Sajak-sajak Wayan Esa Bhaskara | Begitulah Aku Mencintaimu

Wayan Esa Bhaskara
by Wayan Esa Bhaskara — April 18, 2026 in Puisi

Tatkala.co

Irama Nada Hujan

aroma tanah selepas hujan
sisakan nafasnya yang gemetar
dingin pagi
kekecewaan yang bersandar

yang tak pernah dicapai matahari
tak berikan waktu terbaik
untuk kita

desah jangkrik
nyanyian katak: sesekali muncul
larut dalam cawan-cawan embun

2026

Toko Bakery

cerita dari etalase
toko bakery favorit kita
sepotong roti
secangkir cappuccino
cara kita melompati batas mimpi
menemani kita lewati api
dan salju dada masing-masing

2026

Besok Pagi Benar Kita Harus Kehilangan

kedua matamu
puisi yang tak ingin kuselesaikan
tafsir yang selalu aku samakan

tubuhmu album kenangan
dan aku memilih tersesat di dalamnya

libur tak bertemu
rindu selalu bertamu
bukti puncak cinta kita

embun pecah dada berdegup
sesak cemburu
memar oleh matahari
terimalah cintaku yang tak
seberapa ini
dan kemungkinan menerima kegagalan

2026

Pejamkan Matamu

berdengung di telinga
pekik di kepala
menjalar seluruh raga
jiwa entah kemana
seperti ada jeda

daun-daun kering
menahan karma
biar tak lekas lepas
gugur bukan sebagai pahlawan
meluputkan yang seharusnya
habis punah musnah

telah lama ia
tak bergairah, selepas hujan
tak lagi melimpah
pada matahari ia mengalah

berdengung di telinga
pening di kepala
menghitung cuaca sebenarnya
angin dan hujan tanpa musim

2026

Mengingkari Rindu

malam sunyi cahaya telah raib
mengoyak lamunan
buat dada lumat nyeri
esok mungkin musnah

memaki tubuhmu
langit bulan sembunyi
dalam rindu lengkap
tanpa peluk, tiada kecup
dibuat lenyap dari ingatan

rahasia apa
yang dibawa malaikat murung
dilatari requeme mistis
kepedihan

2026

Begitulah Aku Mencintaimu

aku mencintaimu
hingga ke ujung langit
kuingin kita menua tanpa impian
dan waktu
meski sering dipermainkan hantu-hantu

udara dingin, rindu jadi pelangi
meyirat tak habis-habisnya
pada semesta pinggulmu
kususuri hari-hari bahagia
kuhapus seluruh ingatan masa lalu
gemetar dadaku menjelma kupu-kupu
betapa harum rambutmu
yang luruh di keningmu
tiada kebosanan, hanya derita sempurna

2026

Penulis: Wayan Esa Bhaskara
Editor: Adnyana Ole

Tag: Puisi
Avatar

Wayan Esa Bhaskara

Related Posts
Esai

KLAKSON

BY Hartanto Juni 20, 2026

SETENGAH abad yang lalu, saya paling benci mendengar suara klakson (dulu disebut tuter), mobil atau motor. Pasalnya, manakala itu saya sedang belajar stir mobil. Sebab, suara klak...

Read More