Gabriela
Cerpen: Putri Handayani “Gabriela, pohon beringin itu menari. Aku mengerjapkan kedua mataku. Pohon itu tetap menari. Kembali kukerjapkan kedua mataku sambil lalu mengusap-usapny...
di rambutnya, senja tersesat seperti burung yang lupa pulang
cahaya tembaga berjalan perlahan
di antara gelombang malam yang belum lahir
angin berhenti di sana
seperti pengembara yang menemukan mata air
aku melihat matahari kecil tidur di bahunya
dan dunia tiba-tiba menjadi sunyi
seolah waktu menahan napasnya sendiri
rambut itu bergerak pelan
seperti laut yang sedang bermimpi
setiap helainya menyimpan rahasia langit
setiap bayangnya seperti pintu menuju musim lain
barangkali senja tidak pernah benar-benar pergi
ia hanya bersembunyi di kepala seorang perempuan
yang berjalan pelan melewati hari
membawa cahaya yang terlalu lembut untuk dipahami dunia
dan sejak saat itu aku mengerti
mengapa langit selalu memerah
ketika ia menoleh sedikit saja
Padang, 2026
di matanya malam tinggal tanpa suara
ia tidak datang seperti badai, hanya duduk perlahan
di kedalaman yang tidak bisa dijangkau cahaya
aku melihat bintang-bintang kecil bernapas di sana
Seperti ikan yang berenang di laut yang terlalu sunyi
tatapannya panjang
seolah membawa perjalanan yang belum selesai
angin yang lewat di wajahnya tiba-tiba menjadi lebih pelan
seperti takut mengganggu rahasia
yang sedang tidur di dalam pandangannya
kadang aku merasa malam belajar menjadi tenang
dari matanya
sebab tidak ada gelap yang benar-benar gelap
ketika cahaya tinggal diam di dalamnya
dan setiap kali ia memandang jauh langit terasa lebih luas
seolah seluruh alam sedang bersembunyi
di dalam dua mata yang menyimpan malam
dengan begitu lembut
Padang, 2026
di dalam dadanya ada laut yang tidak pernah disebut peta
ombak tumbuh perlahan
di kedalaman yang bahkan angin tidak pahami
ketika ia berjalan aku mendengar suara air yang jauh
seperti pantai yang memanggil bulan
dadanya sunyi, namun di dalam sunyi itu
pasang dan surut terus terjadi
kadang matanya menjadi pantai
kadang napasnya menjadi badai kecil
orang-orang hanya melihat senyumnya
yang lembut seperti cahaya pagi
mereka tidak tahu bahwa di balik tulang rusuknya
ombak sedang menabrak karang
malam sering datang kepadanya
membawa langit yang penuh bintang
dan laut itu diam-diam memantulkan semuanya
seolah dada seorang perempuan
adalah samudra yang terlalu luas
tempat rindu berenang
tanpa pernah benar-benar sampai
Padang, 2026
suatu sore angin berhenti di bahunya
ia datang dari jauh
membawa debu perjalanan dan suara pohon yang letih
namun ketika menyentuh bahu itu
angin tiba-tiba menjadi lembut
seperti seseorang yang baru saja menemukan rumah
rambutnya bergerak pelan
seperti tirai yang membuka rahasia langit
daun-daun berbisik, langit menundukkan cahaya
dan angin tinggal lebih lama dari biasanya
di sana, di bahu seorang perempuan
ia belajar sesuatu yang tidak pernah diajarkan bumi
tentang diam, tentang keheningan yang hangat
tentang doa yang tidak memerlukan kata
angin berputar perlahan
seperti tasbih yang bergerak tanpa tangan
dan sejak hari itu setiap kali perempuan itu berjalan
udara di sekitarnya berubah
menjadi doa yang lembut yang tidak terdengar
namun membuat dunia sedikit lebih tenang
Padang, 2026
di dalam kesunyiannya
ada taman yang tidak diketahui siapa pun
tidak ada gerbang, tidak ada jalan batu
hanya rumput waktu
yang tumbuh pelan di antara napasnya
perempuan itu sering datang ke sana
pada malam yang panjang
ia duduk di bawah langit yang rendah
membawa rindu yang belum selesai
di tangannya tidak ada kitab
namun di dadanya doa tumbuh seperti bunga liar
satu demi satu kelopaknya terbuka dalam diam
angin yang lewat menjadi saksi
bahwa doa tidak selalu berupa kata
kadang ia hanya air mata yang jatuh perlahan
kadang ia hanya napas
yang bergetar di antara dada dan langit
dan taman itu semakin luas
dipenuhi bunga yang tidak bernama
bunga-bunga yang lahir dari kesepian yang sabar
Padang, 2026
di matamu malam tidak benar-benar selesai
ia hanya bersembunyi di sela-sela cahaya
yang pura-pura tenang
aku melihat angin terlipat seperti kain tua
di pangkuan jiwamu
kau menenun badai dengan jarum kesabaran
dari benang-benang luka yang pernah mencoba menenggelamkan namamu
langit pernah jatuh di bahumu aku tahu itu
sebab ada bayang petir yang masih tinggal di kedalaman matamu
namun kau tidak berteriak kau hanya duduk seperti penenun purba
yang mengubah kemarahan angin menjadi selimut sunyi
orang-orang melihat senyummu
seperti jendela kecil yang terbuka sebentar
mereka tidak tahu di belakangnya laut hitam sedang tidur
dan kau perempuan yang tenang itu
telah belajar bagaimana menjahit petir
menjadi garis halus di dalam takdir
Padang, 2026
Penulis: Iwan Setiawan
Editor: Adnyana Ole
Cerpen: Putri Handayani “Gabriela, pohon beringin itu menari. Aku mengerjapkan kedua mataku. Pohon itu tetap menari. Kembali kukerjapkan kedua mataku sambil lalu mengusap-usapny...
TIGA RAMU MENGKUDU Daun; Petiklah aku Tiga kepik muda Ramu padu dengan segenggam garam Dan tiga biji beras genggam Hingga padu resep moyang Hingga...
BAGAIMANA harus melukiskannya, sebagian besar anak kos (mahasiswa) memang dikenal selalu mumet dengan hiruk pikuk perekonomian. Dari media sosial, hingga sosial media, tahu perekon...
Bayangkan sebuah hutan hujan tropis dengan vegetasi yang hanya terdiri dari satu jenis pohon, atau sebuah partitur musik yang notasinya hanya tersusun dari nada ‘do’. Menjemukan se...
Saya salah satu penikmat tari. Saya lahir dari darah seorang ibu, yang dikala mudanya pernah menjadi Penari Zapin Melayu, di salah satu sanggar yang boleh dikata cukup tua di Ponti...
BEBERAPA bulan lagi, tahun akan segera berpindah. Bali punya acara spesial di tahun 2017 & 2018. Suksesi pemegang otoritas pemerintahan provinsi dan beberapa kabupaten di Bali...
MENJADI kota niscaya menjadi modern. Premis ini berlaku pada cara pandang yang menempatkan dua kutub berbeda antara kota dan desa. Desa diasumsikan berbau tradisional, kota identik...
PARA penggiat sastra dan teater di Bangkalan, Madura, Jawa Timur, bersorak ketika dua penulis dari kota itu, Joko Sucipto (puisi) dan Arung Wardana (drama), lolos untuk tampil dala...
Cerpen: Satia Guna Sebutlah aku wanita, mahluk yang menikmati penderitaan dengan berbagai macam rasa sakit. Sebutlah aku tanah, yang selalu diinjak tanpa menerima r...
KABAR DARI ZWOLLE Kenalkan aku pada wangi musim gugur Di tengah pesta roti dan remah-remahnya Yang terbang mengitari sungai Lalu singgah di beranda penuh cerita &n...