali Nusra dengan Bali Book Party. Museum Pasifika Nusa Dua adalah lokasi acara diselenggarakan. Siang hari, ...
Kenapa jagat sosmed Bali semakin dijangkiti fenomena: Ngandang Nganjuh. Secara harfiah, istilah ini menggambarkan tindakan yang melintang (ngandang) dan mendorong atau memaksak...
PAGI saat Hari Suci Kuningan, sebagian keluarga sudah mengenakan pakaian adat sebelum fajar menyingsing. Sebagian lagi masih sibuk menata banten, memasak, atau menunggu anggota ke...
DI Desa Kembang Asri hiduplah seekor babi betina bernama Ica. Ia adalah babi kesayangan Made Subur. Ica tumbuh sehat dan jinak. Ia juga sangat menyayangi majikannya. Selain Ica...
KUCING aku seekor kucing yang memanjat jendelamukau penghuni yang selalu menutupnya,bersantai menenteng cangkir teh yang pekat. aku mengeong dan mengamuk, mendesis,mencakar-...
"Gemerlap lampu Manhattan tidak pernah mampu menggantikan cahaya seekor kunang-kunang." KALIMAT itu memang tidak pernah ditulis secara harfiah oleh Umar Kayam dalam cerpennya S...
DALAM sejarah musik populer abad ke-20, sedikit lagu yang mampu merangkum pengalaman eksistensial manusia dalam lirik sesederhana “Knockin’ on Heaven’s Door.” Ditulis oleh Bob Dyl...