Puisi-puisi Silvia Maharani Ikhsan | Zarifium, Mencintaimu, Klise

Silvia Maharani Ikhsan
by Silvia Maharani Ikhsan — Maret 08, 2026 in Puisi

Tatkala.co

ZARIFIUM

Langit hari itu mengandung muatan emosi
Yang dikubur terlalu lama dalam pori-pori langit
Hingga berubah menjadi semacam zat yang tak bisa larut.

Udara menjadi berat oleh kenangan yang belum pernah terjadi
Kenangan yang mencoba menjelma jadi aroma,
Tapi tersendat di leher dunia.
Ada sesuatu yang ingin jatuh, tapi tak tahu bentuknya.
Mungkin air, mungkin suara, mungkin wajah.
Tapi tak ada yang diizinkan keluar.
Karena mendung itu bukan langit.
Bukan awan.
Tapi penahanan yang belum menemukan alasannya sendiri.

Burung-burung yang biasa menari
Di sela-sela udara
Kini mengerut jadi titik bisu.
Mereka tahu langit itu sedang tidak berbahaya,
Namun juga tak bisa dipercaya.

Lalu datang angin.
Angin itu hanya lewat,
Membawa puing-puing dari tempat yang tidak sempat diberi arah.
Dan dalam desah yang terlalu pelan untuk disebut suara, terdengar:

"Aku pernah tahu bagaimana caranya melepaskan. tapi waktu itu aku masih punya nama."

Tapi yang turun bukan hujan.
Yang turun adalah rasa yang sudah kehilangan bentuk.
Menjadi debu lembap yang tak mampu membasahi, tak mampu mengering.

Dan di saat itu, tanah pun menolak menyerap.

“Jatuhmu bukan milikku,” kata bumi dengan suara yang tidak lahir dari pusatnya.

Mendung itu terus mengandung
Sampai akhirnya menguap
Menjadi bentuk yang bahkan kabut pun malu untuk meniru.
Ia tidak pernah menangis.
Karena yang lupa,
Tak bisa diingatkan.
Dan yang menahan terlalu lama,
Akan menjadi sesuatu yang tak bisa dikenali lagi sebagai rasa.

Boyolali 26

MENCARI MAKNA

Aku tak lahir dari temu
Aku tak menuju temu
Aku tertanam dalam sulur Pikiran yang tak rindu akar

Segala bait tak kusebut sajak
Segala hukum tak kusebut landas
Kujahit teori dari benang-benang asing
yang tak pernah dianggap wajar oleh logika yang membatu

Jika nafasmu masih menunggu arah
Tutuplah lembar ini
Sebab yang kubawa bukan hikmah
Melainkan rintik keganjilan
Yang menolak dilahirkan
Teori ini lahir dari luka pikiran
Yang terlalu lama berbincang dengan ruang yang tak punya nama

Aku menyebutnya ''Surealis''
Hukum puisi berliku tanpa sudut pandang

Tiada batas makna
Tiada simpul jawaban
Tiada tempat berdiam

Yang ada hanya puing kalimat
Yang tak sudi menjelaskan dirinya sendiri

Boyolali 26

RAHIM BUMI, RAHIMKU

aku adalah tanah
yang pernah kau bajak tanpa permisi
kau gali sumurnya, kau tanami benihmu
lalu kau tinggalkan, tak pernah kau rawat
kering dan patah

aku adalah rahim
yang kau puja saat subur
dan kau kutuk saat berdarah
kau puji saat memberi
yang kau abaikan saat menanti

bumi dan aku sama-sama tahu
sakitnya dicintai hanya karena fungsi

kau tak pernah bertanya,
apa yang kami rasakan saat retak?
saat gempa merobek punggungku,
saat menstruasi memanggil langit dalam nyeri
saat akar tumbuh perlahan
dan tak kau lihat sama sekali

kami tak butuh diselamatkan
kami hanya ingin didengarkan
dipeluk tanpa rencana
dirawat tanpa ambisi

aku ingin kau tahu
bahwa dalam setiap denyutku
ada nyanyian daun
ada air susu ibu
ada nyeri yang suci
ada hidup yang memilih untuk terus mengalir

jika kau mau mencium bumi perlahan
maka ciumlah juga bekas luka di tubuhku
sebab kami satu
kami saudara
kami rumah
Boyolali 26

DAGU

Ada yang duduk di atas tulang rahang tapi bukan wajahnya
Ia tidak pernah bernafas tapi selalu kehabisan udara
Ketika selatan diri retak bukan retaknya yang terdengar
Tapi napas nenek moyang yang tak sempat dilahirkan
Di situ dagu tak tumbuh
Ia menunggu perintah dari poros yang tidak punya pusat
Hanya gerak tanpa arah dan arah tanpa gerak

Waktu itu tubuh menyangka Ia rumah
Tapi kunci pintunya adalah suara yang tak bisa dieja
Mereka menyebutnya kebesaran
Padahal yang mereka lihat hanya bayang-bayang
Tidak ada pantulan
Hanya gema yang tidak tahu siapa yang bersuara
Dagu itu seandainya tumbuh hanya akan menjadi jembatan bagi perahu yang tak percaya pada air

Dan ketika sorot mata menatap ke dalam tengkorak
Ia tidak melihat otak
tapi sawah yang ditanam dengan ego orang lain
Maka tumbuhlah Ilalang yang bisu tapi tajam menyayat perasaan yang bukan miliknya
Menyakiti luka yang Tak pernah dialami
itulah sebabnya dagu itu memilih tidak tumbuh
sebab jika Ia tumbuh, Maka seluruh selatan akan bergeser
dan kita semua akan terbangun di utara yang tidak kita kenal
Boyolali 26

AKU ADA ATAU TIADA

Aku berjalan di antara batas-batas yang tak terlihat, sebuah garis halus yang membelah kenyataan dan ilusi. Langkahku ringan, tapi jejaknya tak pernah tertinggal. Seakan keberadaan ku hanyalah bayangan, diterpa angin lalu hilang tanpa pernah benar-benar ada.

Aku bertanya—pada langit yang tak menjawab, pada tanah yang tak bergeming, pada malam yang selalu diam. Mungkinkah aku hanyalah gema dari suara yang telah lama padam Ataukah aku adalah riak kecil di lautan, yang datang hanya untuk menghilang?

Dalam tidurku, aku melihat dunia yang tak dikenal, dimana waktu tidak berputar, dan nama-nama tidak pernah diberikan. Aku ada di sana, tapi aku bukan aku. Aku mendengar bisikan yang berasal dari kesunyian, suara-suara yang menuturkan kisah tanpa kata.

Seseorang menyentuh dadaku—dingin, tapi lembut seperti embun yang jatuh tanpa suara. Dia berkata, “Lupakan dunia yang kau genggam. Kau tak perlu dikenali untuk tetap ada. Kau tak perlu diingat untuk tetap berarti.”

Aku tersenyum, atau mungkin tidak.
Aku hidup, atau mungkin mati.
Aku tak tahu, dan aku pun tak peduli.

Karena aku adalah angin yang berbisik di antara celah pintu, aku adalah hujan yang jatuh tanpa pernah ditunggu, aku adalah kisah yang tak pernah ditulis, tapi tetap ada dalam benak mereka yang tak ingin melupakan.
Boyolali 26

MENCINTAIMU

Aku mencintaimu
Seperti doa manis yang khusyu kau mohonkan dalam sunyi
Ketika dia terpejam dalam lelap
Dan kau sedang melukis wajahnya dalam bingkai cemas

Aku mencintaimu
Tanpa pernah bercermin tentang rasa sayang yang telah kau habiskan hanya untuk satu nama
Sementara aku rinai gerimis yang tak pernah kau sentuh sedikitpun

Aku mencintaimu
Lewat kata tak pernah kuucap ataupun tertulis
Hanya sekedar keheningan caraku memanggil Tuhan
Untuk selalu menjagamu

Aku mencintaimu
Tanpa harus selalu menunggu hatimu terketuk
Cukup menikmati adamu dalam bumi yang sama tempat kita berpijak

Aku mencintaimu
Sampai nafas ini memutus rasa
Dan aku berpulang membawa secuil rasa yang selalu kujaga tanpa dusta

Nanti bila rasa ini jatuh pada hatimu
Itulah hidayah yang lambat kau pahami dari adaku

Boyolali 26

KLISE

Aku menulis pengakuan
Ketika matahari belum bangun
Dan daun-daun belum mandi
Sepucuk puisi yang kutulis seperti angin yang gemetar
Hingga cangkir menumpahkan ampas kopi di wajahku

Isinya hampir sama dengan semut yang berbisik di telingamu
Tentang selembar daun yang pernah jatuh
Ingin kembali bergandengan dengan ranting

Ditiap paragraf angka-angka adalah remah cahaya yang kupungut dari patahan wajah bulan
Bukan pantulan dari surealisme yang sedang berkaca
Atau dari ketukan hujan di atas balkon rumahmu
Bukan pula mata angin yang diam-diam mengintip dari jendela kamar mandimu

Bila kau membacanya hanya serupa buih sabun sisamu beronani
Biarkan aksaraku mencari klimaks nya sendiri

Boyolali 26

.

Penulis: Silvia Maharani Ikhsan
Editor: Adnyana Ole

Tag: Puisi
Avatar

Silvia Maharani Ikhsan

Related Posts