HARI itu adalah hari yang telah lama saya nantikan. Hari ketika akhirnya saya bisa menyaksikan dunia dari ketinggian 3.145 mdpl, di puncak Gunung Merbabu, di Jawa Tengah, melalui jalur Suwanting.
Sejak lama, saya membayangkan momen berdiri di atas awan, memandang hamparan alam yang tak terbatas. Dalam bayangan itu, puncak selalu tampak sebagai tujuan. Namun saya belum sepenuhnya menyadari bahwa perjalananlah yang justru akan mengubah cara saya memaknai tujuan itu sendiri.
Gunung Merbabu, sebuah gunung berapi tipe stratovolcano yang terakhir meletus pada tahun 1797, dikenal sebagai “Gunung Wanita.” Selain kaya akan nilai sejarah dan spiritual bagi masyarakat Jawa, gunung ini juga menyuguhkan sabana luas yang memikat. Seolah-olah, sejak awal gunung ini memang bukan hanya ruang geografis, melainkan ruang pembelajaran: tentang kesabaran, keterbatasan, dan hubungan manusia dengan alam.
Bersama rekan-rekan di puncak Merbabu | Foto Dok.Penulis
Perjalanan dimulai dari sebuah rencana sederhana. Saya menghubungi seorang teman di Sleman. Karena aturan pendakian yang ketat, kami memutuskan membentuk tim. Lewat media sosial, kami mengajak beberapa orang yang awalnya tidak saling mengenal.
Anehnya, dari ruang asing itu tumbuh kepercayaan. Di titik ini, saya mulai memahami bahwa tujuan bersama sering kali mampu melampaui batas-batas individual, bahkan sebelum langkah pertama dimulai.
Kami membuat grup komunikasi untuk menyusun rencana perjalanan. Saya dan teman saya berangkat dari Sleman menggunakan sepeda motor menuju basecamp, sementara anggota lain datang dari Jakarta menggunakan mobil. Akhirnya, kami berkumpul di titik awal dengan persiapan yang cukup matang. Persiapan ini bukan hanya soal logistik, tetapi juga latihan kecil tentang koordinasi, tanggung jawab, dan kesadaran bahwa perjalanan ini tidak bisa dijalani sendirian.
Pohon viral di Merbabu | Foto Dok.Penulis
Saat registrasi, kami mendapat pengarahan mengenai jalur pendakian serta aturan terkait logistik dan pengelolaan sampah. Di sini, alam seolah memberi pesan awal: bahwa mendaki bukan sekadar menaklukkan, melainkan juga menjaga. Bahwa manusia hanyalah tamu di ruang yang lebih besar dari dirinya.
Perjalanan pun Dimulai
Sejak langkah pertama menuju Pos 1, jalur Suwanting sudah menunjukkan karakternya: terjal dan menguras tenaga. Namun semangat masih terjaga. Kami sempat berhenti di Pos 1 untuk berfoto; sebuah tanda kecil dari perjalanan panjang yang baru saja dimulai. Pada tahap ini, euforia masih mendominasi, dan rasa lelah belum sepenuhnya terasa. Ini adalah fase di mana tujuan terlihat dekat, meskipun sebenarnya perjalanan masih panjang.
Menuju Pos 2, tantangan semakin terasa. Akar-akar pohon yang mencuat menjadi pijakan sekaligus tempat beristirahat. Di Pos 2, kami berhenti lebih lama: makan, mengisi energi, dan tidak melupakan ibadah. Di sinilah perjalanan mulai berubah makna; dari sekadar aktivitas fisik menjadi ruang refleksi. Tubuh mulai lelah, dan di saat yang sama, kesadaran muncul bahwa kekuatan bukan hanya berasal dari fisik, tetapi juga dari ketenangan batin.
Menatap awan di Merbabu | Foto Dok.Penulis
Perjalanan menuju Pos 3 menjadi ujian sesungguhnya. Jalur semakin curam dan tidak rata. Beban logistik terasa semakin berat. Kami berjalan perlahan; berhenti, menarik napas, lalu melangkah lagi. Ritme ini terasa sederhana, tetapi justru di situlah pelajaran penting muncul: bahwa hidup tidak selalu tentang kecepatan, melainkan tentang konsistensi.
Don't Give up on Your Faith
Di tengah kelelahan, alam mulai memperlihatkan keindahannya. Senja turun perlahan, awan menutupi lembah, dan siluet gunung-gunung lain tampak di kejauhan. Rasa lelah seakan terbayar oleh pemandangan yang tak tergantikan. Di titik ini, saya menyadari satu hal: keindahan sering kali hadir setelah perjuangan, seolah menjadi bentuk penghargaan atas ketahanan.
Malam tiba saat kami mencapai sumber air. Kami mengisi persediaan untuk esok hari, lalu melanjutkan ke Pos 3 untuk mendirikan tenda. Udara dingin menusuk, namun kehangatan kebersamaan terasa nyata. Kami memasak bersama, berbagi cerita, dan tertawa dalam keterbatasan. Dari sini saya belajar, bahwa solidaritas tidak lahir dari kenyamanan, melainkan dari situasi sulit yang dihadapi bersama.
Pagi datang dengan suasana yang berbeda; sunyi, damai, dan penuh harapan. Burung-burung beterbangan, kota terlihat dari kejauhan, dan gunung-gunung berdiri megah di cakrawala. Dalam kesunyian itu, muncul kesadaran baru: bahwa semakin tinggi seseorang melangkah, semakin ia diajak untuk diam dan merenung.
Love Comes to Those Who Believe it
Kami melanjutkan perjalanan menuju puncak. Jalur semakin menantang, tetapi kebersamaan menjadi kekuatan utama. Tidak ada lagi ego yang menonjol. Yang ada hanyalah langkah yang diselaraskan. Di sinilah makna tim benar-benar terasa: bukan tentang siapa yang paling kuat, tetapi siapa yang mampu bertahan bersama.
Dan akhirnya, kami tiba di puncak.
Segala lelah, rasa sakit, dan perjuangan seolah luruh dalam satu momen. Berdiri di titik tertinggi, saya hanya bisa terdiam, terharu, dan bersyukur. Namun, yang paling saya rasakan bukanlah kemenangan, melainkan pemahaman: bahwa puncak bukanlah akhir, melainkan titik di mana kita melihat kembali seluruh proses yang telah dilalui.
Indahnya Merbabu | Foto Dok.Penulis
Apa yang selama ini hanya ada dalam bayangan, kini menjadi nyata. Tetapi lebih dari itu, saya pulang dengan sesuatu yang tak terlihat; cara pandang yang baru tentang hidup, tentang proses, dan tentang arti berjalan bersama.
That's the way it is.[T]
Penulis: Muhammad Dylan Ibadillah Arrasyidi Editor: Adnyana Ole
JIKA menyaksikan Lomba Baca Puisi tingkat SMP dalam rangka Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, kekhawatiran bahwa generasi muda semakin jauh dari sastra tampaknya tidak berala...
UJUNG telunjuk dan jari tengah itu bergerak lincah di atas papan beroda sepanjang tak lebih dari sepuluh sentimeter. Sesaat papan skateboard mungil itu meluncur, lalu melompat. La...
PEMBUKAAN Singaraja Literary Festival (SLF), Jumat, 3 Juli 2026, berlangsung berbeda dari kebiasaan. Bukannya diawali dengan tari penyambutan tradisional seperti Panyembrama, Seka...
SOSOK-SOSOK perempuan bergerak perlahan menari di atas panggung, mengenakan caping petani dan membawa slepan (daun kelapa yang sudah tua) sebagai simbol kedekatan dengan alam. Mel...
KALAU puisi adalah sebuah negeri, maka Dr. Kadek Sonia Piscayanti, S.Pd., M.Pd. adalah warga-negara yang paling mencintai negerinya. "I love poetry", tulisnya dalam buku barunya M...
PADA 3 Juli 2026 digelar pameran senirupa yang cukup menarik, pameran senirupa ini, menurut saya, lahir dari keyakinan bahwa seni adalah ‘bahasa universal’ yang mampu menjembatani...
DUA PULUH lima tahun lalu, tepat saat 2 bulan setelah Milenium ketiga dimulai, segerombol anak muda yang menyebut diri mereka Kamasra (Keluarga mahasiswa Seni Rupa) STSI Den...
MANUSIA adalah makhluk yang gemar mengembara.
Tubuhnya berada di sini, tetapi pikirannya berlari ke hari esok. Atau sebaliknya, tubuhnya telah meninggalkan kemarin, tetapi bati...
Sorak-sorai penonton menyemangati temannya ketika tampil sebagai peserta lomba Matajog (egrang bambu) dalam ajang Jantra Tradisi Bali serangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII,...