Malam Minggu bagi “Darah Muda”: Tak Sekadar Pacaran
PERNAHKAH tersirat di pikiran anda apa itu “Malam Minggu”? Dan apa bedanya dengan “Sabtu Malam”? Rasanya hanya beda istilah dengan makna yang sama. Istilah mana yang lebih sering a...
CINEPOLIS Plaza Renon menjadi titik temu antara ingatan, penghormatan, dan refleksi. Di sanalah BALIDOC menggelar diseminasi sekaligus penayangan perdana film dokumenter “Dibia – Hanuman Hitam”, sebuah karya yang menelusuri jejak panjang Prof. Dr. I Wayan Dibia dalam dunia seni pertunjukan Bali.
Acara yang diselenggarakan pada Minggu, 26 April 2026 ini merupakan bagian dari program fasilitasi pemajuan kebudayaan yang didukung Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Upaya tersebut tidak sekadar menghadirkan tontonan, melainkan juga mendokumentasikan sekaligus menyebarluaskan nilai-nilai budaya melalui medium audio visual.
Film “Dibia – Hanuman Hitam” bergerak lebih jauh dari sekadar potret seorang maestro tari. Ia membuka lapisan-lapisan kehidupan berkesenian di Bali, menempatkan seni bukan hanya sebagai ekspresi artistik, tetapi sebagai laku hidup yang menyatu dengan nilai dan identitas budaya. Sosok Dibia dihadirkan bukan hanya sebagai individu, melainkan sebagai simpul dari tradisi, pemikiran, dan perjalanan panjang kesenian Bali itu sendiri.

Dokumenter ini diproduksi oleh BALIDOC, komunitas film dan dokumenter yang berdiri sejak 2018. Karya ini menjadi bagian dari komitmen berkelanjutan mereka untuk merekam kebudayaan dan tradisi Bali secara mendalam, berbasis riset, serta berangkat dari nilai-nilai luhur yang hidup di masyarakat.
Malam penayangan perdana itu juga dihadiri berbagai kalangan, mulai dari perwakilan instansi pemerintah di bidang kebudayaan, akademisi, seniman, hingga komunitas kreatif. Kehadiran Prof. Dr. I Wayan Dibia bersama keluarga memberi dimensi emosional tersendiri, menjadikan layar tidak lagi sekadar medium visual, tetapi juga ruang perjumpaan antara karya dan sosok yang dikisahkan.
Selepas pemutaran film, acara berlanjut ke sesi diskusi yang dipandu oleh budayawan dan penulis senior Wayan Juniarta. Percakapan menghadirkan Prof. Dr. I Wayan Dibia serta Johan Wahyudi, sutradara dan penulis film yang juga Ketua BALIDOC. Diskusi ini membuka ruang tafsir, memperpanjang napas film ke ranah dialog, sekaligus mengajak audiens membaca ulang makna di balik setiap adegan.
Melalui “Dibia – Hanuman Hitam”, BALIDOC tidak hanya menawarkan dokumentasi, tetapi juga ruang refleksi. Film ini mengajak penonton mengenal lebih dekat sosok seorang maestro, sekaligus memahami kembali bagaimana seni dan tradisi hidup, bergerak, dan membentuk keseharian masyarakat Bali. [T]
Reporter/Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole
PERNAHKAH tersirat di pikiran anda apa itu “Malam Minggu”? Dan apa bedanya dengan “Sabtu Malam”? Rasanya hanya beda istilah dengan makna yang sama. Istilah mana yang lebih sering a...
SEBAGAI mahasiswa yang menuntut ilmu di universitas yang bergerak dalam bidang keguruan, tentu “kegiatan mengajar” tidak lagi asing di telinga mereka. Bahkan “kegiatan mengajar” ak...
Bapak/Ibu Guru yang kami cintai, pidato ini saya buka dengan kutipan dari penyair Kahlil Gibran… “Cinta tidak punya hasrat selain mewujudkan maknanya sendiri.” BEGITU bijaknya Ka...
GENERASI yang cerdas dan berakhlak mulia terwujud dari adanya guru yang cerdas dan berkompetensi. Sebuah ungkapan sederhana namun memiliki banyak makna dan usaha. Dewasa ini, guru...
MELIHAT pendidikan Indonesia memasuki milineum ketiga, ketika teknologi digital melahirkan generasi baru (generasi Y), makin kentara paradoks dunia pendidikan, biang kerok stagnasi...
SEBUAH percakapan mengejutkan di ruang kelas: Saya : Anak-anak, kalian punya cita-cita? Ada yang jawab punya, ada yang menjawab tidak. Saya lontarkan pertanyaan ini kepad...
DUNIA ini adalah panggung sandiwara. Tuhan penulis skenario sekaligus sebagai sutradara. Dan kita umat manusia sebagai aktornya. Segala sesuatu yang kita lakukan sudah ada skenari...
POLITIK mungkin sesuatu yang asing bagi saya terutama mengenai politik praktis. Memang sedikit paham, secara garis besar politik didefinisikan sebagai “ilmu mempengaruhi”. Sebagai...
HARI masih pagi. Jarum jam baru menunjukkan pukul 08.30. Namun entah mengapa, matahari bersinar begitu terik. Meski begitu, suasana di Lapangan Umum Desa Bebetin, terlihat riuh. Pu...
MEDIA massa baik itu cetak maupun elektronik setahu saya adalah sebagai “tukang lapor” kepada masyarakat luas terhadap apa yang terjadi pada suatu tempat dan suatu waktu di belahan...