‘Brown Sugar’ dari The Rolling Stones dan Ingatan Perbudakan
MUSIK populer kerap dipahami sebagai hiburan ringan, namun sejarah menunjukkan bahwa ia sering kali menjadi medium artikulasi pengalaman sosial yang kompleks, bahkan traumatik....
aroma tanah selepas hujan
sisakan nafasnya yang gemetar
dingin pagi
kekecewaan yang bersandar
yang tak pernah dicapai matahari
tak berikan waktu terbaik
untuk kita
desah jangkrik
nyanyian katak: sesekali muncul
larut dalam cawan-cawan embun
2026
cerita dari etalase
toko bakery favorit kita
sepotong roti
secangkir cappuccino
cara kita melompati batas mimpi
menemani kita lewati api
dan salju dada masing-masing
2026
kedua matamu
puisi yang tak ingin kuselesaikan
tafsir yang selalu aku samakan
tubuhmu album kenangan
dan aku memilih tersesat di dalamnya
libur tak bertemu
rindu selalu bertamu
bukti puncak cinta kita
embun pecah dada berdegup
sesak cemburu
memar oleh matahari
terimalah cintaku yang tak
seberapa ini
dan kemungkinan menerima kegagalan
2026
berdengung di telinga
pekik di kepala
menjalar seluruh raga
jiwa entah kemana
seperti ada jeda
daun-daun kering
menahan karma
biar tak lekas lepas
gugur bukan sebagai pahlawan
meluputkan yang seharusnya
habis punah musnah
telah lama ia
tak bergairah, selepas hujan
tak lagi melimpah
pada matahari ia mengalah
berdengung di telinga
pening di kepala
menghitung cuaca sebenarnya
angin dan hujan tanpa musim
2026
malam sunyi cahaya telah raib
mengoyak lamunan
buat dada lumat nyeri
esok mungkin musnah
memaki tubuhmu
langit bulan sembunyi
dalam rindu lengkap
tanpa peluk, tiada kecup
dibuat lenyap dari ingatan
rahasia apa
yang dibawa malaikat murung
dilatari requeme mistis
kepedihan
2026
aku mencintaimu
hingga ke ujung langit
kuingin kita menua tanpa impian
dan waktu
meski sering dipermainkan hantu-hantu
udara dingin, rindu jadi pelangi
meyirat tak habis-habisnya
pada semesta pinggulmu
kususuri hari-hari bahagia
kuhapus seluruh ingatan masa lalu
gemetar dadaku menjelma kupu-kupu
betapa harum rambutmu
yang luruh di keningmu
tiada kebosanan, hanya derita sempurna
2026
Penulis: Wayan Esa Bhaskara
Editor: Adnyana Ole
MUSIK populer kerap dipahami sebagai hiburan ringan, namun sejarah menunjukkan bahwa ia sering kali menjadi medium artikulasi pengalaman sosial yang kompleks, bahkan traumatik....
BUNG Karno adalah presiden Indonesia yang memiliki cita rasa seni yang tinggi. Dari 8 PresidenIndonesia,Bung Karno, Abdul Rachman Wahid (Gus Dur), dan Susilo Bambang Yudoyonomenon...
SAYA menulis ini bukan hanya untuk diri saya sendiri, tetapi untuk banyak seniman yang mungkin merasakan hal yang sama. Mereka yang menghabiskan waktu bertahun-tahun menempuh pend...
DESA Pedawa di Kecamatan banjar, Buleleng, yang dikenal dengan adat dan budaya yang unik kembali menjadi tujuan pengabdian akademik. Pada hari Rabu, 10 Juni 2026, tim Pengabdian k...
Hari itu, Kamis, 11 Juni 2026, para siswa yang tergabung dalam OSIS dan MPK (Majelis Perwakilan Kelas) SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) berkunjung ke Yayasan Bali Baby...
DALAM kehidupan sehari-hari, kata "absen" sangat akrab digunakan oleh masyarakat. Di sekolah, guru sering mengatakan, "Ayo, sebelum belajar kita absen dulu." Di lingkungan peke...
SUATU pagi di Ubud, seorang wisatawan asing duduk bersila di atas matras yoga. Ia memejamkan mata. Di hadapannya terbentang hamparan sawah yang hijau. Burung-burung berkicau. Angi...
KOMITMEN dalam menjaga kelestarian lingkungan terus ditunjukkan oleh Fakultas Vokasi Institut Pariwisata dan Bisnis Internasional (IPB Internasional). Melalui Program Studi D4 Man...
DARI balik kaca bus berkapasitas empat puluh lima kursi saya melihat malam hari di Banyuwangi, Jawa Timur, cukup gemerlap. Lampu-lampu menebar cahaya sekaligus memberi sihir warna...
DI atas meja makan rumah tangga Indonesia, tempe bukan sekadar lauk pendamping yang hadir sebagai pelengkap nasi. Melainkan pilar ketahanan pangan yang paling jujur, sebuah warisa...