Mahasiswa Kos dan Mahasiswa Rumahan: Punya Galau Masing-masing
SUDAH banyak yang bicara soal mahasiswa kos atau bicara soal merantau. Mahasiswa kos yang memikul harapan orang tua sejauh ratusan kilometer dari rumah ke kampus demi cita-cita dan...
— Mengenang Kembali Pohon Pesisir yang Dimuliakan Danghyang Nirartha
Oleh: Sugi Lanus
Di sepanjang garis pantai pulau Serangan dan pantai-pantai di Bali dimuliakan dan dilindungi pohon Pidada/Pedada/Prapat — inilah yang secara umum dikenal sebagai 'mangrove'.
Pidada/Pedada/Prapat yang menjadi bagian hutan mangrove, tegak berdiri, tapi seringkali terabaikan, tidak dipahami nilai kekuatan alamiahnya dan spiritualnya.
Bagi mata awam, ia mungkin hanyalah sekadar penjaga pantai dari genus Sonneratia. Namun, bagi masyarakat Hindu di Bali, Pidada adalah simbol kesucian pesisir yang kedudukannya sejajar dengan pohon Beringin di daratan.
Dalam kosmologi Bali, harmoni jagat dibangun di atas poros Kaja (gunung/ giri) dan Kelod (laut/ segara). Kedua titik ini memiliki simbol penjaga spiritualnya masing-masing. Jika di wilayah Kaja atau pusat desa kita mengenal pohon Beringin sebagai paku bumi yang disucikan, maka di wilayah Kelod, Pidada adalah representasinya. Pohon ini disamakan sebagai "Beringin Laut".
Memahami lokasi tumbuhnya beringin dan pidada berarti memahami bagaimana leluhur Bali memetakan representasi alam semesta secara utuh. Keberadaannya bukan sekadar vegetasi, melainkan pembatas suci yang menjaga keseimbangan antara darat dan laut.
Kesucian Pidada bukanlah sebuah mitos tanpa akar sejarah. Hubungan spiritual pohon ini memiliki benang merah yang kuat dengan tokoh besar abad ke 15-16 Danghyang Nirartha (Ida Peranda Sakti Wau Rauh). Beliau adalah tokoh sentral yang merevitalisasi tradisi Hindu Jawa Kuno ke Bali. Begitu sakralnya nilai kesucian yang pohon mangrove ini, membuat nama Pidada diabdikan menjadi salah satu nama garis keturunan beliau yang bermukim di Griya Pidada. Nama ini melekat dengan salah satu trah Danghyang Nirartha yaitu Pidada sampai kini.
Hal ini menegaskan bahwa dalam tradisi suci Bali, Pidada dipandang sebagai entitas yang mulia, yang kehadirannya dihargai dalam silsilah spiritual dan sejarah intelektual Bali.
Bukti lain dari kesucian Pidada dapat ditemukan dalam ritual Ngaben.
Sebagaimana tradisi ngalap don bringin (memetik daun beringin) dilakukan sebagai bagian penting dalam proses penyucian ruh, pohon Pidada pun memegang peran serupa di pesisir. Bagian dari pohon ini seringkali menjadi komponen sesaji suci untuk prosesi kremasi.
Sebagai "Beringin Laut", ia bertugas menyucikan kembali jiwa manusia sebelum akhirnya kembali bersatu dengan alam semesta (segara).
Selain fungsi spiritual, Pidada adalah pengawal dan pahlawan ekologi. Akar napasnya yang kuat mencuat dari lumpur, membentuk benteng alami yang menahan gempuran ombak dan mencegah abrasi. Tanpa keluarga Pidada yang berbaris dengan berbagai jenis lain dari keluarga besar mangrove lainnya, daratan Pulau Serangan dan pesisir Bali akan terus tergerus oleh kekuatan samudra.
Secara historis, Pidada juga menjadi tumpuan pangan dan kesehatan bagi warga pesisir. Buahnya yang bulat sering diolah menjadi Rujak Pidada yang menyegarkan—sebuah sumber pangan alternatif di masa lalu. Lebih dari itu, buah ini diyakini sebagai obat bagi berbagai penyakit.
Jika tubuh pohonnya membentengi pantai dari amukan alam, maka buahnya menjadi "benteng kesehatan" yang melindungi fisik warga sekitar.
Dengan segala nilai historis, ritual, dan ekologis yang dimilikinya, pembabatan terhadap hutan mangrove dan keluarga Pidada adalah sebuah pelanggaran serius terhadap tradisi suci dan kearifan lokal (local wisdom). Tindakan merusak ekosistem ini merupakan laku yang fatal karena tidak hanya menghancurkan benteng alam, tetapi juga memutus mata rantai spiritual yang telah dijaga berabad-abad.
Memuliakan Pidada di masa kini berarti melakukan upaya konservasi yang nyata. Melindungi dan menanam kembali pohon Pidada bermakna sama dengan sebuah Yadnya (persembahan tulus). Dengan menjaga kelestariannya, kita sedang menjaga martabat ritual kita sendiri, menghormati sejarah leluhur, dan memastikan bahwa "Beringin Laut" ini tetap tegak berdiri sebagai penjaga abadi pesisir Bali. [T]
SUDAH banyak yang bicara soal mahasiswa kos atau bicara soal merantau. Mahasiswa kos yang memikul harapan orang tua sejauh ratusan kilometer dari rumah ke kampus demi cita-cita dan...
PADA zaman maya saat ini, seorang remaja tanpa menyentuh gadget atau handphone selama satu hari saja sudah termasuk hebat. Tapi di Desa Bungaya, Karangasem, Bali, ratusan remaja pu...
KESULITAN terbesar saya ketika harus membicarakan sajak-sajak Nuryana Asmaudi SA yang terkumpul dalam buku "Doa Bulan untuk Pungguk" (DBUP) adalah upaya menghilangkan bayang-bayang...
JIKA ingin melihat sejati-jatinya festival yang jujur, tanpa pesan ini-itu, tanpa pidato ini-itu, tanpa kampanye ini-itu, tanpa bau politik dan kekuasaan, tanpa EO dan panitia over...
MAHASISWA adalah sebutan untuk “siswa” dengan tambahan kata “maha” di depannya. Maha artinya besar. Mahasiswa tentu bukan lagi siswa biasa. Kehidupan siswa bisa bergantung pada or...
Cerpen: Made Adnyana Ole TUBUH mungil gadis itu ditusuk pedang cahaya ketika sinar purnama menerobos di sela ranting gaharu. Cahaya memantul dari tubuhnya hingga hutan kecil di tep...
IGAU andaikata rumput berwarna merah muda, sapi-sapi mungkin saja berwarna jingga. dan kau berdiri di atas batu kuning mengenakan sepatu hijau, menembaki aku dengan senapan buru l...
MASA KKN (Kuliah Kerja Nyata) kini sudah usai. Acara perpisahan di balai desa atau di lapangan umum sudah digelar dengan meriah, penuh canda sekaligus haru. Namun, setelah KKN buba...
MENYELENGGARAKAN ngaben megah menghabiskan banyak uang, diurus oleh beratus-ratus orang dengan uang ratusan juta rupiah, adalah salah satu contoh, betapa orang Bali senang sekali m...
BERBICARA sebagai orang awam, sembari turut menilai fenomena dan paradigma tentang berbagai hal yang terjadi di masyarakat, tentu dengan guyonan ringan ditambah dengan sruputan kop...