Razia Warung? Ah, Saya Selalu Sukses Puasa Dikurung Warung
SAYA geli membaca berita tentang razia warung saat Ramadhan. Razia yang katanya demi “mengamankan” masyarakat saat bulan puasa. Ini dilakukan setiap tahun. Ada apa dengan warung? A...
- Katakan dia akan hidup lagi!
- Dia sudah mati!
- Dia akan hidup! Bangunkan dia.
- Jangan, jangan, dia sudah mati. Biarkan dia tenang.
- Percayalah kau, aku tahu dia akan hidup lagi.
Maka aku mulai melihat dia. Kupastikan dia akan hidup. Ya, benar. Dia bergerak-gerak meski itu gerakan tipis pada jarinya. Dia di atas ranjang telah kaku tadi pagi saat ditemukan. Kemarin sore dia masih bernapas. Napas yang tipis dan tersendat-sendat, mungkin seperti juga aliran darahnya yang ikut tersendat. Tapi percayalah bahwa dia tidak mati selamanya. Dia tadi yang kaku, tangannya mulai bergerak-gerak sedikit. Ya sedikit lagi dia akan hidup, menggeliat, mungkin akan berlari.
- Ha... Dia hidup lagi.
- Apa?
- Dia hidup lagi.
- Tidak, dia sudah mati. Biarkan dia mati.
- Dia ingin hidup, jangan halangi dia.
- Siapa yang menghalanginya? Dia memang sudah seharusnya mati. Sudah sangat menderita.
- Itu hanya katamu, tapi tidak dengan kataku.
- Kenapa kau begitu ingin dia hidup?
- Karena dia memang akan hidup. Dia hanya menjadi kaku sebentar. Dia hanya ingin sedikit mencicipi kematian. Sekarang dia sudah tahu rasanya mati, maka dia hidup lagi.
- Sekali mati, berarti mati selamanya.
- Brengsek! Kau seharusnya percaya, dia akan hidup.
- Itu hanya pikiranmu.
- Kau akan melihat dan membuktikannya sendiri.
- Omong kosong!
Sial. Aku tahu dia tidak akan mati selamanya. Oh, sekarang napasnya sudah kembali. Aku melihat napasnya keluar dari hidungnya. Seperti asap yang sangat tipis sekali, berembus menuju ke luar dari lubang hidungnya, berbaur dengan udara luar dan menjadi udara itu sendiri. Betapa dia menjadi yang paling bahagia.
- Mayatnya harus segera dikubur. Orang-orang ramai akan datang menggotongnya.
- Tunggu, dia masih hidup. Kau lihat dia bernapas?
- Aku melihat, tapi tidak hari ini.
- Perhatikanlah dengan seksama, ada napas dari lubang hudungnya.
- Sialan, kau sinting.
- Cobalah kau dekatkan jarimu ke hidungnya.
- Aku bersumpah, dia sudah mati.
- Tidak, dia hanya ingin merasakan mati untuk kemudian hidup lagi.
- Ngelindur.
- Kalau kau tak percaya, dekatkan jarimu ke hidungnya. Rasakan udara mengalir, panas tubuhnya perlahan dihembuskannya bersama napasnya.
- Aku sudah mencobanya tadi. Dingin, tak ada napas.
- Tapi belum sekarang.
- Cukup sekali dan itu telah meyakinkanku.
- Tidakkah kau ingin mencoba dua kali?
- Kalau sekali bisa memastikan kematiannya, kenapa harus dua kali?
- Kalau kau tak mau, carikan orang lain yang mau.
- Kau cari saja sendiri.
- Tidak.
- Kenapa tidak?
- Aku ingin tetap di sini.
- Kau coba sendiri saja.
Aku sendiri kini mencobanya. Kudekatkan punggung telunjukku ke hidungnya. Aku merasakan ada napas merayap di punggung telunjukku bersama panas tubuhnya. Tentu saja dia hidup lagi. Dia benar-benar, seperti dugaanku, hanya ingin merasakan kematian untuk sesaat.
- Dia hidup lagi. Kupastikan dia hidup lagi!
- Pembual. Kenapa aku harus percaya?
- Apakah aku terlihat seperti orang yang tak bisa dipercaya?
- Sepertinya.
- Ayolah, percayalah padaku. Aku sudah merasakan napasnya. Sekarang giliranmu.
- Ya aku percaya, jika dia sudah mati.
- Brengsek.
Aku marah dan beranjak ke luar kamar untuk mencari orang lain. Aku perlu orang yang akan membuktikan jika dia hidup lagi. Ah, tidak. Pikiranku mengatakan tidak. Pikiranku tak mengizinkan aku pergi. Aku harus tetap tinggal di sini. Aku harus berada di dekatnya. Bukankah aku harus memastikan setiap kehidupannya kembali? Bagaimana jika saat aku kembali dengan orang lain dia telah bangun? Bagaimana jika ia telah lari sekencang-kencangnya saat aku pergi, berkeliling kota, sementara aku tak melihatnya dan tak pernah menemukannya lagi. Aku pun kembali ke kamar dan menemukan dia benar-benar hidup. Tangannya bergerak lebih leluasa, tangannya terangkat. Dia melambaikan tangannya meski kelopak matanya masih terkatup. Tunggu saja, matanya akan terbuka.
- Lihat, tangannya terangkat.
- Tidak ada.
- Kakinya terangkat.
- Sinting.
- Kenapa kau tidak percaya? Tidakkah kau lihat itu?
- Karena dia sudah mati.
- Dia hidup lagi. Cobalah untuk melihatnya dengan seksama.
- Aku sudah melihatnya. Dia sudah kaku.
- Ada gangguan di matamu. Segeralah ke dokter mata.
- Kau yang seharunya melakukannya.
- Aku melihat dia hidup lagi. Dia bergerak.
- Pergilah dari sini!
- Kau saja yang pergi. Aku ingin tetap di sini melihat dia hidup lagi.
- Setan!
Ya, kini aku melihatnya dengan lebih jelas. Perutnya bergerak, dadanya naik turun. Itu benar-benar napas. Ah, sial, tangannya terkepal. Matanya, kini, itu benar-benar matanya terbuka. Terbuka lebar. Dia sudah kembali dari kematiannya. Sungguh kepercayaanku tak usah diragukan.
Kini tak hanya membuka mata, tapi lebih dari itu. Dia menggeliat, badannya digerakkannya. Tangannya menggapai pinggir ranjang, dan ya, dia mulai mengangkat tubuhnya. Dia benar-benar bangun. Dalam sekejap dia sudah duduk. Matanya menatapku tajam. Apakah dia ingin mengungkapkan sesuatu?
- Katakan saja. Katakanlah!
Dia diam. Tapi dia benar-benar hidup. Matanya masih menatapku.
- Kau mau bilang apa? Ada yang perlu aku tahu?
Kini kutatap balik matanya. Dan kita saling menatap. Tatapan yang seperti saling menusuk.
- Kenapa diam saja?
Masih saja dia diam. Dalam diam tanpa kata itu, dalam hitungan sepersekian detik, ia melompat, menerjang ke arahku. Lompatan yang cepat sekali sehingga aku tak bisa memperkirakan, atau pun menghindar. Dari lompatan ke arahku, kini ia sudah ada di dalam diriku. Dia adalah aku. [T]
Denpasar, April 2026
Penulis: Supartika
Editor: Adnyana Ole
SAYA geli membaca berita tentang razia warung saat Ramadhan. Razia yang katanya demi “mengamankan” masyarakat saat bulan puasa. Ini dilakukan setiap tahun. Ada apa dengan warung? A...
JUDUL tulisan ini merupakan tema diskusi Kupang Pesta Monolog yang coba menggali daya vital teater dan perannya dalam kehidupan konkret (aktual). Bahwa teater sebagai seni...
DI Bali, lumrah bila di tempat atau kawasan yang disucikan, jika melihat sesuatu, umpamanya benda, hewan atau binatang (langka), orang sering menyebutnya “Due”. (“Due” dibaca seper...
“KINI banyak pengarang muda yang bagus. Banyak sekali,” kata Seno Gumira Ajidarma saat ngobrol singkat pada suatu pagi dengan tatkala.co di Honeymoon Guest House, Ubud, 6 Juni lalu...
SEBUAH analog yang saya anggap pas untuk menggambarkan budaya korupsi di Indonesia adalah tradisi buang sampah sembarangan. Meski lingkungan jadi kotor, menghilangkan rasa nyaman,...
HALO sahabat mahasiswa super di manapun kalian berada, selamat beraktivitas. Semoga semua hidup berbahagia dan dalam lindungan dosen yang maha buasnya. Sangat super sekali kita mas...
Buta paling buruk adalah buta politik. Dia yang buta politik adalah dia yang tidak mendengar, tidak berbicara, dan tidak berpartisipasi dalam peristiwa politik. Dia tidak tahu bahw...
DUNIA pendidikan, modal utama dalam perkembangan peradaban manusia. Inovasi-inovasi dalam ilmu pengetahuan dan teknologi mutakhir terlahir di dalamnya. Sejarah perubahan besar-bes...
PAWAI pembukaan Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-38 dibuka Presiden Joko Widodo alias Jokowi, di depan Monumen Bajra Sandi, Denpasar, Sabtu (11/6). Dan betapa senang mendengar Presiden...
Menikah itu sulit, tapi bercerai ternyata jauh lebih sulit. Saat mau menikah, yang penting hanya sedikit kemantapan hati, komitmen untuk sama susah sama senang, izin orang tua, sed...