Pesta Kesenian Bali: Keroncong Tidak Mati
KETIKA tubuh meragang nyawa, dalam perukan persada. Tinggal nafas yang masih tersisa. Kau pekikkan merdeka. Bait lagu Puji Bagi Pahlawan ciptaan Basuki itu mengalun dalam sunyi. La...
JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan dari Generasi Z memanfaatkan gawai dan perangkat teknologi pertanian untuk mengelola kedaulatan pangan.
Fenomena Kartini Agraris ini kini menemukan momentumnya seiring dengan peluncuran program nasional Makan Bergizi Gratis (MBG). Semangat emansipasi kini berpadu dengan misi pemenuhan nutrisi bangsa, menempatkan perempuan sebagai tokoh kunci dalam rantai pasok pangan nasional.
Sektor pertanian Indonesia sedang mengalami metamorfosis yang fundamental. Pertanian tidak lagi dipandang sebagai aktivitas tradisional yang melelahkan, melainkan sebuah ekosistem inovatif yang menjadi tulang punggung bagi program kesehatan nasional. Di sana, perempuan Gen Z hadir bukan sebagai pelengkap, melainkan sebagai penggerak utama.
1. Dari Buruh Bayangan Menjadi Pengambil Keputusan
Peran perempuan dalam sektor agraria telah mengalami kemajuan yang masif. Dahulu, dalam struktur masyarakat tradisional, perempuan sering kali terjebak dalam peran tenaga kerja bayangan. Mereka turun ke sawah untuk menanam, namun suara mereka jarang terdengar dalam pengambilan keputusan strategis.
Kini, warisan intelektual Kartini memberikan keberanian bagi perempuan Gen Z untuk mendiskusikan ulang posisi mereka sebagai pengambil keputusan, terutama dalam mendukung ketersediaan bahan baku program Makan Bergizi Gratis.
“Dulu, agro field atau agronomist didominasi oleh laki-laki, karena perempuan dianggap lemah, tidak cukup tenaga jika bekerja di lapangan, namun sekarang perempuan bisa membuktikan kalau tidak kalah dengan kaum laki-laki”, Agnes adalah salah satu agronomist perempuan di perusahaan pestisida terkemuka di Indonesia.
Perempuan-perempuan muda ini kini menempati posisi strategis dalam merancang pola tanam yang disesuaikan dengan kebutuhan gizi lokal. Mereka tidak lagi hanya menanam apa yang biasa ditanam, tetapi menganalisis komoditas apa yang diperlukan untuk memenuhi standar nutrisi protein dan vitamin.
Dalam perspektif ekofeminisme, kedekatan intuitif perempuan terhadap kelestarian alam menjadi modal utama untuk menghasilkan pangan yang tidak hanya melimpah secara kuantitas, tetapi juga sehat dan bebas residu kimia berbahaya.
“Perempuan sebagai garda pangan itu sudah terbukti kehebatannya sejak dulu, makanya Dewi Padi namanya Dewi Sri seorang perempuan, bukan laki-laki”, tambahnya.
2. Kelompok Wanita Tani (KWT) di Masa MBG
Berdasarkan data goodstats.id (2025), jumlah petani wanita di Indonesia mencapai 14.8 juta pada Februari 2025. Jumlah yang besar ini, salah satunya bergerak secara komunitas melalui Kelompok Wanita Tani (KWT).
Apalagi pada masa kini, peran KWT sangat dibutuhkan terutama sebagai mitra dapur MBG. Sebagai harapan, KWT mampu mengelola budidaya sayuran hidroponik hingga ternak unggas skala komunitas. Dampaknya sangat signifikan, program MBG tidak perlu mengambil bahan pangan dari tempat yang jauh, karena KWT di desa tersebut mampu menyediakannya.
Inilah wujud nyata kemandirian ekonomi yang diimpikan Kartini, perempuan yang berdaya secara finansial sekaligus menjadi garda terdepan dalam memutus mata rantai stunting dan gizi buruk melalui akses pangan lokal yang berkualitas.
3. Kolaborasi Sarjana Pertanian dan Ahli Gizi
Kolaborasi perempuan sarjana pertanian di kebun dan sarjana ahli gizi di dapur sangat dibutuhkan di sini. Mereka membawa misi untuk memastikan bahwa standar keamanan pangan dalam program Makan Bergizi Gratis tetap terjaga.
Pertanian adalah sektor hulu yang sedari pengolahan tanah, pemilihan benih unggul, hingga proses panen sangat menentukan kualitas makanan di atas meja dapur. Mereka juga mengedukasi anggota KWT mengenai pentingnya sertifikasi produk dan standar sanitasi, sehingga produk pertanian lokal layak masuk ke dalam sistem pengadaan negara. Selanjutnya, peran ahli gizi meramu bahan pangan itu sesuai kebutuhan gizi anak-anak.
4. Bertani Adalah Bentuk Nyata Bela Negara
Tujuan utama dari gerakan ini adalah memadukan antara kemampuan akademis sarjana muda dengan pengalaman dapur ibu-ibu KWT. Hasilnya adalah sebuah ekosistem pangan yang humanis dan berkelanjutan.
Kolaborasi ini secara efektif memotong rantai distribusi yang panjang. Dengan adanya kebutuhan tetap dari program MBG, perempuan tani kini memiliki kepastian pasar. Fenomena ini menciptakan budaya kerja baru di mana kecerdasan perempuan digunakan untuk mengelola logistik pangan nasional dari tingkat bawah.
Mereka membuktikan bahwa dedikasi di atas tanah pertanian adalah bentuk nyata dari bela negara, memastikan bahwa masa depan bangsa melalui anak-anak sekolah terjaga gizinya melalui tangan-tangan perempuan yang kompeten.
5. Menanam Masa Depan yang Inklusif dan Bergizi
Semangat Kartini dalam sektor pertanian saat ini adalah sebuah harmoni yang indah antara kekuatan komunitas dan ketajaman berpikir individu. Sinergi antara KWT sebagai motor penggerak massa dan sarjana pertanian wanita sebagai inovator teknologi menciptakan fondasi yang kokoh bagi keberhasilan program Makan Bergizi Gratis.
Perubahan ini membuktikan bahwa ketahanan pangan dan perbaikan gizi nasional tidak hanya ditentukan oleh kebijakan makro, tetapi oleh seberapa besar kita melibatkan perempuan dalam pengelolaannya di tingkat akar rumput.
Di tangan perempuan Gen Z, pertanian Indonesia kini menjadi narasi tentang masa depan yang hijau, cerdas, dan sehat. Semangat Kartini terus bersemi di setiap benih yang ditanam, membuktikan bahwa untuk membangun bangsa yang kuat, kita membutuhkan pikiran yang cerdas namun membumi, serta tangan perempuan yang lembut namun mampu memberi makan seluruh negeri.
“Untuk semua perempuan kalian hebat, cantik dan berdaya. Semoga kedepannya semakin banyak yg berperan aktif untuk mencapai ketahanan pangan nasional”, harapan dari Arum, sarjana agroteknologi yang kini berkarya menjaga ketahanan pangan keluarga. [T]
Penulis: Dodik Suprayogi
Editor: Adnyana Ole
KETIKA tubuh meragang nyawa, dalam perukan persada. Tinggal nafas yang masih tersisa. Kau pekikkan merdeka. Bait lagu Puji Bagi Pahlawan ciptaan Basuki itu mengalun dalam sunyi. La...
Apakah yang paling membanggakan dari makhluk yang bernama manusia? “Kreativitas.” Itulah jawabnya. Manusia menjadi “lebih” ketimbang binatang karena memiliki ruang yang sangat luas...
Sebagai orang yang tidak berkompeten dalam bidang bahasa Bali, mungkin saya akan tulah idup karena apa yang akan saya paparkan barangkali banyak bohongnya. Saya bukan orang yang la...
Kaohsiung adalah kota terbesar kedua di Taiwan setelah Taipe. Di kota itulah saya berada, awal Juni 2016. Seperti sebuah mimpi, dari Singaraja – kota tempat tinggal saya - segalany...
FENOMENA The Great Pacific Garbage Patch menjadi bukti betapa kita sebagai manusia telah membunuh bumi dengan plastik. Miliaran ton sampah plastik terapung di laut, membuat jutaan...
KEMISKINAN, di Bali, bisa berarti sebuah upacara. Warga Desa Trunyan di Desa Kintamani, Kabupaten Bangli, sebelum berperilaku menjadi manusia miskin melakukan ritus kecil: membakar...
JIKA hobi facebook-an, singgahlah sesekali ke halaman Punk Kwala Ngibur. Bisa kita nikmati komik berbahasa Bali dari tingkat paling kepara sampai sor se-singgih-singgihnya. Tulisan...
MUNGKIN saya sudah terlambat menguraikan hal ini. Karena saat ini sudah makin banyak masyarakat yang menolak reklamasi Teluk Benoa. Namun dalam konteks ini, saya meyakini bahwa leb...
Bahasa menunjukkan bangsa. Itu peribahasa yang akrab saya dengar di Sekolah Dasar dulu yang bertahun-tahun kemudian saya amini kebenarannya. Kultur sebuah bangsa, seturut makna per...
Judul Buku : Badriyah Pengarang : Ayu Weda Penerbit : Gambang Buku Budaya Tahun Terbit : Maret 2016 Jumlah Halaman : xiv + 207 halaman ISBN : 978-602-6776-15-0 SELURUH cerita dala...