Nge’DJ dengan Dadong Dauh, Siapa Takut?
SORE itu, suasana Pasar Intaran terasa sedikit berbeda dari biasanya. Angin pantai yang biasanya berembus pelan, saat itu sedikit mengamuk. Tapi hembusannya tetap membawa aroma ma...
PERTEMUAN antara malam Takbiran (Idul Fitri) dan hari raya Nyepi di Bali bukan sekadar fenomena kalender yang langka. Peristiwa ini adalah ujian sekaligus etalase bagi model toleransi beragama di Indonesia. Ketika umat Muslim bersiap merayakan kemenangan setelah sebulan berpuasa, di saat yang sama umat Hindu di Bali sedang memasuki fase Catur Brata Penyepian. Di titik inilah, terjadi sebuah negosiasi ruang publik yang menarik untuk dibedah secara mendalam.
Di Bali, perayaan Takbiran yang biasanya identik dengan syiar vokal dan mobilitas massa, mengalami transformasi bentuk menjadi apa yang saya sebut sebagai Takbiran dalam Gening. Gening atau keheningan yang jernih, menjadi bingkai bagi umat Muslim untuk menjalankan ibadahnya tanpa harus mencederai kesucian ritual tetangganya. Ini bukan soal pembatasan hak beragama, melainkan sebuah laku ngempet raga menahan ego kolektif demi harmoni sosial yang lebih besar.
Secara tradisional, Takbiran dipahami sebagai ekspresi syukur yang disyiarkan secara luas. Namun, konteks sosiokultural Bali menuntut redefinisi terhadap cara syiar itu disampaikan. Ketika Nyepi berlangsung, seluruh aktivitas luar ruang dihentikan, termasuk penggunaan pengeras suara dan cahaya yang mencolok. Dalam kondisi ini, umat Muslim di Bali melakukan adaptasi sosioreligius yang sangat taktis.
Takbiran tetap dilaksanakan, namun volumenya ditarik ke dalam ruang-ruang privat seperti masjid atau rumah tinggal dengan mematuhi aturan tanpa pengeras suara luar (speaker luar). Secara teologis, hal ini mengembalikan esensi takbir sebagai bentuk komunikasi vertikal yang intim antara hamba dan Sang Pencipta. Syiar tidak lagi diukur dari seberapa jauh suara itu terdengar, melainkan seberapa dalam makna itu meresap ke dalam sanubari jemaah.
Adaptasi ini menunjukkan bahwa hukum Islam di Bali bersifat fleksibel dalam bingkai Desa Kala Patra (tempat, waktu, dan keadaan). Umat Muslim memahami bahwa ketaatan kepada Tuhan tidak harus bertabrakan dengan penghormatan terhadap tatanan lokal. Keheningan Nyepi justru memberikan ruang akustik yang unik; di mana doa-doa yang dilantunkan dengan lirih justru terasa lebih bertenaga karena tidak terdistorsi oleh hiruk-pikuk duniawi.
Toleransi yang terjadi di Bali saat Takbiran bertemu Nyepi bukanlah hasil dari pembiaran yang pasif, melainkan buah dari manajemen konflik yang matang. Di tingkat struktural, peran Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) dan Majelis Desa Adat (MDA) sangat krusial dalam menyusun seruan bersama. Namun, keberhasilan sesungguhnya ada pada koordinasi di tingkat akar rumput, yakni antara Takmir Masjid dan Pecalang.
Ada mekanisme teknis yang dijalankan: jemaah yang ingin melaksanakan salat Idul Fitri atau Takbiran di masjid biasanya diperbolehkan dengan catatan harus berjalan kaki, menggunakan pencahayaan seminimal mungkin, dan tidak membuat kegaduhan di jalanan. Di sini, Pecalang bukan bertugas untuk melarang, melainkan mengawal agar jemaah bisa beribadah dengan aman tanpa mengganggu ketenangan lingkungan yang sedang melaksanakan Nyepi.
Inilah yang disebut sebagai Toleransi Timbal Balik. Umat Hindu memberikan ruang bagi umat Muslim untuk tetap menjalankan kewajiban agamanya di tengah hari suci Hindu, sementara umat Muslim membalasnya dengan cara menyesuaikan teknis ibadah agar tidak melanggar prinsip Catur Brata Penyepian. Hubungan ini adalah kontrak sosial yang telah teruji selama puluhan tahun di Bali, membuktikan bahwa benturan kepentingan bisa dihindari melalui dialog yang setara.
Secara sosiologis, fenomena ini memperkuat ikatan Menyama (persaudaraan) yang menjadi fondasi masyarakat Bali. Toleransi di sini tidak dipandang sebagai beban atau pengorbanan salah satu pihak, melainkan sebagai investasi sosial. Umat Muslim yang melakukan ngempet raga (menahan diri) sebenarnya sedang menanam benih rasa hormat yang akan dipanen kembali dalam bentuk keamanan dan kenyamanan hidup berdampingan di masa depan.
Praktik ini juga menghapus stigma bahwa agama adalah faktor pemecah belah. Di Bali, agama justru menjadi alat integrasi melalui tradisi seperti Ngejot (berbagi makanan). Meskipun saat Nyepi aktivitas berbagi ini dibatasi oleh aturan tidak boleh keluar rumah, namun semangatnya tetap terasa. Saling pengertian yang terbangun saat malam Takbiran yang sunyi menciptakan rasa solidaritas yang kuat.
Pelajaran penting dari Bali adalah bahwa toleransi sejati membutuhkan kedewasaan emosional. Ia menuntut setiap pemeluk agama untuk mampu menempatkan diri dalam posisi orang lain. Ketika seorang Muslim memilih untuk tidak menyalakan pengeras suara saat Takbiran karena menghormati tetangganya yang sedang Nyepi, ia sedang mempraktikkan moderasi beragama dalam level yang paling konkret. Begitu pula saat masyarakat Hindu memberikan akses jalan bagi warga Muslim menuju masjid, mereka sedang menunjukkan wajah agama yang inklusif.
Pertemuan Takbiran dan Nyepi di Bali adalah sebuah pesan keras bagi bangsa ini: bahwa harmoni tidak memerlukan keseragaman, melainkan kesepakatan untuk saling memberi ruang. Keheningan di malam Takbiran tersebut tidak mengurangi esensi kemenangan Idul Fitri; sebaliknya, ia memurnikannya dari aspek-aspek selebrasi yang bersifat superfisial.
Bali telah membuktikan bahwa kedaulatan agama bisa berjalan beriringan dengan kedaulatan adat. Di bawah langit yang gelap tanpa polusi cahaya dan suara, Takbir dan Nyepi bersatu dalam satu tarikan napas kedamaian. Kemenangan sejati bagi umat Muslim di Bali bukan terletak pada meriahnya pawai, melainkan pada keberhasilan menjaga hati dan laku demi tegaknya kerukunan di tanah yang mereka pijak. Inilah wajah Indonesia yang kita cita-citakan: sebuah bangsa yang mampu menemukan titik temu di tengah perbedaan yang paling kontras sekalipun. [T]
Penulis: Nur Kamilia
Editor: Adnyana Ole
SORE itu, suasana Pasar Intaran terasa sedikit berbeda dari biasanya. Angin pantai yang biasanya berembus pelan, saat itu sedikit mengamuk. Tapi hembusannya tetap membawa aroma ma...
TANAH bekas hak barat berupa eigendom verponding menyisakan persoalan hukum yang tidak pernah sepenuhnya selesai sejak berlakunya Undang-Undang Pokok Agraria. Di satu sisi, hukum...
Ritual: Pintu Masuk, Bukan Tujuan Dalam kehidupan manusia—baik sebagai individu maupun warga negara—ritual selalu memiliki tempat penting. Dalam konteks bernegara, perayaan sep...
HARI itu, Jumat, 3 April 2026, menjadi hari yang tak biasa bagi siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam). Sehari menjelang Hari Suci Saraswati, sekolah ini menggelar lomb...
DALAM dinamika pemerintahan modern, sering kali kita terjebak pada dikotomi yang seolah tak terjembatani: antara kekuasaan yang kuat dan demokrasi yang terbuka, antara efisiensi b...
BEBERAPA hari belakangan ini, di media sosial muncul beberapa gambar rencana pembangunan pusat perbelanjaan. Tidak tanggung-tanggung, dalam pemberitaan, ada dua mall besar yang re...
BICARA dan membicarakan "Seba Baduy”, sepertinya tidak akan pernah ada habisnya. Alasan mendasar yang sulit untuk dibantah bahwa Seba adalah ritual adat suku Baduy yang berkategor...
SEBAGAI orang sipil, pernahkah Anda mengirim pesan santai dan personal, lalu dibalas dengan kode angka yang terdengar seperti sandi agen rahasia? Suatu siang, saya mengirim pes...
“Abadon.” Nama itu menggigit. Dalam tradisi Ibrani berarti kebinasaan, kehancuran, sesuatu yang hilang tak tersisa. Kitab Wahyu 9:11, bahkan mempersonifikasikannya sebagai raja at...
ASTRA menarik tangan ibunya, yang sedang jongkok. Sampah plastik yang dikumpulkan ibunya ia sisihkan. Ibu melepas cengkraman tangan Astra berusaha menaruh sampah plastik ke dalam...