Razia Warung? Ah, Saya Selalu Sukses Puasa Dikurung Warung
SAYA geli membaca berita tentang razia warung saat Ramadhan. Razia yang katanya demi “mengamankan” masyarakat saat bulan puasa. Ini dilakukan setiap tahun. Ada apa dengan warung? A...
Karya ogoh-ogoh berjudul “Tugu Mayang” dari ST. Pandawa Banjar Tarukan, Desa Adat Mas, Ubud, Gianyar, menguatkan sebuah kecenderungan estetika yang semakin terasa di wilayah Ubud–Tampaksiring dalam perkembangan ogoh-ogoh Bali beberapa tahun terakhir. Di kawasan ini, ogoh-ogoh tampak berkembang dengan karakter yang berbeda dibandingkan dengan kecenderungan yang muncul di Denpasar dan mulai merambah ke Badung.
Jika Denpasar dalam satu dekade terakhir dikenal sebagai ruang eksperimen ogoh-ogoh berbasis teknologi mekanik dan spektakel visual dengan sistem hidrolik, gerakan otomatis, efek cahaya, hingga mekanisme transformasi figur, maka wilayah Ubud–Tampaksiring justru memperlihatkan kecenderungan lain. Di sini, perhatian lebih banyak diarahkan pada bahasa patung itu sendiri: anatomi, tekstur, komposisi, detail kriya, dan kekuatan imajinasi visual.
Teknologi tidak sepenuhnya absen, tetapi ia bukan pusat gagasan. Yang menjadi pusat adalah kekuatan bentuk. “Tugu Mayang” adalah salah satu karya yang secara sangat jelas menunjukkan arah ini.
Ketika pertama kali berhadapan dengan karya ini, kesan yang muncul bukanlah sekadar figur bhuta yang agresif sebagaimana lazimnya ogoh-ogoh. Yang terlihat justru sebuah struktur tubuh manusia yang saling bertumpuk dan menopang, membentuk komposisi yang hampir menyerupai monumen hidup.
Figur utama berada dalam posisi membungkuk dengan lutut menekuk tajam, seperti sedang menahan beban besar. Otot-otot paha menegang, betis mengeras, dan punggung melengkung kuat. Di tangannya ia menggenggam kepala figur lain yang lebih kecil. Figur kedua ini kembali menopang figur ketiga yang bertumpuk di atasnya.
Tubuh-tubuh ini tidak berdiri sendiri. Mereka saling menekan, saling menahan, dan saling menopang, membentuk komposisi yang sangat dinamis sekaligus penuh ketegangan.
Yang paling menarik adalah pusat komposisi yang berada pada pertemuan kepala-kepala figur. Wajah figur besar menunduk dengan mulut terbuka memperlihatkan deretan gigi yang tidak rapi. Kulit wajahnya penuh keriput dengan lipatan yang dalam. Mata setengah tertutup seolah melihat dunia yang kabur. Di tangannya ia memegang kepala figur kecil yang juga memperlihatkan ekspresi penderitaan.
Rantai ekspresi ini menciptakan semacam aliran emosi bertingkat, dari wajah kecil yang tercekik hingga wajah besar yang tampak seperti menelan penderitaan itu sendiri.
Wajah-wajah ini bukan hanya menyeramkan. Mereka tampak lelah, tua, dan hampir putus asa. Ini memberi kesan bahwa figur-figur tersebut bukan sekadar makhluk buas, melainkan makhluk yang memikul beban eksistensi.
Jika diperhatikan dengan teliti, anatomi tubuh patung ini menunjukkan pemahaman yang sangat baik tentang tubuh manusia. Otot-otot paha terlihat jelas, terutama tonjolan vastus medialis di dekat lutut. Tendon pada lutut tampak tertarik kuat, sementara otot betis membentuk tonjolan yang tegang.
Namun anatomi ini tidak digunakan untuk menciptakan realisme netral. Sebaliknya, ia dimanfaatkan untuk mengekspresikan tekanan dan ketegangan. Tubuh-tubuh itu terasa seperti struktur arsitektur hidup. Tulang dan otot menjadi elemen yang menopang keseluruhan komposisi.
Pendekatan ini mengingatkan pada tradisi ekspresionisme dalam seni patung, di mana tubuh manusia sering digunakan sebagai medium untuk mengekspresikan kondisi batin.
Lapisan warna pada kulit figur dibuat dengan teknik yang sangat cermat. Warna dasar kehijauan dilapisi nuansa abu-abu tanah dan semburat kuning pucat. Bayangan halus memberi kesan kedalaman pada permukaan kulit.
Teknik ini menghasilkan efek yang mengingatkan pada patina perunggu tua, meskipun bahan utamanya bukan logam. Kulit tampak hidup, dengan detail pori, keriput, dan lipatan yang sangat nyata. Detail pada gigi dan mulut bahkan mendekati kualitas patung hiperrealistik. Gigi tidak disusun simetris, enamel tampak kusam, gusi sedikit memerah, dan lidah terlihat lembap. Semua ini memberi kesan bahwa patung tersebut hampir memiliki tubuh biologis.
Salah satu figur memiliki rambut panjang yang dibuat dari bahan alami. Serat-serat rambut ini kasar dan menggantung hingga hampir menyentuh bagian bawah komposisi.
Rambut ini tidak hanya memperkaya tekstur visual, tetapi juga menciptakan kontras kuat dengan permukaan kulit yang halus.
Selain itu, garis vertikal rambut juga berfungsi sebagai elemen komposisi yang menyeimbangkan struktur tubuh yang sangat dinamis di bagian atas.
Detail lain yang sangat menarik adalah penggunaan uang kepeng yang dironce pada berbagai bagian tubuh. Kepeng terlihat di pinggang, pergelangan tangan, lengan atas, pergelangan kaki, juga di bagian kepala. Dalam budaya Bali, kepeng bukan hanya alat tukar tradisional. Ia juga memiliki makna simbolik dalam berbagai upacara keagamaan. Dengan menempatkan kepeng di seluruh tubuh figur, pembuatnya seolah menciptakan tubuh kosmis yang dilingkari energi ritual. Figur ini menjadi semacam makhluk yang berada di antara dunia manusia dan dunia spiritual.
Cincin logam terlihat pada beberapa jari tangan, bahkan pada jari kaki. Penempatan ini terasa tidak lazim, tetapi justru memberikan karakter unik pada figur tersebut. Ia tampak seperti makhluk purba yang sekaligus memiliki sentuhan gaya kontemporer. Sabuk logam di bagian pinggang bahkan memiliki ornamen kepala kuda di bagian belakang, yang menambah kesan eksentrik sekaligus simbolik.
Jika figur-figur di atasnya terasa surealis, pedestal yang menopangnya justru sangat realistis. Ia dibuat menyerupai struktur batu padas tua yang dipenuhi: ukiran, patung buthakala, lumut, dan rumput liar. Gambaran ini sangat akrab di Bali, karena banyak tugu atau patung penjaga di catus patha memang tampak seperti ini. Pedestal tersebut terasa seperti potongan nyata dari ruang Bali. Masyarakat Bali menyebutnya bataran.
Di sinilah kecerdasan konseptual karya ini tampak jelas. Pedestal atau bataran-nya sangat realistis, seolah-olah benar-benar berasal dari ruang fisik Bali. Tetapi figur-figur yang berdiri di atasnya begitu surealis dan tidak mungkin ditemui di dunia nyata.
Karya ini seperti mempertemukan dua lapisan realitas sekaligus: sekala (dunia nyata yang dapat dilihat dan disentuh) dan niskala (dunia tak kasat mata yang dipercaya hadir dalam kosmologi Bali)
Dengan cara ini, penonton seperti diajak membayangkan bahwa di perempatan jalan yang kita lewati setiap hari, sebenarnya terdapat makhluk-makhluk maya yang tidak terlihat oleh mata biasa.
Secara estetika, karya ini mengingatkan pada beberapa garis penting dalam sejarah patung Bali. Salah satunya adalah karya Ida Bagus Tilem dari Desa Mas, yang dikenal dengan patung-patung ekspresifnya yang menggambarkan wajah manusia penuh emosi. Tilem sering menampilkan figur dengan ekspresi penderitaan yang kuat dan bentuk tubuh yang terdistorsi.
“Tugu Mayang” terasa memiliki kedekatan dengan semangat ekspresionisme Tilem, terutama dalam penggambaran wajah yang penuh tekanan batin.
Di sisi lain, komposisi tubuh yang berpilin dan saling menekan mengingatkan pada karya Ida Bagus Nyana, yang sering menghadirkan gerak spiral dalam patungnya. Sementara tekstur yang liar dan organik mengingatkan pada tradisi patung Tjokot, yang terkenal dengan bentuk-bentuk makhluk yang tampak seolah lahir langsung dari kayu.
“Tugu Mayang” menunjukkan bahwa ogoh-ogoh kini bukan hanya medium ritual atau festival, tetapi juga ruang eksperimen seni patung.
Di tangan generasi pematung muda Bali, ogoh-ogoh menjadi laboratorium tempat berbagai gagasan estetika bertemu: tradisi kriya, ekspresionisme, simbolisme kosmologis, dan bahkan pengaruh seni patung dunia. Karya ini memperlihatkan bagaimana bahasa patung Bali terus berkembang tanpa kehilangan akar budayanya.
“Tugu Mayang” memperlihatkan bahwa ogoh-ogoh masih memiliki ruang yang sangat luas untuk berkembang sebagai medium seni rupa yang serius. Di tengah kecenderungan spektakel teknologi yang berkembang di beberapa daerah, karya ini menunjukkan bahwa kekuatan patung itu sendiri –melalui detail, imajinasi, dan simbol– tetap mampu menciptakan pengalaman estetika yang mendalam. [T]
Penulis: Agung Bawantara
Editor: Adnyana Ole
SAYA geli membaca berita tentang razia warung saat Ramadhan. Razia yang katanya demi “mengamankan” masyarakat saat bulan puasa. Ini dilakukan setiap tahun. Ada apa dengan warung? A...
JUDUL tulisan ini merupakan tema diskusi Kupang Pesta Monolog yang coba menggali daya vital teater dan perannya dalam kehidupan konkret (aktual). Bahwa teater sebagai seni...
DI Bali, lumrah bila di tempat atau kawasan yang disucikan, jika melihat sesuatu, umpamanya benda, hewan atau binatang (langka), orang sering menyebutnya “Due”. (“Due” dibaca seper...
“KINI banyak pengarang muda yang bagus. Banyak sekali,” kata Seno Gumira Ajidarma saat ngobrol singkat pada suatu pagi dengan tatkala.co di Honeymoon Guest House, Ubud, 6 Juni lalu...
SEBUAH analog yang saya anggap pas untuk menggambarkan budaya korupsi di Indonesia adalah tradisi buang sampah sembarangan. Meski lingkungan jadi kotor, menghilangkan rasa nyaman,...
HALO sahabat mahasiswa super di manapun kalian berada, selamat beraktivitas. Semoga semua hidup berbahagia dan dalam lindungan dosen yang maha buasnya. Sangat super sekali kita mas...
Buta paling buruk adalah buta politik. Dia yang buta politik adalah dia yang tidak mendengar, tidak berbicara, dan tidak berpartisipasi dalam peristiwa politik. Dia tidak tahu bahw...
DUNIA pendidikan, modal utama dalam perkembangan peradaban manusia. Inovasi-inovasi dalam ilmu pengetahuan dan teknologi mutakhir terlahir di dalamnya. Sejarah perubahan besar-bes...
PAWAI pembukaan Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-38 dibuka Presiden Joko Widodo alias Jokowi, di depan Monumen Bajra Sandi, Denpasar, Sabtu (11/6). Dan betapa senang mendengar Presiden...
Menikah itu sulit, tapi bercerai ternyata jauh lebih sulit. Saat mau menikah, yang penting hanya sedikit kemantapan hati, komitmen untuk sama susah sama senang, izin orang tua, sed...