Mungkinkah Budaya Adiluhung Baduy Rusak karena Pengaruh Digitalisasi dan Destinasi Wisata?

Asep Kurnia
by Asep Kurnia — April 20, 2026 in Esai

Tatkala.co

KITA dan siapa pun, akan begitu tercengang dengan berbagai perubahan fisik (lingkungan geografis) yang begitu cepat serta sporadis termasuk perubahan sikap dan  karakteristik masyarakat Baduy dari sikap pasif menjadi aktif, dari menghindar menjadi menjemput, dari menolak jadi menerima bahkan dari sederhana, ikhlas bersahaja mengarah pada sikap money oriented. Semua itu bisa dibuktikan saat berkunjung dan melihat  tanah ulayat mereka (Saba Budaya Baduy).

Pastinya kita akan lebih tercengang dan khawatir lagi ketika melihat kenyataan bahwa di kekinian suku Baduy yang tidak lagi sesederhana, sekuat dan setegas dahulu dalam menjaga keseimbangan dan keharmonisan alam.  Ditambah munculnya indikasi yang kurang sedap yaitu tanda-tanda atau gejala alamiah mulai meluntur atau melemahnya sikap mereka dalam melaksanakan hukum adat, karena ada beberapa hukum adat yang dirasakan sudah expired atau tidak lagi sesuai zaman dan kebutuhan (memodifikasi hukum adat dengan melanggar hukum adat yang sistimatik).

Ekspektasi Kepemilikan Teknologi Digital Warga Baduy

Bagi pemerhati pasti  akan muncul kekhawatiran bahwa di Baduy sedang terjadi degradasi dan transisi budaya yang lebih mengarah pada meredup atau rusaknya berbagai budaya lokal unggulan yang sudah  kita anggap sebagai labolatorium sekaligus  percontohan budaya adiluhung. Bahkan nurani penulis mempertanyakan  sampai pada level apakah kini derajat kesehatan dan keajegan Baduy sudah begitu rusak terganggu oleh hama intervensi dan penyakit modernisasi  ?

Kemajuan ilmu pengetahuan dan percepatan perkembangan  teknologi digital telah dirasakan begitu masif merambah ke berbagai lapisan masyarakat. Bukan hanya di perkotaan saja, tetapi sudah lebih jauh merangsek  ke pedesaan dan pedalaman termasuk pada wilayah suku Baduy. Pengaruhnya begitu dahsyat dalam merubah tatanan sosial,  ekonomi  bahkan menggeser paradigma berpikir sampai mengubah pola kehidupan serta peradaban mereka.

Penggunaan alat digital modern oleh warga adat di wilayah hukum adat Baduy sudah tidak bisa terelakkan lagi. Intensitas dan frekuensi pembelian sekaligus pemanfaatan hand phone oleh warga masyarakat Baduy sudah melampaui dari ekspektasi ideal.

Mereka sudah tidak lagi risi, takut atau malu untuk berpenampilan sebagai pengguna setia Hand Phone,  bahkan ada kesan lebih pada berlomba-lomba memiliki HP  yang multitipe. Kini, memiliki HP bagi warga  Baduy  bukan lagi sekedar sebagai asesoris (gaya hidup)  tetapi sudah menjadi kebutuhan media komunikasi terefektif dan efisien hidup mereka, bahkan multimanfaat termasuk untuk melancarkan bisnis perdagangan mereka.

Situasi yang digambarkan di atas tentunya merupakan bukti konkret bahwa digitalisasi telah mampu mengubah pola hidup mereka dari anti hidup modern menjadi pengguna bahkan penikmat alat modern. Dan tentunya bisa kita sebut bahwa masyarakat Baduy sudah menerima sebagian dari modernisasi dalam arti menerina beberapa pola hidup modern yang diterapkan dikehidupan sehari-hari mereka walaupun masih dengan cara selektivitas yang ketat.

Kini mereka (sebagian besar), kalau pakai teori estimasi sekitar 75 ℅ warga Baduy sudah tidak bisa lagi hidup tanpa HP. Telepon genngam sudah menjadi istri kedua bagi kaum pria atau suami kedua bagi seorang wanita dewasa Baduy, dan menjadi sahabat karib bagi anak-anak Baduy. Kecuali warga Baduy Dalam yang masih belum secara vulgar diperbolehkan memiliki HP.

Jika sudah seperti itu, kita bisa membaca atau menafsirkan bahkan sudah bisa memprediksi bagaimana nasib , arah, dan kisah masa depan budaya lokal Baduy ?

Efek Ganda Destinasi Wisata Budaya Baduy

Digulirkannya program destinasi wisata tujuan utamanya adalah bagaimana meningkatkan geliat ekonomi setempat agar pendapatan (income per capita ) masyarakat meningkat yang akhirnya kesejahteraan masyarakat pun meningkat . Baduy di beberapa tahun lalu sudah menerima dan menyetujui wilayahnya dijadikan areal destinasi wisata dengan batasan diksi 'Wisata Budaya Baduy' yang kemudian diperjelas dan dipertegas  menjadi "Saba Budaya Baduy".

Serupa tapi tak sama bahwa kesepakatan menerima program destinasi wisata adalah demi dan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat Baduy melalui adanya peningkatan pendapatan individu warga Baduy sekaligus meningkatkan geliat perekonomian wilayah atau desa-desa pendamping  suku Baduy melalui intensitas kunjungan para wisatawan.

Sebagai bukti mereka merespon  program wisata, tokoh adat memberi izin dibukanya beberapa titik jalur atau pos tambahan menuju Baduy termasuk  membuka pos  termudah dan terdekat menuju Baduy Dalam.

Kini,  wisatawan sudah bukan lagi diangka 100 tapi sudah ribuan yang datang ke Baduy perminggunya. Intensitas pengunjung Baduy begitu tinggi  dan beragam. Pada titik fokus ini selain  memberikan dampak yang signifikan terhadap  peningkatan kesejahteraan  masyarakat Baduy, namun disisi lain  muncul dampak negatif terhadap keajegan adat istiadat atau budaya adilihung mereka. Polusi dan transisi budaya serta akulturasi budaya kini terjadi di Baduy tanpa  bisa  ditolak dan akhirnya  penurunan kharisma budaya lokal merekapun tidak bisa dihindari.

Narasi singkat di atas hanyalah memaparkan situasi singkat kekinian suku Baduy akibat  pengaruh digitalasasi dan destinasi wisata yang mereka terima. Apakah  situasi tersebut lebih memungkinan  pada terjadi kerusakan atau kesempurnaan budaya lokal Baduy, kita hanya bisa bicara sebatas wait and see ! [T]

  • Ditulis di Padepokan  Sisi Leuit Perbatasan  Baduy
Avatar

Asep Kurnia

Related Posts
Dongeng

Takut Galungan

BY Dede Putra Wiguna Juni 27, 2026

DI Desa Kembang Asri hiduplah seekor babi betina bernama Ica. Ia adalah babi kesayangan Made Subur. Ica tumbuh sehat dan jinak. Ia juga sangat menyayangi majikannya. Selain Ica...

Read More