Puisi-puisi Wayan Esa Bhaskara | Hari-hari

Wayan Esa Bhaskara
by Wayan Esa Bhaskara — Maret 15, 2026 in Puisi

Tatkala.co

Sabtu

waktu tak banyak
menit yang kau punya
sebentar-sebentar habis
langit mencatat semuanya

tatapanmu menyeretku
ke labirin cermin
kau berbicara lewat peluk
dan dua butir kecup
dengan menanggung rahasia
setiap sebelum pulang

aku, bahkan untuk memulai satu kalimat
tak bisa, seperti ditelan cahaya
saat itu, dipastikan aku rindu

padahal aku tahu, kemana
tempat yang kau tuju

2025

Kamis 1

aku meninggalkan rumah
dan masuk malu-malu di point kopi pagi itu
kuhadapkan wajah ke daftar menu
pilihanku selalu sama,

beberapa laki-laki seperti
sedang merenung, sambil sesekali
menyeruput kopi
atau menghembuskan kepulan
asap rokok yang aromanya menyengat

dibiarkannya tatapan itu dihangatkan mentari pukul sembilan
dari depan sini, arah jalan menjauh
bergenang linang

2025

Minggu

aku tak pergi ke gereja
setelah kau tak terlihat lagi

kepada puisi
kutulis kata-kata
dan menembangkannya dengan
senandung pilu

kau bak masuk dalam peti mati
yang mengantarmu pulang

2025

Senin

berbahagialah, meski ini Senin
bertahun-tahun di sini,
kau menemukanku
setelah mengembara serampangan

tataplah bibirku
peluklah aku, dan jadikan bayimu
akan kulewati hari ini dengan bahagia

monster itu akan redam
aku tak akan lagi ketakutan

2025

Jumat

aku ingin selalu bahagia bersamamu
kulihat kalender di handphone
mengingatkan hari Jumat
bukan karena aku tak tahu harus kemana
atau menemui siapa
sebab telah kuhadiahkan
seluruh bahagiaku untukmu

sebab, aku lelaki yang kau beri percaya
ketika kalimat
kita saling jaga ya
terucap dari sepasang bibir kita

kita tak akan peduli seberapa
kaki gemetar, atau seberapa kencang
degub dada ini

aku selalu menanti senyummu
hangat tubuhmu setelah prosesi di altar
menikmati roti dan anggur
aku tak berhenti
menginginkanmu meski tak mungkin

2025

Kamis 2

yakinlah, puisi selalu jujur
meski ia tak punya mata telinga
meskipun kau selalu berkata;
aku gombal

ada bahagia, setelah kau racik
secangkir kopi pandan penuh sayang
atau ketikkan pesan rindu
lewat telegram

aku mengabarkan cinta
tiap saat
aku menulis puisi kelahiran kita,
tiap hari
tapi kau mengatakan itu gombal
ketika tiap huruf terasa cemburu, memburu

aku mencintaimu
aku mencintaimu
entah harus berapa puluh kali lagi aku ucapkan ini
atau berapa hari sekali aku harus mengatakannya
dengan emoji bergambar hati
kau merasuk ke dalam pelukanku
dan telah terdiam lama di sana

2025

Rabu

hari ketiga, dia kirim kisah
dari tempat yang tak ku ketahui
katanya, hujan telah melampaui batas-batas
isi kepala dan logika

sambil menjahit kepala,
aku terus memikirkannya
hingga pagi susah payah
menakar rindu
agar api cintaku tetap menjadi mungkin
menghangatkannya hingga, tak perlu lagi bertanya
sebab dia sama merasakannya

2025

Catatan: Aku atau kau dalam puisi-puisi ini menapak tilas kejadian dan ingatan setiap hari. Maka, digunakanlah nama-nama hari sebagai judul semua puisi ini.

Penulis: Wayan Esa Bhaskara
Editor: Adnyana Ole

Tag: Puisi
Avatar

Wayan Esa Bhaskara

Related Posts