Catatan Kecil Putu Wijaya: Dokumentasi, Bagasi Pikiran...
DI samping kritik, dokumentasi juga rawan dalam kehidupan teater kita. Saya beruntung pernah dibonceng masuk Lincoln Center di New York oleh Mas Sal Murgiyanto yang saat itu (1987)...
SUDAH seminggu lamanya bapak dan ibumu seperti orang asing satu sama lain. Di malam hari, bapakmu akan menghamparkan tikarnya di ruang keluarga sekaligus ruang tamu itu dan ibumu menutup tirai kamarnya, menurunkan kelambu dan tidur bersama bantal guling. Meskipun mereka tetap saling melayani: rantang bekal makanan untuk dibawah bapakmu ke sawah selalu sedia di pagi hari, bau peapi[1] dan sayur bening tetap tersaji di nampan pada waktu malam, dan air di kamar mandi selalu penuh karena bapakmu pada dini hari tetap menimba air dari sumur. Mereka tetap memberi penghargaan yang layak kendati enggan memulai percakapan. Ini karena ego bapakmu yang masih memuncak dan ketika ua’ dari pihak ibumu datang menyaksikan keanehan itu dan bertanya pada ibumu soal sebabnya apa, ibumu hanya diam dan tak memberi jawaban apa-apa.
Semua itu bermula ketika adikmu Saiding, S.E.—sarjana pertama dan satu-satunya di kampung Ata’—datang. Sepekan yang lalu dia pulang dari tanah rantau setelah enam tahun berkuliah. Betapa girangnya bapak dan ibumu ketika kepulanganmu yang penuh haru itu disambut meriah warga kampung. Kebahagiaan yang akhirnya terejawantah menjadi hajatan syukuran. Orang tuamu mengambil tabungan hasil panen tiga bulan lalu. Ia memotong satu ekor sapi untuk warga kampung dan mengundang ustad di kota kecamatan untuk memberi ceramah di acara itu dan memberi ceramah dengan topik pentingnya pendidikan.
Adikmu kini jadi tolok ukur kesuksesan di kampung Ata’. Mereka bahkan ketika pulang dari rumahmu, meminta saran dan kiat-kiat apa biar anak mereka juga mampu sekolah tinggi sebab mereka sudah bersusah payah mengumpulkan uang tetapi anak-anak mereka terbatas kemampuannya—mereka bisa membaca, tetapi susah memahami isi bacaanya—meskipun keterampilan bertahan hidupnya tidak usah ditanya. Bapakmu sekadar menjawab dengan singkat agar tidak dikira sombong, “cuman doa saja”, dan ibumu menimpali, “yang kami panjatkan setiap malam”.
Selepas acara meriah itu, adikmu mendudukkan orang tuamu. Kamu berada di tempat itu juga. Tepatnya di depan televisi. Kau tidak tertarik mendengarkan cerita adikmu yang tidak kamu mengerti dan lebih memilih bermain mainan.
“pokoknya, dalam waktu tiga bulan itu uang ibu kembali tiga kalilipat, tiga juta yang kita masukkan, tiga bulan kemudian jadi tiga puluh juta, bahkan bisa langsung jadi seratus juta,” ucap Saiding dengan sangat meyakinknan.
“Apa itu, Nak? Kamu tidak jadi lintah darat kan?” tanya ibumu
“Astaga tidak, Amma. Ini yang disebut investasi. Semakin banyak yang kita investasikan, semakin banyak pula keuntungan yang kita peroleh”
Bapakmu tidak begitu terkesan. Kebahagiaan yang baru saja dirasakannya memudar. Ia ingat sekali ibunya dulu terkena tipu PT. Untung Tabung—semacam koperasi simpan pinjam yang beroperasi mencari nasabah di desa-desa. Mereka menjanjikan nenekmu tiket umroh gratis jika berhasil mencari nasabah sebanyak tiga puluh orang. Nenekmu berhasil, mudah saja ia dapatkan orang-orang yang ingin menabung. Sebagai anak kepala desa nenekmu itu pernah disekolahkan di kota kecamatan jadi dia punya kemampuan komunikasi yang bagus.
Nahas. Saat nenekmu ingin mencairkan hadiah tiket umroh, gedung kantor PT. Untung Tabung itu sudah kosong. Tidak ada siapa-siapa selain gorden yang bergoyang dan ratusan kertas yang tergeletak di lantai berpindah-bepindah tertiup angin. Nenekmulah akhirnya yang jadi amuk sasaran. Dia diarak keliling kampung, dihujat dan dihinakan. Bapakmu yang baru saja menerima kabar kelulusannya di universitas melalui jalur prestasi olahraga di kota kecamatan pulang ke rumah dan mendapati kenyataan bahwa dia tidak mungkin melanjutkan kuliah. Isi rumah bapakmu dijarah oleh warga yang tidak mau rugi. Paling tidak ada yang bisa jadi uang dari perkakas dan perabotan dalam rumahmu. Korban penipuan yang paling banyak kerugiannya melampiaskan amarahnya dengan membakar rumahmu. Begitulah mengapa kamu kini tinggal di kampung Ata’ kampung dari ibumu.
Inilah yang membentuk watak bapakmu. Dia tidak percaya lagi sama uang yang didapat tanpa mengeluarkan keringat. Ingatan traumatis yang membuat bapakmu menjadi pendiam dan pekerja keras. Baginya, uang itu hanya bisa ada kalau kerja keras dalam arti sebenarnya, bukan khiasan. Kalau keringatmu tidak keluar, tidak mungkin itu uang ada. Apatah lagi, saat adikmu sampai pada ujung pembahasannya, bahwa dia butuh sertifikat sawah untuk jadi modal investasinya. Namun, ibumu punya pandangan lain.
“Itulah kenapa Saiding kita suruh sekolah tinggi biar ia tidak perlu kerja keras seperti kita supaya kalau dia jadi pegawai negeri, dia bisa urus Kambu.” Sembari bicara Ibumu menengok ke arahmu.
“Kita tidak mungkin mengurus Kambu terus.”
Kamu dijadikan alasan supaya bapakmu melembutkan hatinya. Namun bapakmu bertahan, bahwa pantang sawah itu digadai. Pamali. Bapakmu masih ingat pesan-pesan dari kakekmu, kalau jadi orang itu jangan suka jual barang-barang, nanti surukawu[2]. Tapi Ibumu bersikeras. Ini karena adikmu juga tidak berhenti merajuk ibumu. Kamu tahu kan seorang ibu pasti rela melakukan apapun untuk kebahagiaan anaknya. Saat bapakmu terlelap, di malam sebelum besoknya adikmu ke ibu kota, ibumu mengambil sertifikat sawah dan memasukkannya ke dalam tas Saiding. Ibumu tidak memberi tahu siapapun tentang kejadian ini, bahkan adikmupun tidak. Ibumu hanya menulis pesan dalam secarik kertas:
Tolong nak, kembalikan sertifikat ini jika sudah berhasil investasimu itu. Jangan kecewakan kasih sayang amma dan abbamu. Dan ingat Kambu. Jangan pernah lupakan dia.
Adikmu pamit. Mobil panther sudah berada di halaman rumah. Bapakmu memeluk adikmu dan setelahnya ibumu memelukmu lebih erat, mencium keningmu lalu membisikkan nasehat: “Ingat Kambu, Nak”. Sebelum beranjak giliran kamu yang dipeluk oleh adikmu sembari mengusap rambutmu. Kamu sesenggukan dan suaramu meracau seperti hendak mengatakan jangan pergi.
Suara deru kendaraan pelan menghilang bersamaan dengan mobil yang tak lagi nampak. Ibumu memberi tahu bapakmu, bahwa ia telah memberi sertifikat sawah itu ke adikmu secara diam-diam. Dan kamu menatap raut wajah ayahmu yang merah. Tangannya mengepal. Matanya berbinar. Dia masuk ke dalam rumah. Duduk di ruang tamu kemudian mengusap ekor matanya. Sejak hari itu bapak dan ibumu tidak lagi saling menegur.
Satu bulan kemudian investasi adikmu gagal total. Dia kena tipu investasi bodong. Uang 200 juta hasil gadai sertifikat itu raib dalam hitungan jam. Adikmu terlena prospek bahwa orang bisa kaya raya dalam waktu ringkas. Ia terpukau dengan ucapan: “daripada ternak hewan lebih baik ternak uang”. Adikmu menghilang tanpa ada kabar.
Dua orang petugas bank ditemani dua orang aparat keamanan mendatangi rumahmu. Mereka menyita sawah, satu-satunya sumber penghasilan dari orang tuamu. Bapakmu terdiam, dia tidak bisa apa-apa setelah menunjukkan dokumen bahwa, sertifikat sawah ini telah digadai dan adikmu tidak dapat membayar tagihan bulananya. Ibumu meraung memohon maaf kepada bapakmu yang sejak saat itu tidak lagi dapat bicara. Dia diam untuk selamanya.
Kabar berembus secepat kilat. Satu kampung langsung tahu apa yang terjadi. Mereka yang tadinya mengelu-elukan adikmu kini berbalik menghujatnya. Mereka pikir sekolah tinggi menjadikan orang makin bisa membahagiakan orang tuanya, bukan sebaliknya bikin sengsara. Apa yang didera nenekmu kini terjadi padamu. Kedua orangtuamu menjadi tertutup. Malu yang sedemikian menyakitkan membuat orang tuamu berhenti berinteraksi dengan warga di kampung. Begitulah ceritanya mengapa kamu kini menggelandang di kota dengan pakaian compang camping, kulit hitam legam dengan aroma yang menyengat.
[1] Ikan Kuah Kuning khas Mandar, Sulawesi Barat
[2] Pamali. Kualat.
Penulis: Syafri Arifuddin Masser
Editor: Adnyana Ole
DI samping kritik, dokumentasi juga rawan dalam kehidupan teater kita. Saya beruntung pernah dibonceng masuk Lincoln Center di New York oleh Mas Sal Murgiyanto yang saat itu (1987)...
SEJARAH pendidikan nasional dimulai ketika tumbuhnya ide nasionalisme. Sebelumnya telah bertradisi berbagai model persekolahan Nusantara, seperti “sekolah” bela diri, kebatinan ata...
SEHARIAN ini lini masa media sosial dipenuhi dengan eforia siswa SMA/SMK yang sedang merayakan kelulusan. Mulai dari status yang berganti hingga kabar dari portal media online tent...
KAMU lulus? Wow, selamat ya, selamat. Setelah melewati ujian nasional sebulan lalu, tepat di Hari Pendidikan Nasional, 2 Mei 2017, ini kamu dinyatakan lulus. Selamat, ya, selamat....
SECARA hitungan politik, Pilgub Bali 2018 sudah dekat, namun nama-nama bakal calon yang muncul dalam obrolan (muncul dengan sendirinya atau muncul melalui upaya sendiri-sendiri) ta...
TELAH agak lama kita tidak terlalu peduli pada seni peran. Teater kita (di Indonesia) saat ini dipenuhi dengan gerombolan orang yang diarahkan di atas panggung untuk melakukan adeg...
SIAPAKAH pemuda? Sebagian besar orang pasti berpikir secara sederhana bahwa pemuda adalah anak muda, remaja, arek, jejaka, perjaka, teruna, dan sebagainya. Sebagian lagi akan berpi...
RAMAYANA seperti ditakdirkan lahir untuk ditafsir. Ke mana pun ia menyebar, di sana ia “bermutasi” menjadi versi tersendiri. Tak terhitung pementasan, novel, cerpen, film, dan berb...
Ctrl + A menemui kata-kata yang telah menghitam. seluruh muasal, riwayat, penanda, silsilah adalah petualangan mendebarkan. sejak mula engkau terlahir dan buncah. kini aku yang re...
Cerpen: Ferry Fansuri ADA reaksi aneh jika Sarmin mengendus-dengus bau dari pakaian dalam wanita itu, ia tampak membuncah sumringah mirip anak jalanan saat sakauw kala menghirup ba...