Topeng Tugek Carangsari – Memainkan Topeng Mengolah Karakter
KALANGAN Ayodya di Taman Budaya Bali, malam itu begitu riuh. Gelak tawa dan tepuk tangan terus berganti. Penonton berjejalan. Duduk berdesak-desakan. Banyak yang akhirnya duduk les...
SEMINGGU lalu, mendiang Umbu Landu Paranggi datang lagi dalam mimpi malam saya. Ia berdiri tidak jauh dari saya. Wajahnya seperti yang sering terlihat dalam foto-foto lama; tenang, sederhana, dan seperti menyimpan sesuatu yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.
Dengan kalimat pendek dan tegas ia berkata, “Kembali ke huma!” Kalimat itu terdengar seperti perintah sekaligus nasihat. Setelah itu, mimpi pun berakhir.
Namun kalimat singkat itu terus terngiang-ngiang di kepala saya sejak bangun pagi. Seperti gema yang tidak selesai. Saya tahu kalimat itu bukan sembarang kalimat, sebab ia segera mengingatkan saya pada sebuah larik sajak karya beliau sendiri: “kembali ke huma berhati.”
Sajak itu berjudul Apa Ada Angin di Jakarta.
Dalam sajak tersebut, Umbu menulis tentang kerinduan pada desa, tentang seseorang yang seperti terlempar jauh dari akarnya, terseret ke dalam hiruk-pikuk kota besar. Ada kesunyian yang terasa di antara kata-katanya, seakan-akan kota bukan tempat pulang, melainkan tempat persinggahan yang sering membuat manusia lupa dari mana ia berasal.
Apa Ada Angin di Jakarta
Apa ada angin di Jakarta
Seperti dilepas desa Melati
Apa cintaku bisa lagi cari
Akar bukit Wonosari
Yang diam di dasar jiwaku
Terlontar jauh ke sudut kota
Kenangkanlah jua yang celaka
Orang usiran kota raya
Pulanglah ke desa
Membangun esok hari
Kembali ke huma berhati
Setelah membaca ulang sajak itu, saya mulai memahami mengapa dalam mimpi Umbu memilih kata “huma”.
Huma bukan sekadar rumah. Huma juga bukan sekadar desa. Dalam banyak kebudayaan Nusantara, huma sering merujuk pada tanah asal, ladang kehidupan, tempat manusia menanam dan merawat dirinya sendiri. Mungkin karena itu pula kata itu terasa begitu dalam.
Saya pertama kali mengenal nama Umbu Landu Paranggi saat masih mahasiswa. Ia dikenal luas sebagai penyair besar Indonesia yang lahir di Sumba pada 1943 dan kemudian menjadi sosok legendaris dalam dunia sastra Yogyakarta. Banyak orang menyebutnya “Presiden Malioboro”, bukan karena jabatan resmi, melainkan karena pengaruhnya yang begitu besar di kalangan penyair muda.
Namun Umbu bukan tipe sastrawan yang suka tampil di panggung. Ia justru dikenal sebagai sosok yang memilih berada di pinggir, membimbing banyak penyair muda tanpa banyak bicara tentang dirinya sendiri.
Banyak penyair Indonesia lahir dari sentuhan tangannya, dari diskusi-diskusi malam di Malioboro, dari percakapan sederhana yang kadang lebih menyerupai perenungan daripada pengajaran. Ia seperti guru yang tidak pernah mengaku sebagai guru.
Karena itu pula, ketika ia muncul dalam mimpi saya dan berkata “kembali ke huma”, kalimat itu terasa seperti datang dari seseorang yang memang terbiasa berbicara dengan bahasa simbol.
Setelah mimpi itu, saya terus memikirkan satu hal, yakni, apakah ini sekadar mimpi, atau sebenarnya sebuah cermin dari kegelisahan saya sendiri?
Telah lama saya hidup di Denpasar. Kota ini bergerak cepat. Segalanya terasa mahal. Harga makanan naik, harga kos naik, harga kebutuhan sehari-hari naik. Tetapi pendapatan tidak selalu naik bersama semua itu.
Ada masa-masa ketika saya merasa kota ini seperti arena bertahan hidup yang tidak pernah benar-benar selesai. Setiap pagi orang berangkat bekerja dengan wajah tergesa-gesa. Setiap malam mereka pulang dengan wajah lelah. Kota seakan menelan waktu manusia tanpa memberi kesempatan cukup untuk bernapas.
Pada saat-saat seperti itulah pikiran tentang pulang sering muncul. Pulang ke Jembrana, ke kampung halaman. Tempat di mana hidup terasa lebih pelan, langit masih bisa dilihat tanpa terhalang gedung. Tempat di mana seseorang tidak perlu berlari terlalu cepat hanya untuk bertahan hidup.
Mungkin karena kegelisahan itulah Umbu muncul dalam mimpi saya. Atau mungkin sebenarnya bukan Umbu yang datang, melainkan suara hati saya sendiri yang mencari bentuknya dalam sosok seorang penyair.
Ketika saya menceritakan mimpi ini kepada seorang sahabat, ia memberikan tafsir yang berbeda. Sahabat itu adalah Leonardo Rimba, seorang spiritualis, guru meditasi, sekaligus pembaca tarot yang cukup dikenal di kalangan tertentu.
Menurutnya, kata “huma” dalam sajak Umbu tidak selalu harus dipahami secara harfiah sebagai desa atau kampung halaman.
“Huma itu simbol,” katanya. Ia menjelaskan bahwa dalam bahasa sajak, huma bisa berarti ruang batin tempat manusia kembali menyederhanakan hidupnya.
Artinya bukan sekadar pindah dari kota ke desa. Bukan pula meninggalkan modernitas sepenuhnya. “Huma adalah rumah batin,” katanya.
Ia bahkan mengaitkan konsep itu dengan kisah manusia pertama dalam banyak tradisi spiritual. Dalam tafsirnya, manusia selalu memiliki kerinduan untuk kembali pada keadaan paling awal—seperti Adam dan Hawa sebelum keluar dari surga.
Namun sejak manusia keluar dari surga, ia harus membangun huma di dunia. Huma itu bisa berupa rumah, ladang, keluarga, bahkan jalan hidup yang dipilih seseorang. Sejak saat itu, kata Leonardo, setiap manusia membawa huma di dalam dirinya.
Saya terdiam cukup lama setelah mendengar tafsir itu. Karena tiba-tiba saya merasa bahwa kata “kembali” dalam mimpi Umbu mungkin bukan hanya tentang tempat. Ia juga bisa berarti kembali pada diri sendiri.
Dalam kebudayaan Bali sendiri ada sebuah kalimat yang tidak kalah menarik. Kalimat itu berasal dari Ida Pedanda Gede Sidemen, seorang kawi-wiku besar dari Sanur yang hidup antara 1858 hingga 1984.
Kalimatnya berbunyi:
“Tong ngelah karang sawah, karang awake tandurin.”
Artinya kira-kira: jika tidak memiliki lahan sawah, maka lahan diri sendirilah yang harus ditanami.
Kalimat ini seperti memperluas makna huma. Jika manusia tidak memiliki ladang di luar dirinya, ia masih memiliki ladang di dalam dirinya sendiri. Ladang itu adalah pikiran, batin, dan kehidupan yang ia jalani setiap hari. Di ladang itulah manusia sebenarnya menanam masa depannya.
Mungkin itulah yang dimaksud Umbu dengan “kembali ke huma berhati”. Bukan sekadar kembali ke desa. Melainkan kembali pada ladang batin. Kembali pada sesuatu yang lebih sederhana tetapi juga lebih jujur. Sebab sering kali manusia tersesat bukan karena ia terlalu jauh dari rumah, melainkan karena ia terlalu jauh dari dirinya sendiri.
Kota membuat manusia sibuk mengejar banyak hal; uang, status, pekerjaan, popularitas. Tetapi dalam kesibukan itu manusia sering lupa menanam sesuatu di dalam dirinya. Padahal tanpa itu semua, hidup akan terasa kosong. Seperti ladang yang tidak pernah ditanami.
Saya tidak tahu apakah suatu hari nanti saya benar-benar akan kembali tinggal di Jembrana. Mungkin iya. Mungkin tidak. Hidup sering berjalan dengan cara yang tidak bisa kita rencanakan sepenuhnya. Namun mimpi tentang Umbu Landu Paranggi itu memberi saya satu kesadaran kecil.
Bahwa pulang tidak selalu berarti berpindah tempat. Kadang pulang berarti berhenti sejenak. Berhenti dari kegaduhan. Berhenti dari ambisi yang terlalu keras. Lalu kembali menanam sesuatu di dalam diri sendiri. Mungkin itulah huma. Tempat di mana manusia akhirnya menemukan dirinya lagi. Dan mungkin karena itu pula, dalam mimpinya yang singkat, Umbu tidak berkata banyak. Ia hanya berkata satu kalimat. “Kembali ke huma.” Kalimat yang pendek. Namun cukup panjang untuk direnungkan seumur hidup. [T]
Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole
KALANGAN Ayodya di Taman Budaya Bali, malam itu begitu riuh. Gelak tawa dan tepuk tangan terus berganti. Penonton berjejalan. Duduk berdesak-desakan. Banyak yang akhirnya duduk les...
JIKA di atas meja belajar anda terdapat dua buah benda yaitu gadget dan buku, manakah yang akan anda pilih? Saya percaya, demi sinetron kesukaan ibu-ibu di tivi, kebanyakan dari a...
LAGU anak-anak itu kadang unik, terutama liriknya. Saat Taman Kanak-Kanak dulu kita tidak begitu hirau dan memang tak banyak mengerti arti dan maksud lagunya itu apa. Cuma nyanyi d...
BALI merupakan kepulauan seribu pura yang telah terkenal sejak zaman dahulu. Masyarakat Bali tak lepas dari Tri Hita Karana yang merupakan landasan kehidupan beragama dan beradat....
JIKA benar harga rokok setinggi langit biru, dan jika benar harga tinggi itu bisa menghentikan orang merokok, dan (siapa tahu) nanti benar-benar tak ada yang merokok, bagaimana nas...
PERNAH nyuluh jangkrik? Zaman saya kecil, di desa saya di Jembrana, nyuluh jangkrik (memburu jangrik malam hari) adalah kegemaran saya dan teman sebaya. Jauh-jauh sebelumnya, bapak...
Cerpen: Putri Handayani HAMPIR setiap hari Griya Siwa tidak pernah sepi dari orang-orang yang ngayah1. Mulai dari membuat sarana upakara sampai meracik tirta, semua dilakukan oleh ...
KELAHIRAN istilah 'simakrama' menarik untuk ditelusuri. Awalnya istilah ini yang lebih mengarah pada padanan kata 'silahturahmi', yang mencerminkan keinginan untuk berbicara dan sa...
ADA serombongan remaja sedang berebut peran. Mereka akan menjadi pelakon sandiwara dalam perayaan Agustusan tingkat RT. Peran konglomerat, menteri, dokter, mahasiswa, semua mereka...
GARIS berliku itu menyerupai sungai. Lebar di hulu kemudian menyempit di hilir. Warnanya hijau, biru, dan jingga. Garis berliku serupa sungai itu membelah lukisan menjadi dua bagia...