Bulan Juni Milik Empat Presiden
“Tulislah tentang aku dengan tinta hitam atau tinta putihmu. Biarlah sejarah membaca dan menjawabnya” (Ir. Soekarno). PEMERINTAH Provinsi Bali sejak Gubernur Wayan Koster meray...
SEBAGAI orang sipil, pernahkah Anda mengirim pesan santai dan personal, lalu dibalas dengan kode angka yang terdengar seperti sandi agen rahasia?
Suatu siang, saya mengirim pesan WhatsApp (WA) kepada seorang teman kantor yang sedang di kantor. Isinya cukup personal. Saya mengabarkan bahwa saya belum bisa datang ke kantor karena masih kontrol kesehatan di rumah sakit.
Anda tahu jawaban yang saya terima?
Singkat, padat, dan sangat kepolisian, "Siap 86!"
Saya sempat refleks melihat pakaian yang saya pakai, apakah saya sedang memakai seragam lengkap dengan lencana. Ternyata tidak. Saya masih pasien rumah sakit yang sedang menunggu giliran diperiksa di sebuah klinik rumah sakit. Akan tetapi, teman saya menjawab seolah-olah dia baru saja menerima perintah penting untuk menjalankan tugas penting.
Saya merasa seperti menjadi seorang komandan.
Fenomena "Siap 86" ini memang ajaib. Kode yang aslinya adalah sandi radio kepolisian untuk menyatakan "dimengerti" atau "siap dilaksanakan," kini telah bermigrasi dari handy talky (HT) polisi ke jempol masyarakat sipil. Istilah ini telah mengalami apa yang bisa kita sebut sebagai “perubahan istilah khusus ke istilah umum”.
Berkat tayangan realitas yang sangat populer di salah satu televisi, istilah "86" mendadak jadi lebih keren daripada sekadar kata "oke," "siap," atau "baiklah". Ada sensasi wibawa yang ikut menempel saat kita mengetik angka 8 dan 6. Mengatakan "oke" terasa seperti staf administrasi, tetapi mengatakan "86" membuat kita merasa punya otoritas.
Latah ini kerap kali tidak memandang tempat. Di grup WA keluarga, saat ibu meminta anaknya membeli air galon, si anak menjawab, "86, Bu!" Di tongkrongan, saat ditanya apakah kopi sudah dipesan, jawabannya, "86, Komandan", sering disingkat, “86, Ndan”. Kita semua mendadak jadi personel kesatuan entah apa, lengkap dengan imajinasi suara kresek-kresek radio di latar belakang.
Di balik kelucuannya, "86" punya sisi komedi gelap yang khas Indonesia. Dalam kamus jalanan, "di-86-kan" punya makna yang jauh berbeda dengan arti aslinya. Ia sering kali menjadi eufemisme untuk "damai di tempat" atau urusan yang diselesaikan lewat "jalur belakang."
Bayangkan risikonya jika terjadi salah paham. Jika seorang istri bertanya pada suaminya, "Papah, tagihan listrik sudah dibayar?", lalu si suami menjawab "Sudah 86", si istri mungkin bingung, apakah tagihannya sudah lunas, atau suaminya baru saja menyuap petugas PLN agar meterannya tidak dicabut?
Kembali ke pengalaman saya di rumah sakit tadi. Jawaban "siap 86" dari teman saya sebenarnya adalah bentuk solidaritas yang unik. Di satu sisi, itu lucu karena terdengar sangat formal untuk percakapan santai. Di sisi lain, itu menunjukkan betapa bahasa bisa menyatukan kita dalam frekuensi yang sama—bahkan jika frekuensi itu sebenarnya milik frekuensi radio kepolisian.
Hal ini terjadi mungkin bukan karena kekurangan kosakata untuk mengungkapkan sesuatu. Ini lebih kepada selera humor masyarakat kita yang senang meminjam atribut otoritas untuk menjadikannya candaan atau sekadar gaya-gayaan. Kita senang merasa "siap" dan "sigap," meskipun kenyatannya kita sedang rebahan di sofa sambil menikmati camilan keripik pisang.
Mungkin sebentar lagi, bukan cuma "86" yang akan kita pakai. Siap meluncur ke TKP dan sejenisnya.
Fenomena "siap 86" adalah bukti bahwa masyarakat kita punya daya adaptasi bahasa yang luar biasa, terkadang agak absurd. Selama itu digunakan untuk mempererat pertemanan dan keakraban, rasanya sah-sah saja.
“Siap 86!” [T]
Penulis: I Made Sudiana
Editor: Adnyana Ole
“Tulislah tentang aku dengan tinta hitam atau tinta putihmu. Biarlah sejarah membaca dan menjawabnya” (Ir. Soekarno). PEMERINTAH Provinsi Bali sejak Gubernur Wayan Koster meray...
īśāvāsyam idaṁ sarvaṁ yat kiñca jagatyāṁ jagat |tena tyaktena bhuñjīthā mā gṛdhaḥ kasyasvid dhanam || "Seluruh alam semesta ini, apa pun yang bergerak di dunia yang bergerak in...
ADA satu pemandangan yang hingga kini selalu mengusik. Seorang barista selesai meracik secangkir kopi, lalu menyadari ada kesalahan kecil. Mungkin ukuran gelasnya keliru, jenis su...
PADA tanggal 14 Juni 2026, saya mengikuti acara kolaborasi Grab Bali Nusra dengan Bali Book Party. Museum Pasifika Nusa Dua adalah lokasi acara diselenggarakan. Siang hari, ...
Kenapa jagat sosmed Bali semakin dijangkiti fenomena: Ngandang Nganjuh. Secara harfiah, istilah ini menggambarkan tindakan yang melintang (ngandang) dan mendorong atau memaksak...
PAGI saat Hari Suci Kuningan, sebagian keluarga sudah mengenakan pakaian adat sebelum fajar menyingsing. Sebagian lagi masih sibuk menata banten, memasak, atau menunggu anggota ke...
DI Desa Kembang Asri hiduplah seekor babi betina bernama Ica. Ia adalah babi kesayangan Made Subur. Ica tumbuh sehat dan jinak. Ia juga sangat menyayangi majikannya. Selain Ica...
KUCING aku seekor kucing yang memanjat jendelamukau penghuni yang selalu menutupnya,bersantai menenteng cangkir teh yang pekat. aku mengeong dan mengamuk, mendesis,mencakar-...
"Gemerlap lampu Manhattan tidak pernah mampu menggantikan cahaya seekor kunang-kunang." KALIMAT itu memang tidak pernah ditulis secara harfiah oleh Umar Kayam dalam cerpennya S...
DALAM sejarah musik populer abad ke-20, sedikit lagu yang mampu merangkum pengalaman eksistensial manusia dalam lirik sesederhana “Knockin’ on Heaven’s Door.” Ditulis oleh Bob Dyl...