Proses Kreatif Kurnia Effendi 2# Curah Kisah
SEWAKTU-WAKTU, ketika sedang bersama saya, jangan heran jika saya curahi cerita. Biasanya, judul yang mengemban kandungan cerita itu tak cukup sabar tetap tersimpan dalan vestiaire...
Di permukaan dan kasat mata: Bali sedang menghadapi darurat sampah. Pengerusakan hutan lindung dan hutan mangrove.
Ini adalah cermin Bali sekarang: Sungai-sungai yang dulu berair jernih telah berganti rupa buruk dan bau. Mengambang popok tai bayi, plastik minuman berbagai merek, sampai pembalut-pembalut berdarah.
Apa sebenarnya yang terjadi dalam "alam batin" masyarakat Bali?
Dari berbagai dialog dan diskusi mengemuka:
• Krisis sesungguhnya bukan hanya pada tumpukan sampah dan asap pembakaran plastik, serta penyerobotan mangrove/bakau, melainkan pada mewabahnya mentalitas "cari aman" di kalangan krama/warga Bali.
• Masyarakat Bali sedang mengalami krisis batin dan kehilangan kepekaan terhadap lingkungan sekitar. Apatis pada hidup?
Pemandangan asap tebal dari pembakaran sampah di area pemukiman, atau sampah yang dibuang ke sungai, sudah menjadi hal lumrah di Denpasar dan wilayah Bali lainnya. Tragisnya, ketika warga terkena dampak langsung—asap masuk ke kamar, bau busuk menyengat— bukannya menegur pelaku, atau melapor dan meminta pemerintah lokal turun tangan, malah yang terjadi adalah kebanyakan krama Bali memilih diam.
Banyak orang Bali takut menegur tetangganya sendiri. "Sing nyak uyut jak banjaran" (Tidak mau ribut dengan tetangga). Konfrontasi dianggap tabu. Alih-alih melaporkan pelanggaran pembakaran atau pembuangan sampah, serta pembabatan hutan lindung dan mangrove, ke aparat desa, warga/krama memilih pura-pura tidak lihat. Jadi bukan kehilangan kepekaan lagi, tapi sudah tahap tidak mau tahu.
Sikap permisif (gabungan "cari aman" + "koh ngomong" + "sing nyak uyut") ini menciptakan lingkaran setan pembiaran.
Pembiaran ini memberi ruang bagi siapa saja—penduduk lokal maupun pendatang—untuk meniru kebiasaan buruk tersebut. Saat diam menjadi budaya, perusakan lingkungan menjadi legal secara sosial.
Belakangan viral di media:
Mangrove atau bakau dibabat di sebuah desa. Pohon-pohon hutan sengaja ditebang di pinggiran desa. Warga sekitar memilih diam dan "cari aman". Warga yang kritis dianggap tidak kompak, dianggap membuat berita buruk pada desanya, bahkan dianggap bukan warganya — haruskan krama Bali kompak dalam sikap permisif?
Sikap "cari aman" ini adalah momok sesungguhnya. Krisis sesungguhnya di balik tumpukan sampah dan kerusakan lingkungan Bali adalah perilaku "cari aman" warga Bali yang menjadi penyakit kultural yang perlu disembuhkan.
Krama Bali tanpaknya sekarang kehilangan semangat tindih dan jengah — bahkan kosa kata ini telah lenyap dari kamus pergaulan generasi sekarang. Kenapa krama Bali memilih berdiam? Apakah ini ciri krisis keberanian menjangkiti masyarakat Bali? "Koh ngomong" itu telah 'matiwikrama' jadi "apatis total", dan "sing maan ngerunguang" telah menjadi identitas Bali sekarang?
Jika kita ingin sampah hilang dari Bali, atau lingkungan seperti hutan mangrove dan hutan lindung mau selamat, harus ada konsensus komunal baru:
1. Wajib Melapor: Setiap krama/warga yang melihat orang membakar atau membuang sampah sembarangan, serta pembabatan hutan lindung-mangrove dan perusakan lingkungan lainnya, wajib melaporkan ke kepala dusun/banjar adat atau pihak berwajib.
2. Sanksi Pembiaran: Krama/warga yang tahu namun membiarkan (tidak melapor) harus dikenakan denda, karena dianggap bersekongkol merusak lingkungan — sebenarnya ini bukan hal baru jika kita belajar dari Awig-Awig Adat Desa Pakraman Panglipuran dll, yang telah memiliki aturan jika ada krama membiarkan ada maling, diam tidak melaporkan, maka krama tersebut ikut dihukum dimasukkan bagian dari kelompok maling. Diam terhadap pelanggaran atau kejahatan adalah sama dengan bersekongkol.
Tanpa adanya tekanan sosial yang tegas, Bali hanya akan menunggu waktu untuk tertimbun makin dalam di kubangan krisis sampahnya sendiri. Makin parah kerusakan. Gundul dan lenyap mangrove dan hutannya dicaplok raksasa koorporasi atau tangan-tangan investor.
Sekarang kita melihat sebuah pelajaran besar dalam sejarah Bali: Diam bukan lagi emas, diam adalah racun. Diam adalah pintu kerusakan lingkungan dan alam Bali. [T]
SEWAKTU-WAKTU, ketika sedang bersama saya, jangan heran jika saya curahi cerita. Biasanya, judul yang mengemban kandungan cerita itu tak cukup sabar tetap tersimpan dalan vestiaire...
PERNAH nunu urutan setiap pagi menjelang sekolah, pada masa-masa usai libur Hari Raya Galungan dan Kuningan? Jika pernah, masa kecil Anda dipastikan sederhana namun bahagia. Nunu...
"PANJEKAN" mungkin asal muasal kata "panjak". Biasanya prekanggo atau wong kuasa duduk didampingi anak buahnya yang dijadikan "injakan kaki" (panjekan). Lihatlah, foto yang dipasa...
GEGURITAN Galungan (karya IB Putu Bangli) yang penulisannya bersumber dari Lontar Parerembon (milik Ida Pedanda Gede Made Sidemen, Gria Taman Sanur), menuturkan bahwa tra...
SEBAIKNYA di sini kita tidak membahas sloka, lontar, mantra atau Veda. Di zaman informasi yang demikian derasnya, ketidakpedulian hanyalah sebuah pilihan. Hal-hal yang bersifat pen...
HARI Raya Galungan dan Kuningan tentu saja disambut bahagia semua umat Hindu di Bali. Namun, tak begitu dengan sejumlah anggota Dewan, DPRD, DPD atau DPR. Meski tetap tampak bahag...
BAGI umat Hindu di Indonesia, terutama di Bali, Hari Raya Galungan dan Kuningan tentu menjadi hari raya yang paling ditunggu-tunggu. Hari raya ini diperingati setiap 6 bulan sekali...
Saya adalah salah satu dari banyak orang yang sangat menikmati momen KKN, meski saya tidak mengetahui detail kisah KKN kalian satu per satu tapi saya berusaha mewakili rasa rindu k...
GALUNGAN kembali tiba. Sebagian orang mungkin akan bersemangat mendengarnya karena merupakan hari raya besar yang ditunggu-tunggu. Sembahyang, mungkin hanya satu alasan. Ada banyak...
Cerpen: Fatah Anshori "Dalam tradisi Yahudi empat puluh hari sebelum, bayi lelaki dilahirkan. Dilangit ada suara yang meneriakkan siapa wanita yang kelak akan di kawininya. Aku tah...