PANGGUNG itu kecil saja. Tapi cukup untuk menampung ekspresi masyarakat Desa Les, Kecamatan Tejakula, Kabupaten Buleleng. Di atas panggung kecil itu pula, narasi tentang filosofi Nyegara Gunung—sebuah pandangan kosmologis Bali yang menyatukan gunung dan laut sebagai satu kesatuan siklus kehidupan—disebut-sebut dan berusaha diwujudkan dalam bentuk festival atau boleh jadi disebut sebagai “pesta rakyat”.
Di Desa Les, alam memang tak pernah benar-benar diam. Ia bergerak dari bukit yang kering, menyusuri ladang, menyeberangi jalan-jalan kecil, lalu berakhir di laut yang membentang luas di utara. Gerak itu tak kasatmata, tapi terasa. Dan selama tiga hari, 20 hingga 22 Maret 2026 kemarin, gerak itu dirayakan dalam satu helaan napas panjang: Les Ngembak Festival 2026.
“Berangkat dari tradisi Ngembak Geni setelah Nyepi, festival ini kini berkembang menjadi agenda tahunan masyarakat Desa Les,” terang Nyoman Nadiana, Ketua Pokdarwis Les, kepada tatkala.co, Minggu, 22 Maret 2026.
Les Ngembak Festival
Tahun keempat ini, Les Ngembak Festival mengusung tema “Ridge to Reef Experience” yang meliputi art, culture, cullinary, dan nature. Teman tersebut bukan sekadar jargon pariwisata, tentu saja. Menurut Don Rare, panggilan akrab Nyoman Nadiana, itu cara warga Les membaca dirinya sendiri—sebagai bagian dari alur panjang antara gunung dan laut dalam filosofi Nyegara Gunung yang telah hidup jauh sebelum festival ini lahir.
Namun, masih kata Don, jika kita menepi sejenak dari panggung dan keramaian, festival ini sebenarnya menyimpan dua cerita: tentang perayaan, dan tentang jejak yang ditinggalkannya.
Di Pantai Penyumbahan, tempat festival berlangsung, panggung didirikan tanpa kemewahan berlebih. Laut menjadi latar, langit menjadi atap. Selebihnya, manusia mengisi ruang itu dengan energi mereka.
Talenta lokal tampil tanpa jarak. Band, DJ, memainkan lagu-lagu dan musik yang akrab di telinga warga, modern dance menghadirkan semangat generasi muda, sementara tarian Bali menegaskan akar yang tak tercerabut. Di sela-sela itu, tawa penonton mengalir, bercampur dengan suara ombak yang tak pernah benar-benar berhenti. Tak ada batas tegas antara penampil dan penonton. Semua seperti sedang memainkan peran dalam cerita yang sama.
Di sisi lain, aroma dapur menjadi penanda bahwa festival ini juga tentang rasa. Kuliner khas Desa Les disajikan dengan cara sederhana tetapi jujur. Ikan segar, sambal yang pedasnya menggigit, hingga jajanan tradisional, semuanya hadir sebagai bagian dari identitas di tengah gempuran kuliner-kuliner ekstra proses yang datang dari negeri jauh.
Les Ngembak Festival
Sementara itu, HuB produk kebanggaan lokal menjadi ruang kecil yang penting. Di sana, karya-karya warga dipamerkan: hasil tangan yang tak selalu sempurna, tapi penuh makna. Festival ini, pada titik itu, menjadi lebih dari sekadar tontonan—ia adalah ruang ekonomi, ruang eksistensi.
Menjelang senja, laut mengambil alih peran utama. Perahu-perahu jukung mulai bergerak perlahan. Aktivitas melancaran atau mejukungan menjadi magnet yang tak tergantikan. Pengunjung diajak menyusuri laut, bukan sekadar melihat, tetapi merasakan.
Di atas perahu, waktu seperti melambat. Angin laut membawa aroma asin yang khas, air memantulkan warna langit yang berubah, dan di tangan, makanan khas desa dinikmati tanpa tergesa.
Pengalaman itu terkesan sederhana, tapi justru di situlah kekhasannya. Tak ada teknologi canggih, tak ada rekayasa berlebihan, hanya manusia, alam, dan momen yang dibiarkan terjadi apa adanya. Begitu saja. “Inilah inti dari ridge to reef, perjalanan yang menghubungkan, bukan memisahkan,” kata Don.
Sampai di sini, sebagai desa wisata yang menyandang gelar Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2024, Les disebut ikut mendorong pengembangan pariwisata berbasis kearifan lokal di daerah Buleleng. Pemerintah Buleleng menganggap Les Ngembak Festival sebagai ruang promosi desa wisata, seni budaya, hingga produk UMKM lokal. Kehadiran wisatawan turut memberi dampak ekonomi langsung bagi warga setempat.
“Pengembangan pariwisata harus disesuaikan dengan kondisi dan karakteristik lokal. Konsep desa wisata harus tetap dijaga agar memberikan pengalaman yang autentik,” ujar Gede Supriatna, Wakil Bupati Buleleng, yang membuka festival tersebut.
Namun, setiap perayaan selalu memiliki sisi lain yang jarang disorot saat musik masih dimainkan. Ketika hari terakhir berakhir dan pengunjung mulai pulang, pantai itu tak lagi sama. Sisa-sisa festival tertinggal. Sampah plastik, kemasan makanan, botol minuman—semuanya menjadi bukti bahwa manusia belum sepenuhnya belajar dari apa yang ia rayakan. Pantai yang tadi menjadi ruang perjumpaan, berubah menjadi ruang pekerjaan: warga dan panitia membersihkan, mengumpulkan, memilah.
Persoalan ini bukan hal baru. Ia seperti kutukan yang selalu kembali setelah festival usai. Warga menyadari, panitia memahami, namun solusi belum sepenuhnya menemukan bentuknya. Di tengah semangat merayakan alam, ironi itu terasa begitu konyol: bagaimana mungkin sebuah festival yang mengangkat filosofi keselarasan justru meninggalkan ketidakseimbangan?
Les Ngembak Festival
“Ini terjadi setiap tahun. Saya kira, persoalan sampah ini bukan sekadar masalah teknis. Itu sebuah pertanyaan moral yang menggantung: sejauh mana kita benar-benar memahami filosofi Nyegara Gunung?” keluh Don yang menggerakkan panitia untuk membersihkan Pantai Penyumbahan seusai acara. “Jika gunung dan laut adalah satu kesatuan, maka apa yang kita tinggalkan di pantai, pada akhirnya juga akan kembali kepada kita,” sambung sambung pria paruh baya yang juga dikenal sebagai pejalan, pemandu, dan pedagang itu.
Les Ngembak Festival 2026 memang belum sempurna secara teknis maupun nonteknis. Tapi justru di situlah ia terasa hidup. Festival ini menunjukkan bagaimana sebuah desa berusaha berdiri di antara dua dunia: tradisi yang ingin dijaga, dan modernitas yang tak bisa dihindari. Warga Les mencoba mempertemukan seni, ekonomi, dan pariwisata dalam satu ruang yang sama—meski kadang selaras, kadang saling bertabrakan.
Namun, yang paling penting, festival ini membuka ruang refleksi bahwa merayakan alam tidak cukup dengan menghadirkan panggung di tepi laut; bahwa pengalaman “dari bukit ke terumbu karang” seharusnya tidak berhenti pada apa yang dilihat dan dirasakan, tetapi juga pada bagaimana ia dijaga setelahnya.
Les Ngembak Festival
Mungkin, di masa depan, Les Ngembak Festival tak hanya dikenang karena keindahannya, tetapi juga karena keberaniannya berbenah. Karena pada akhirnya, perjalanan dari bukit ke laut bukan hanya tentang jarak. “Itu adalah tentang tanggung jawab yang harus ditempuh bersama,” Don berpesan.[T]
Sebuah Slide yang Mengusik Kesadaran
TERKADANG, inspirasi lahir bukan dari buku tebal atau hasil penelitian yang rumit, melainkan dari sebuah kalimat sederhana. Itulah yang say...
ETIKA lingkungan merupakan suatu perspektif moral yang menempatkan alam sebagai entitas yang memiliki nilai intrinsik, bukan sekadar objek eksploitasi untuk memenuhi kepentingan m...
SETELAH sempat absen pada tahun 2025, Festival Cerita Rasa di Desa Tukadaya, Jembrana kembali hadir dengan membubuhkan angka 0.4, pada akhir tajuknya Festival Cerita Rasa 0.4. Ang...
PERJALANAN nasib hidup dan mati cerita rakyat ditentukan oleh sikap pemiliknya. Cerita rakyat pun dengan beberapa alasan dikubur. Hal ini dialami oleh banyak sekali cerita rakyat...
TIGA buku tersusun rapi di atas meja. Sampulnya berbeda-beda, tetapi lahir dari ruang akademik yang sama. Ada ‘Lawaté Surup Ring Balé Gedé: Pupulan Puisi Bali Anyar’, ‘Geguritan D...
MENDAPAT amanah dari warganya, Suyadi merasa bangga dan terharu menjadi kepala desa. Jabatan yang membuatnya harus memimpin daerah yang agak jauh dari kota kabupaten. Daerah yang...
MUSIM libur kenaikan kelas dan pascakelulusan sekolah di Bali selalu menghadirkan dua tontonan besar. Yang pertama, Pesta Kesenian Bali (PKB). Yang kedua, Seleksi Penerimaan Murid...
Bagi anak-anak, Rekasadana (Pergelaran) Karya Legendaris Maestro Wayan Berata yang dipersembahkan Sanggar atau Sekaa Gong Gita Bandana Praja, Banjar Belaluan Sadmerta, Desa Dangin...
SEBUAH teks sastra tidak pernah tumbuh sendirian. Agar sampai ke pembaca, ia hadir melalui banyak tangan: penerjemah yang memindahkan makna, editor yang mengolah naskah, literary...
SAAT menyaksikan The Mystical Kecak Dance Glow in The Dark: Hanoman Duta, Amfiteater Panggung Budaya, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Sabtu malam, 16 Juni 2026, yang ditampil...