Gabriela
Cerpen: Putri Handayani “Gabriela, pohon beringin itu menari. Aku mengerjapkan kedua mataku. Pohon itu tetap menari. Kembali kukerjapkan kedua mataku sambil lalu mengusap-usapny...
aroma tanah selepas hujan
sisakan nafasnya yang gemetar
dingin pagi
kekecewaan yang bersandar
yang tak pernah dicapai matahari
tak berikan waktu terbaik
untuk kita
desah jangkrik
nyanyian katak: sesekali muncul
larut dalam cawan-cawan embun
2026
cerita dari etalase
toko bakery favorit kita
sepotong roti
secangkir cappuccino
cara kita melompati batas mimpi
menemani kita lewati api
dan salju dada masing-masing
2026
kedua matamu
puisi yang tak ingin kuselesaikan
tafsir yang selalu aku samakan
tubuhmu album kenangan
dan aku memilih tersesat di dalamnya
libur tak bertemu
rindu selalu bertamu
bukti puncak cinta kita
embun pecah dada berdegup
sesak cemburu
memar oleh matahari
terimalah cintaku yang tak
seberapa ini
dan kemungkinan menerima kegagalan
2026
berdengung di telinga
pekik di kepala
menjalar seluruh raga
jiwa entah kemana
seperti ada jeda
daun-daun kering
menahan karma
biar tak lekas lepas
gugur bukan sebagai pahlawan
meluputkan yang seharusnya
habis punah musnah
telah lama ia
tak bergairah, selepas hujan
tak lagi melimpah
pada matahari ia mengalah
berdengung di telinga
pening di kepala
menghitung cuaca sebenarnya
angin dan hujan tanpa musim
2026
malam sunyi cahaya telah raib
mengoyak lamunan
buat dada lumat nyeri
esok mungkin musnah
memaki tubuhmu
langit bulan sembunyi
dalam rindu lengkap
tanpa peluk, tiada kecup
dibuat lenyap dari ingatan
rahasia apa
yang dibawa malaikat murung
dilatari requeme mistis
kepedihan
2026
aku mencintaimu
hingga ke ujung langit
kuingin kita menua tanpa impian
dan waktu
meski sering dipermainkan hantu-hantu
udara dingin, rindu jadi pelangi
meyirat tak habis-habisnya
pada semesta pinggulmu
kususuri hari-hari bahagia
kuhapus seluruh ingatan masa lalu
gemetar dadaku menjelma kupu-kupu
betapa harum rambutmu
yang luruh di keningmu
tiada kebosanan, hanya derita sempurna
2026
Penulis: Wayan Esa Bhaskara
Editor: Adnyana Ole
Cerpen: Putri Handayani “Gabriela, pohon beringin itu menari. Aku mengerjapkan kedua mataku. Pohon itu tetap menari. Kembali kukerjapkan kedua mataku sambil lalu mengusap-usapny...
TIGA RAMU MENGKUDU Daun; Petiklah aku Tiga kepik muda Ramu padu dengan segenggam garam Dan tiga biji beras genggam Hingga padu resep moyang Hingga...
BAGAIMANA harus melukiskannya, sebagian besar anak kos (mahasiswa) memang dikenal selalu mumet dengan hiruk pikuk perekonomian. Dari media sosial, hingga sosial media, tahu perekon...
Bayangkan sebuah hutan hujan tropis dengan vegetasi yang hanya terdiri dari satu jenis pohon, atau sebuah partitur musik yang notasinya hanya tersusun dari nada ‘do’. Menjemukan se...
Saya salah satu penikmat tari. Saya lahir dari darah seorang ibu, yang dikala mudanya pernah menjadi Penari Zapin Melayu, di salah satu sanggar yang boleh dikata cukup tua di Ponti...
BEBERAPA bulan lagi, tahun akan segera berpindah. Bali punya acara spesial di tahun 2017 & 2018. Suksesi pemegang otoritas pemerintahan provinsi dan beberapa kabupaten di Bali...
MENJADI kota niscaya menjadi modern. Premis ini berlaku pada cara pandang yang menempatkan dua kutub berbeda antara kota dan desa. Desa diasumsikan berbau tradisional, kota identik...
PARA penggiat sastra dan teater di Bangkalan, Madura, Jawa Timur, bersorak ketika dua penulis dari kota itu, Joko Sucipto (puisi) dan Arung Wardana (drama), lolos untuk tampil dala...
Cerpen: Satia Guna Sebutlah aku wanita, mahluk yang menikmati penderitaan dengan berbagai macam rasa sakit. Sebutlah aku tanah, yang selalu diinjak tanpa menerima r...
KABAR DARI ZWOLLE Kenalkan aku pada wangi musim gugur Di tengah pesta roti dan remah-remahnya Yang terbang mengitari sungai Lalu singgah di beranda penuh cerita &n...