Razia Warung? Ah, Saya Selalu Sukses Puasa Dikurung Warung
SAYA geli membaca berita tentang razia warung saat Ramadhan. Razia yang katanya demi “mengamankan” masyarakat saat bulan puasa. Ini dilakukan setiap tahun. Ada apa dengan warung? A...
Di permukaan dan kasat mata: Bali sedang menghadapi darurat sampah. Pengerusakan hutan lindung dan hutan mangrove.
Ini adalah cermin Bali sekarang: Sungai-sungai yang dulu berair jernih telah berganti rupa buruk dan bau. Mengambang popok tai bayi, plastik minuman berbagai merek, sampai pembalut-pembalut berdarah.
Apa sebenarnya yang terjadi dalam "alam batin" masyarakat Bali?
Dari berbagai dialog dan diskusi mengemuka:
• Krisis sesungguhnya bukan hanya pada tumpukan sampah dan asap pembakaran plastik, serta penyerobotan mangrove/bakau, melainkan pada mewabahnya mentalitas "cari aman" di kalangan krama/warga Bali.
• Masyarakat Bali sedang mengalami krisis batin dan kehilangan kepekaan terhadap lingkungan sekitar. Apatis pada hidup?
Pemandangan asap tebal dari pembakaran sampah di area pemukiman, atau sampah yang dibuang ke sungai, sudah menjadi hal lumrah di Denpasar dan wilayah Bali lainnya. Tragisnya, ketika warga terkena dampak langsung—asap masuk ke kamar, bau busuk menyengat— bukannya menegur pelaku, atau melapor dan meminta pemerintah lokal turun tangan, malah yang terjadi adalah kebanyakan krama Bali memilih diam.
Banyak orang Bali takut menegur tetangganya sendiri. "Sing nyak uyut jak banjaran" (Tidak mau ribut dengan tetangga). Konfrontasi dianggap tabu. Alih-alih melaporkan pelanggaran pembakaran atau pembuangan sampah, serta pembabatan hutan lindung dan mangrove, ke aparat desa, warga/krama memilih pura-pura tidak lihat. Jadi bukan kehilangan kepekaan lagi, tapi sudah tahap tidak mau tahu.
Sikap permisif (gabungan "cari aman" + "koh ngomong" + "sing nyak uyut") ini menciptakan lingkaran setan pembiaran.
Pembiaran ini memberi ruang bagi siapa saja—penduduk lokal maupun pendatang—untuk meniru kebiasaan buruk tersebut. Saat diam menjadi budaya, perusakan lingkungan menjadi legal secara sosial.
Belakangan viral di media:
Mangrove atau bakau dibabat di sebuah desa. Pohon-pohon hutan sengaja ditebang di pinggiran desa. Warga sekitar memilih diam dan "cari aman". Warga yang kritis dianggap tidak kompak, dianggap membuat berita buruk pada desanya, bahkan dianggap bukan warganya — haruskan krama Bali kompak dalam sikap permisif?
Sikap "cari aman" ini adalah momok sesungguhnya. Krisis sesungguhnya di balik tumpukan sampah dan kerusakan lingkungan Bali adalah perilaku "cari aman" warga Bali yang menjadi penyakit kultural yang perlu disembuhkan.
Krama Bali tanpaknya sekarang kehilangan semangat tindih dan jengah — bahkan kosa kata ini telah lenyap dari kamus pergaulan generasi sekarang. Kenapa krama Bali memilih berdiam? Apakah ini ciri krisis keberanian menjangkiti masyarakat Bali? "Koh ngomong" itu telah 'matiwikrama' jadi "apatis total", dan "sing maan ngerunguang" telah menjadi identitas Bali sekarang?
Jika kita ingin sampah hilang dari Bali, atau lingkungan seperti hutan mangrove dan hutan lindung mau selamat, harus ada konsensus komunal baru:
1. Wajib Melapor: Setiap krama/warga yang melihat orang membakar atau membuang sampah sembarangan, serta pembabatan hutan lindung-mangrove dan perusakan lingkungan lainnya, wajib melaporkan ke kepala dusun/banjar adat atau pihak berwajib.
2. Sanksi Pembiaran: Krama/warga yang tahu namun membiarkan (tidak melapor) harus dikenakan denda, karena dianggap bersekongkol merusak lingkungan — sebenarnya ini bukan hal baru jika kita belajar dari Awig-Awig Adat Desa Pakraman Panglipuran dll, yang telah memiliki aturan jika ada krama membiarkan ada maling, diam tidak melaporkan, maka krama tersebut ikut dihukum dimasukkan bagian dari kelompok maling. Diam terhadap pelanggaran atau kejahatan adalah sama dengan bersekongkol.
Tanpa adanya tekanan sosial yang tegas, Bali hanya akan menunggu waktu untuk tertimbun makin dalam di kubangan krisis sampahnya sendiri. Makin parah kerusakan. Gundul dan lenyap mangrove dan hutannya dicaplok raksasa koorporasi atau tangan-tangan investor.
Sekarang kita melihat sebuah pelajaran besar dalam sejarah Bali: Diam bukan lagi emas, diam adalah racun. Diam adalah pintu kerusakan lingkungan dan alam Bali. [T]
SAYA geli membaca berita tentang razia warung saat Ramadhan. Razia yang katanya demi “mengamankan” masyarakat saat bulan puasa. Ini dilakukan setiap tahun. Ada apa dengan warung? A...
JUDUL tulisan ini merupakan tema diskusi Kupang Pesta Monolog yang coba menggali daya vital teater dan perannya dalam kehidupan konkret (aktual). Bahwa teater sebagai seni...
DI Bali, lumrah bila di tempat atau kawasan yang disucikan, jika melihat sesuatu, umpamanya benda, hewan atau binatang (langka), orang sering menyebutnya “Due”. (“Due” dibaca seper...
“KINI banyak pengarang muda yang bagus. Banyak sekali,” kata Seno Gumira Ajidarma saat ngobrol singkat pada suatu pagi dengan tatkala.co di Honeymoon Guest House, Ubud, 6 Juni lalu...
SEBUAH analog yang saya anggap pas untuk menggambarkan budaya korupsi di Indonesia adalah tradisi buang sampah sembarangan. Meski lingkungan jadi kotor, menghilangkan rasa nyaman,...
HALO sahabat mahasiswa super di manapun kalian berada, selamat beraktivitas. Semoga semua hidup berbahagia dan dalam lindungan dosen yang maha buasnya. Sangat super sekali kita mas...
Buta paling buruk adalah buta politik. Dia yang buta politik adalah dia yang tidak mendengar, tidak berbicara, dan tidak berpartisipasi dalam peristiwa politik. Dia tidak tahu bahw...
DUNIA pendidikan, modal utama dalam perkembangan peradaban manusia. Inovasi-inovasi dalam ilmu pengetahuan dan teknologi mutakhir terlahir di dalamnya. Sejarah perubahan besar-bes...
PAWAI pembukaan Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-38 dibuka Presiden Joko Widodo alias Jokowi, di depan Monumen Bajra Sandi, Denpasar, Sabtu (11/6). Dan betapa senang mendengar Presiden...
Menikah itu sulit, tapi bercerai ternyata jauh lebih sulit. Saat mau menikah, yang penting hanya sedikit kemantapan hati, komitmen untuk sama susah sama senang, izin orang tua, sed...