‘Brown Sugar’ dari The Rolling Stones dan Ingatan Perbudakan
MUSIK populer kerap dipahami sebagai hiburan ringan, namun sejarah menunjukkan bahwa ia sering kali menjadi medium artikulasi pengalaman sosial yang kompleks, bahkan traumatik....
SIANG itu, jalanan Kota Negara penuh oleh lautan manusia. Dentuman gambelan baleganjur bertalu-talu, sorot matahari memantul pada wajah para penonton yang beridiri di sepanjang jalan. Seperti tahun-tahun sebelumnya, masyrakat berkumpul untuk menyaksikan parade ogoh-ogoh menjelang Hari Raya Nyepi pada acara Masikian Festival. Namun, di antara puluhan karya terbaik yang diarak, satu ogoh-ogoh menarik perhatian karena tema yang tidak biasa, bullying.
Ogoh-ogoh itu diberi judul Barbar, karya STT Suta Dharma Kerti, Banjar Banyubiru Kauh, Desa Adat Banyubiru, Kecamatan Negara, Kabupaten Jembrana. Sejak pertama kali diperlihatkan, bentuknya langsung memancing rasa penasaran. Tidak sekedar menampilak sosok raksasa seperti ogoh-ogoh pada umumnya, karya ini menghadirkan sebuah adegan sosial. Seorang figure korban tampak tertekan, dikelilingi figure-figur lain yang merepresentasikan pelaku kekerasan. Ekspresi wajahnyakeras, gesturnya agresif, seolah memperlihatkan tekanan yang sering dialami korban perundungan.
Dalam tradisi Bali, ogoh-ogoh bisanya menjadi symbol bhuta kala, kekuatan negative yang harus dinetralkan saat nyepi. Namun dalam karya ini, Bhuta tidak lagi hanya hadir dalam bentuk raksasa mitologis. Ia menjelma menjadi sifat manusia, kekerasan, penghinaan dan tekanan sosial yang terjadi di tengah kehidupan sehari-hari.
Teman bullying yang diangkat oleh STT Suta Dharma Kerti ini tidak muncul tanpa alasan. Dalam kehidupan manusia hari ini, perundungan menjadi masalah yang sering dibicarkan, baik di sekolah maupun di media sosial. Kekerasan tidak lagi hanya berbentuk fisik, tetapi juga merambat ke ranah verbal dan digital.
Melalui ogoh-ogoh ini, para pemuda STT Suta Dharma Kerti mencoba menerjemahkan realitas tersebut ke dalam bahasa virtual tradisi. Mereka tidak hanya membuat patung raksasa untuk dipamerkan, tetapi juga menciptakan narasi sosial yang bisa dibaca oleh masyrakat luas. Pada akhirnya, di sinilah ogoh-ogoh menjadi lebih dari sekedar karya seni. Ia berubah menjadi medium komunkasi budaya.

Karya ini tak lepas dari dua konseptor yang berperan penting pada proses kreatif ogoh-ogoh Barbar. Mereka adalah Dananjaya Mahendra dan Reka Biambara, pemuda Negara yang memang aktif sejak lama di dunia Seni Rupa. Tak lepas juga karya ini terbentuk karena semangat pemuda dari STT Suta Dharma Kerti itu sendiri.
“Barbar bukan sekedar nama, ia adalah symbol perilaku menyimpang dan ketidakberadaban yang tumbuh di masyarakat modern”, ucap Danan.
Ketika ogoh-ogoh Barbar mulai diparadekan di Kota Negara, perhatian penonton tampak tertuju pada detail visual yang ditampilkan. Beberapa orang terlihat mengabadikan momen dengan telepon genggam mereka, sementara yang lain berdiskusi tentang makna di balik karya tersebut.
Sebagian pononton mengganggap tema ini segar dan relevan dengan kehidupan generasi muda. Namun tidak sedikit pula yang memandangnya sebagai bentuk penyimpangan dari pakem ogoh-ogoh yang seharusnya lebih menonjolkan unsur mitologis.
Perdebatan semacam ini sebenarnya mencerminkan dinamika budaya Bali sendiri. Tradisi tidak pernah sepenuhnya statis. Ia selalu bergerak mengikuti zaman, dipengaruhi oleh kreatifitas generasi yang menjalankannya. Dalam konteks ini, ogoh-ogoh Barbar menunjukkan bagaimana pemuda Bali menggunakan tradisi sebagai ruang kritik sosial. Mereka memanfaatkan momentum budaya yang besar—malam pengerupukan—untuk menyampaikan pesan tentang persoalan yang mereka hadapi sendiri.
Bullying, yang sering dianggap masalah pribadi atau kasus kecil, tiba-tiba menjadi tema yang dipertontonkan di ruang publik. Ia diangkat ke tengah keramaian kota, dipertanyakan bersama-sama oleh masyarakat.
Jika ditarik lebih jauh, karya ini mengandung refleksi filosofis yang menarik. Dalam ajaran Hindu Bali, bhuta kala tidak selalu dimaknai sebagai makhluk gaib semata. Ia juga dapat dipahami sebagai sifat negatif yang ada dalam diri manusia, amarah, keserakahan, kekerasan, dan kebencian.
“Point yang kami ingin tonjolkan sebenarnya adalah raksasa dengan enam wajah, Dimana konsep ini merepresentasikan Sad Ripu,” tambahnya.
Dalam perspektif ini, bullying dapat dibaca sebagai manifestasi bhuta kala pada zaman modern. Ia muncul dalam bentuk ejekan, pengucilan, atau tekanan kelompok yang sering dialami oleh anak muda. Dengan menampilkan tema tersebut dalam ogoh-ogoh, para kreatornya seakan mengingatkan bahwa yang harus dinetralisir menjelang Nyepi bukan hanya makhluk simbolik, tetapi juga perilaku buruk manusia sendiri. Nyepi, pada akhirnya, bukan hanya tentang sunyi dari suara dan aktivitas. Ia juga menjadi momen refleksi untuk menenangkan sisi gelap dalam diri.

“Wujud fisik ogoh-ogoh ini berbentuk sungsang dengan posisi kepala di bawah dan kedua kakinya di atas. Tokoh korban digambarkan sebagai penyandang disabilitas, sementara pelaku direpresentasikan sebagai figus superior,” pungkasnya ketika dihubungi melalui pesan Whatsapp.
Saat ogoh-ogoh Barbar akhirnya bergerak di tengah parade Kota Negara, iringan baleganjur menggema kuat. Patung raksasa itu diangkat dan digoyang oleh para pemuda yang membawanya, menciptakan kesan hidup dan dramatis.
Sorak penonton terdengar setiap kali ogoh-ogoh itu diputar di Catus Pata Kota Negara. Di bawah cahaya matahari yang menerpa kulit para pembawa ogoh-ogoh, ekspresi wajah figur-figur pada patung tersebut terlihat semakin tajam—seolah benar-benar menggambarkan konflik sosial yang ingin disampaikan.
Sore hingga menjelang malam hari, ogoh-ogoh bukan hanya menjadi tontonan menjelang Nyepi. Ia berubah menjadi cerita tentang kehidupan remaja, tentang kekerasan yang sering tersembunyi di balik pergaulan, dan tentang harapan agar masyarakat lebih peka terhadap luka sosial yang sering dianggap sepele. Di tengah hiruk-pikuk parade, pesan itu perlahan mengendap, bahwa bhuta kala tidak selalu datang dari dunia gaib. Kadang ia hadir di antara manusia. Dalam kata-kata yang melukai, dalam tawa yang mengejek, dan dalam diamnya orang-orang yang memilih untuk tidak peduli. [T]
Penulis: Satria Aditya
Editor: Adnyana Ole
MUSIK populer kerap dipahami sebagai hiburan ringan, namun sejarah menunjukkan bahwa ia sering kali menjadi medium artikulasi pengalaman sosial yang kompleks, bahkan traumatik....
BUNG Karno adalah presiden Indonesia yang memiliki cita rasa seni yang tinggi. Dari 8 PresidenIndonesia,Bung Karno, Abdul Rachman Wahid (Gus Dur), dan Susilo Bambang Yudoyonomenon...
SAYA menulis ini bukan hanya untuk diri saya sendiri, tetapi untuk banyak seniman yang mungkin merasakan hal yang sama. Mereka yang menghabiskan waktu bertahun-tahun menempuh pend...
DESA Pedawa di Kecamatan banjar, Buleleng, yang dikenal dengan adat dan budaya yang unik kembali menjadi tujuan pengabdian akademik. Pada hari Rabu, 10 Juni 2026, tim Pengabdian k...
Hari itu, Kamis, 11 Juni 2026, para siswa yang tergabung dalam OSIS dan MPK (Majelis Perwakilan Kelas) SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) berkunjung ke Yayasan Bali Baby...
DALAM kehidupan sehari-hari, kata "absen" sangat akrab digunakan oleh masyarakat. Di sekolah, guru sering mengatakan, "Ayo, sebelum belajar kita absen dulu." Di lingkungan peke...
SUATU pagi di Ubud, seorang wisatawan asing duduk bersila di atas matras yoga. Ia memejamkan mata. Di hadapannya terbentang hamparan sawah yang hijau. Burung-burung berkicau. Angi...
KOMITMEN dalam menjaga kelestarian lingkungan terus ditunjukkan oleh Fakultas Vokasi Institut Pariwisata dan Bisnis Internasional (IPB Internasional). Melalui Program Studi D4 Man...
DARI balik kaca bus berkapasitas empat puluh lima kursi saya melihat malam hari di Banyuwangi, Jawa Timur, cukup gemerlap. Lampu-lampu menebar cahaya sekaligus memberi sihir warna...
DI atas meja makan rumah tangga Indonesia, tempe bukan sekadar lauk pendamping yang hadir sebagai pelengkap nasi. Melainkan pilar ketahanan pangan yang paling jujur, sebuah warisa...