Bulan Juni Milik Empat Presiden
“Tulislah tentang aku dengan tinta hitam atau tinta putihmu. Biarlah sejarah membaca dan menjawabnya” (Ir. Soekarno). PEMERINTAH Provinsi Bali sejak Gubernur Wayan Koster meray...
Orang Bali memuja leluhur sebagai Jiwa Suci Personal (Pitara-Pitari) dan memuja leluhur sebagai Asal Muasal Kehidupan dan sekaligus Guru Kehidupan yang disebut Bhatara Guru (Sang Hyang Tri Murti: Brahma, Wisnu, Iswara). Bhatara Guru adalah sebutan untuk Sang Hyang Tri Murti yang dalam perwujudan langsung terlibat dengan kehidupan rohaniah dan duniawi manusia.
Kedua aspek pemuliaan tersebut dilakukan di pelinggih Kemulan. Sekalipun mungkin sudah dipahami di kalangan tertentu, di kalangan masyarakat awam masih banyak mempertanyakan dan muncul keragu-raguan: Kenapa leluhur disebut Bhatara Guru? Kenapa Kemulan disebut tempat memuliakan leluhur sekaligus tempat memuja Bhatara Guru, dan sekaligus juga sering disebut sebagai pemujaan Tri Murti atau Tri Wisesa?
Dalam tradisi Hindu Jawa dan Bali altar suci atau pelinggih Kemulan (Rong Tiga) adalah manifestasi luhur ajaran suci bagaimana kedua tahapan pemujaan Level Personal dan Level Transendental disatukan dalam satu media pemujaan.
Secara fisik Pelinggih Kemulan terdiri dari Rong Tiga bagian bawah (Level Personal), dan Rong Tiga bagian atas (Level Transendental).
Dalam prakteknya Hindu Nusantara mengenal mekanisme upakara atau ritual Atma Wedana (seperti Nyekah/Memukur) — Entas-entas dan Tiwah — di mana identitas personal jiwa manusia yang telah berpulang disucikan untuk kembali ke Asal-Muasal Semesta. Nyekah/Memukur, Entas-entas dan Tiwah adalah ritual suci untuk penunggalan jiwa personal luruh ke dalam pangkuan Bhatara Guru.
1. Level Personal: Soroh dan Trah (Keturunan)
Ketika leluhur masih dipuja dengan identitas (sebagai bapak, kakek, atau buyut), mereka menempati rong-rong (bagian bawah) di Kemulan sebagai Bhatara-Bhatari Pitra.
2. Level Transendental: Penunggalan ke Bhatara Guru (Atma ke Paramatma)
Puncak dari evolusi kesadaran di Kemulan adalah ketika leluhur tidak lagi dilihat sebagai individu (Rong Tiga bagian bawah) dan telah manunggal dengan Bhatara Guru atau Sang Hyang Tri Murti (manunggal di Rong Tiga bagian atas).
Inilah keunikan tradisi Hindu di Nusantara. Pemujaan leluhur tidak berhenti pada pemuliaan roh orang yang telah meninggal. Pelinggih Kemulan dan tempat suci di rumah-rumah umat Hindu bukan hanya tempat memuja "orang mati", melainkan laboratorium spiritual untuk:
Dengan pemahaman ini, pemeluk Hindu Nusantara tidak akan terjebak pada mitos individu semata, karena pada akhirnya semua identitas itu "dikembalikan" (dilinggihkan) kepada Sang Pencipta.
Pemahaman tentang "penunggalan ke Bhatara Guru" ini tidak banyak dipahami oleh masyarakat umum, yang masih berhenti hanya pada level pemujaan sosok/personal saja.
Masyarakat belum banyak yang memahami bahwa tradisi Entas-entas, Nyekah, dan Tiwah adalah "mengembalikan Jiwa personal ke Kemulan". Diharapkan dengan melakukan ritual ini umat diajak menyadari bahwa "jiwa personal idealnya melebur dan manunggal ke Atma universal". Tentu karma dari jiwa-jiwa personal yang "belum selesai" dipertanggungjawabkan oleh masing-masing identitas personalnya.
Umat cukup banyak yang terjebak pada level Bhakti lahiriah (ritual) tanpa menyentuh Jnana (hakekat). Fenomena ini memang menjadi realitas teo-sosiologis di masyarakat Hindu Nusantara.
Ada beberapa alasan mendalam mengapa pemahaman "Penunggalan ke Bhatara Guru" ini sering terhenti di level personal:
1. Dominasi Pola Pikir "Kekeluargaan" (Sentrisitas Identitas)
Masyarakat kita sangat kuat dalam ikatan darah. Hal ini membuat leluhur lebih mudah dibayangkan sebagai "orang tua yang sangat sakti" daripada sebagai "energi Atma yang murni". Akibatnya, pemujaan lebih bersifat transaksional emosional: "Saya menyembah nenek-moyang supaya keluarga saya dilindungi." Fokusnya adalah pada sosok, bukan pada esensi ketuhanan yang ada di dalam sosok tersebut.
2. Berhenti di Simbolisme Ritual
Upacara besar seperti Nyekah atau Memukur secara filosofis bertujuan untuk memutus keterikatan jiwa dari identitas duniawi agar bisa manunggal dengan Bhatara Guru/Tri Murti. Namun, seringkali masyarakat hanya fokus pada kemegahan ritualnya saja. Setelah upacara selesai dan simbol leluhur dilinggihkan di Kemulan, mereka tetap memperlakukan entitas tersebut sebagai "pribadi" yang memiliki ego manusia, bukan sebagai Atma yang sudah bebas.
3. Kurangnya Literasi Filosofis (Tattwa)
Pendidikan agama di tingkat praktis lebih banyak menekankan "bagaimana cara upacara" (Ritual/Banten) daripada "mengapa upacara itu dilakukan" (Tattwa). Tanpa pemahaman Tattwa yang kuat, konsep Kawitan yang berarti "Muasal Hidup" bergeser menjadi "Tokoh Sejarah". Akhirnya, orang lebih sibuk mencari "siapa nama leluhur saya" demi prestise sosial (identitas), daripada menyadari "apa itu sumber energi kehidupan dan esensi hidup" (Atma).
4. Jebakan Mitos Silsilah
Ketika pemujaan berhenti pada level personal, muncul fanatisme klan. Mitos-mitos kehebatan tokoh masa lalu dijadikan alat legitimasi sosial. Jika seseorang menyadari konsep Penunggalan ke Bhatara Guru, maka seharusnya ego kelompok itu luruh, karena semua leluhur pada akhirnya menyatu di sumber yang sama. Namun, bagi sebagian orang, mempertahankan "identitas personal" leluhur lebih menguntungkan secara posisi sosial di masyarakat, sebagai sarana hegemoni atau pemertahanan kekuasaan yang diwariskan dengan jalur keturunan.
Jika masyarakat tetap berhenti di level personal, mereka akan:
Bhatara Guru di Kemulan adalah simbol bahwa leluhur telah melampaui nama dan rupa. Beliau adalah Guru Sejati yang mengajarkan kita bahwa asal kita adalah suci, dan tujuan kita adalah kembali ke kesucian tersebut.
Penting dipahami bahwa Bhatara Guru adalah "lautan tempat luruhnya semua jiwa-personal" atau "tempat mengembalikan jiwa sehingga hanyut dalam lautan besar Atma tanpa identitas" atau "muasal semua jiwa".
Bhatara Guru adalah "Samudera Jiwa" dan luruhnya semua personalitas yang membebaskan jiwa dari sekat-sekat sempit identitas manusia.
Ritual Pitra Yadnya, yang kita kenal sebagai Ngaben atau Entas-Entas atau Tiwah, adalah prosesi untuk mengembalikan "jiwa personal" kembali ke "Jiwa Agung atau Atma", yang mana jalurnya adalah penunggalan jiwa personal ke pintu Sang Hyang Tri Murti atau Bhatara Guru sebagai "lautan tempat luruhnya jiwa".
1. Peluruhan Ego dan Nama (Nir-Nama)
Sama seperti sungai yang kehilangan namanya saat menyatu dengan laut, jiwa-jiwa personal (Pitra) yang telah kembali Kemulan (Bhatara Guru) seharusnya tidak lagi membawa nama atau gelar duniawi. Di dalam "Lautan" Bhatara Guru, tidak ada lagi si A atau si B; yang ada hanyalah Sat-Cit-Ananda (Kebenaran-Kesadaran-Kebahagiaan).
2. Bhatara Guru sebagai Muasal (Bhatara Kawitan)
Bhatara Guru bukan sekadar sosok guru dalam wujud manusia, melainkan simbol dari Paramatma (Roh Semesta). Beliau adalah titik nol di mana semua kehidupan bermula dan titik akhir di mana semua kehidupan berpulang. Mengembalikan leluhur ke Bhatara Guru berarti mengakui bahwa mereka telah selesai dengan urusan identitas "aku" dan telah menjadi bagian dari "Aku yang Universal".
3. Konsekuensi Spiritual bagi yang Masih Hidup
Jika kita memahami bahwa leluhur telah hanyut dalam "Lautan Atma" tanpa identitas, maka:
Banyak orang masih memuja di Kemulan seolah-olah mereka sedang berbicara dengan "orang" yang ada di seberang sana. Padahal, melalui Bhatara Guru, kita diajak untuk melihat bahwa leluhur telah melampaui batas-batas pribadi tersebut. Pemujaan ini bukan lagi tentang "meminta kepada kakek-moyang atau nenek moyang", tapi tentang bagaimana kita di duia ini terus terhubung dengan "Sumber Hidup Yang Asali".
Ini adalah ajaran Sangkan Paraning Dumadi yang paling murni: Bahwa asal dan tujuan kita bukanlah sebuah nama, melainkan Kesadaran Tak Bertepi.
Pelinggih Kemulan (Rong Tiga) dalam tradisi Hindu Jawa dan Bali adalah manifestasi cerdas bagaimana kedua tahapan pemujaan luluhur dari Level Personal dan Level Transendental diberikan ruang untuk dipilih kemudian dipahami secara bertahap. Dari melihat leluhur sebagai jiwa personal (rong tiga bagian bawah) sampai pada suatu titik kesadaran bahwa leluhur adalah Atma transendental (rong tiga bagian atas).
Dalam lontar Tantu Pagelaran disebutkan Bhatara Guru menciptakan dari diri-Nya sendiri Brahma, Wisnu, Rudra/Iswara untuk melakukan "karya penciptaan, karya perawatan dan pemeliharaan, dan karya peleburan kembali atau menyatukan kembali pada muasal". Tri Murti sendiri adalah wujud tiga kekaryaan dari Bhatara Guru. Bhatara Guru adalah "panunggalan dari Tri Murti" yang tidak lain adalah "Sumber Hidup" yang mengadakan alam semesta, merawat, dan mengembalikannya pada yang diri-Nya sebagai Sang Muasal.
Pelinggih Kemulan dalam tradisi Hindu Jawa, Bali, dan Nusantara, telah menjadi pusat puja, pusat renungan "ada dan tiada", "hidup dan muasal kehidupan", "pitara (jiwa) dan Atma (muasal dan pemberi hidup semua jiwa)", "keterpisahan dan kemanunggalan", "kefanaan dan keabadian". Kemulan menjadi titik berbagai praktek untuk memahami energi suci kehidupan dengan ritual bhakti dan kontemplasi jnana. Berangkat dari tahapan terbawah, sampai menuju tahapan tertinggi.
Kemulan menjadi tempat untuk memahami bahwa jiwa personal adalah "kehidupan personal yang temporer" dan Bhatara Guru adalah "Sumber Hidup Non Personal dan Non Temporer" yang menjadi pembimbing semesta atau Guru Jagat, yang memberikan tubuh dan jiwa, dan yang hadir di dalam diri dan luar diri kita; dari ketiadaan badan, proses memiliki badan, bertumbuh dan badan menua, sampai kembali kita tidak memiliki badan, lalu menunggal kembali ke Hyang Maha Sunia. [T]
Penulis: Sugi Lanus
Editor: Adnyana Ole
BACA BAGIAN 1:
“Tulislah tentang aku dengan tinta hitam atau tinta putihmu. Biarlah sejarah membaca dan menjawabnya” (Ir. Soekarno). PEMERINTAH Provinsi Bali sejak Gubernur Wayan Koster meray...
īśāvāsyam idaṁ sarvaṁ yat kiñca jagatyāṁ jagat |tena tyaktena bhuñjīthā mā gṛdhaḥ kasyasvid dhanam || "Seluruh alam semesta ini, apa pun yang bergerak di dunia yang bergerak in...
ADA satu pemandangan yang hingga kini selalu mengusik. Seorang barista selesai meracik secangkir kopi, lalu menyadari ada kesalahan kecil. Mungkin ukuran gelasnya keliru, jenis su...
PADA tanggal 14 Juni 2026, saya mengikuti acara kolaborasi Grab Bali Nusra dengan Bali Book Party. Museum Pasifika Nusa Dua adalah lokasi acara diselenggarakan. Siang hari, ...
Kenapa jagat sosmed Bali semakin dijangkiti fenomena: Ngandang Nganjuh. Secara harfiah, istilah ini menggambarkan tindakan yang melintang (ngandang) dan mendorong atau memaksak...
PAGI saat Hari Suci Kuningan, sebagian keluarga sudah mengenakan pakaian adat sebelum fajar menyingsing. Sebagian lagi masih sibuk menata banten, memasak, atau menunggu anggota ke...
DI Desa Kembang Asri hiduplah seekor babi betina bernama Ica. Ia adalah babi kesayangan Made Subur. Ica tumbuh sehat dan jinak. Ia juga sangat menyayangi majikannya. Selain Ica...
KUCING aku seekor kucing yang memanjat jendelamukau penghuni yang selalu menutupnya,bersantai menenteng cangkir teh yang pekat. aku mengeong dan mengamuk, mendesis,mencakar-...
"Gemerlap lampu Manhattan tidak pernah mampu menggantikan cahaya seekor kunang-kunang." KALIMAT itu memang tidak pernah ditulis secara harfiah oleh Umar Kayam dalam cerpennya S...
DALAM sejarah musik populer abad ke-20, sedikit lagu yang mampu merangkum pengalaman eksistensial manusia dalam lirik sesederhana “Knockin’ on Heaven’s Door.” Ditulis oleh Bob Dyl...