17 Agustus 2016, Belum Semua Anak Indonesia Merdeka
MERAYAKAN Hari Kemerdekaan memang bukan sebuah keharaman. Wajar saja rakyat Indonesia merayakannya. Betapa tidak, karena kemerdekaan ini diraih dengan iuran darah para pejuang terd...
DI Bali, benda tajam bukan sekadar alat. Ia bukan hanya pisau yang membelah daging, bukan sekadar keris yang diselipkan di pinggang saat upacara. Namun simbol tentang pikiran dan bagaimana hidup dijalani dengan kesadaran. Setiap enam bulan sekali, benda-benda tajam itu dirayakan pada hari Tumpek Landep.
Ketika hari itu tiba, pagi-pagi, halaman rumah mulai dipenuhi sesajen. Satu per satu kendaraan diparkir rapi, dihiasi janur. Dalam ritual itu, yang diberi sesajen bukan hanya pisau dapur maupun keris warisan leluhur, tapi juga mobil kreditan, laptop kerja, bahkan alat elektronik lainnya.
Orang-orang menyebut Tumpek Landep adalah hari untuk benda tajam, alias otonan besi. Tapi benarkah hanya itu?
Wayan Darta (41), seorang montir di pinggiran kota, setiap Tumpek Landep selalu membersihkan semua peralatan bengkelnya. Kunci pas, obeng, bahkan mesin kompresor dibersihkan sampai mengilap. Setelah itu, ia menaruh sesajen kecil di atasnya. “Biar selamat,” katanya singkat. Tapi setelah ditanya lebih jauh, ia terdiam sebentar. “Ya… bukan cuma selamat. Biar saya juga nggak ceroboh kerja.”
Di tempat lain, Komang Sari (29), seorang pegawai kantor, melakukan hal yang hampir sama. Bedanya, ia tidak punya keris atau alat berat. Ia hanya meletakkan canang di atas laptop, motor, dan alat elektronik lain. “Sekarang semua kerja pakai ini. Jadi tak ada salahnya jika di-bantenin. Selain itu, kalau kita nggak open minded, ya percuma juga merayakan Tumpek Landep,” ujarnya.
Dulu, barangkali makna Tumpek Landep lebih sederhana. Keris disucikan, tombak didoakan, senjata diberkati. Tapi dewasa ini, dunia berubah. Ketajaman tidak lagi hanya pada logam, tapi juga pada informasi, keputusan, dan kecepatan berpikir. Orang tidak lagi berperang dengan senjata, tapi dengan waktu, tekanan, dan tuntutan hidup.
Di tengah semua itu, Tumpek Landep seperti mengingatkan sesuatu yang acap terlupa, bahwa yang perlu diasah bukan hanya alat, tapi juga diri sendiri.
Namun, seperti banyak hal lain di Bali, perubahan pelan-pelan menggeser makna.
Ada yang menjalankan ritual sekadar rutinitas. Sesajen dibuat, doa dipanjatkan, tapi setelah itu semua kembali seperti biasa: terburu-buru, mudah marah, dan acapkali lupa berpikir panjang. Ketajaman yang seharusnya dimaknai sebagai kejernihan justru menjadi ketajaman yang melukai.
Made Raka (55), seorang guru yang hampir pensiun, pernah mengeluhkan hal ini. “Sekarang orang makin pintar, tapi juga makin gampang tersinggung. Ilmu bertambah, tapi kebijaksanaan belum tentu,” katanya.
Ia tidak menyalahkan siapa-siapa. Ia hanya melihat perubahan yang tak bisa dihindari.
Tumpek Landep, dalam hal ini, menjadi semacam cermin. Ia tidak memaksa orang untuk berubah, tapi menawarkan kesempatan untuk melihat diri sendiri. Sudah sejauh mana pikiran diasah? Sudah seberapa bijak keputusan yang diambil?
Pertanyaan-pertanyaan itu jarang diucapkan lantang. Tapi barangkali justru di situlah letak kekuatannya.
Di desa-desa, tradisi masih terasa lebih utuh. Orang-orang berkumpul, saling membantu menyiapkan upacara, tertawa di sela-sela kesibukan. Sementara di kota, suasana berbeda. Semua berjalan lebih cepat. Banyak yang merayakan Tumpek Landep di sela-sela kesibukan. Pagi sembahyang, siang kembali ke kantor. Tidak salah, hanya berbeda.
Pertanyaannya bukan lagi apakah tradisi berubah, tapi apakah maknanya masih dijaga?
Ketika kendaraan dihias janur, apakah itu sekadar formalitas, atau benar-benar pengingat untuk berkendara dengan hati-hati? Ketika laptop atau alat elektronik diberi sesajen, apakah itu hanya simbol, atau ajakan untuk menggunakan teknologi dengan bijak?
Tumpek Landep tidak memberi jawaban. Tapi hanya memberi ruang.
Wayan Darta akan kembali ke bengkelnya setelah sembahyang. Komang Sari akan kembali menatap layar komputernya. Made Raka akan melanjutkan hari-harinya di sekolah. Hidup berjalan seperti biasa. Tidak ada yang benar-benar berubah secara drastis.
Tapi barangkali, ada sesuatu yang sedikit bergeser. Sedikit lebih sadar. Sedikit lebih hati-hati. Sedikit lebih tajam, dalam arti yang berbeda.
Di Bali, banyak hal dirayakan dengan upacara. Tapi di balik semua itu, selalu ada pertanyaan yang diam-diam ditinggalkan untuk dijawab sendiri.
Tumpek Landep bukan hanya tentang benda tajam. Tetapi tentang manusia yang mencoba memahami diri: bagaimana berpikir, bertindak, dan hidup tanpa melukai.
Karena pada akhirnya, yang paling tajam bukanlah pisau atau keris. Melainkan pikiran dan tindakan manusia itu sendiri. [T]
MERAYAKAN Hari Kemerdekaan memang bukan sebuah keharaman. Wajar saja rakyat Indonesia merayakannya. Betapa tidak, karena kemerdekaan ini diraih dengan iuran darah para pejuang terd...
Semalam di tengah gempita dentuman suara sound sistem, saya mengkhayal dibayar 150 juta untuk mengajar 34 jam per minggu, wah pasti kaki saya tidak akan pernah pegal saat berdiri d...
KETIKA mengantar seorang teman untuk membeli sepatu sebagai keperluan bekerja di sebuah instansi pemerintah, kami sempat terlibat obrolan singkat yang pada intinya alas kaki tidak...
BANGKUNG mepalu adaang di Buleleng, jeg pasti rame! Asal gratisss! Iya, babi betina saling sruduk digelar di Buleleng, pasti ramai penontonnya. Apalagi Slank pentas gratisan. Kutik...
MENJELANG Hari Galungan biasanya banyak warga adat menggelar karya gede di Pura. Karya Gede di sebuah Pura merupakan hari yang ditunggu-tunggu warga. Di situ banyak orang akan mema...
ADA semacam mitos yang tampaknya bisa menghantui keluarga Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Buleleng dalam Pilkada, Februari 2017. Yakni, kenyataan bahwa sejak era refor...
AKU adalah ruh sebuah negeri. Negeri nun jauh di sana. Tubuhku bersandar pada pegunungan yang berbaris rapi. Di hadapan mataku terhampar laut utara yang begitu tenang. Mungkin kare...
HALO, kawan sebangsa dan setanah air, sudah makan apa hari ini? Tahu? Tempe? Semoga Tuhan selalu memudahkan rejeki kita, agar tahu dan tempe selalu dapat terbeli. Tahu dan tempe m...
KISAH percintaan memang tak pernah habis jika dibicarakan. Virus-virus cinta dapat tumbuh di mana saja dan kapan saja. Tak seorangpun bisa menduga hal tersebut. Salah satu ajang ya...
I dan Ni oleh banyak orang dianggap title “wong jaba” padahal ini adalah honorific yang generic. I dan Ni adalah honorific. I semacam Mr dan Ni semacam Ms. I dan Ni bukan hanya di...