LAYAR putih besar sudah terpasang di panggung aula Yayasan Yasa Kerthi, Karangasem, Jumat (6/3) malam. Gedung seluas 500 m2 yang biasanya sepi dan hening di malam hari ini, mendadak ramai dihadiri hampir 500 orang. Di sinilah, Boomba Ride akan diputar. Film India berdurasi 70 menit ini akan menemani masyarakat Karangasem hingga pukul 20.30 Wita.
Penonton yang terdiri dari komunitas teater, siswa, mahasiswa, dan masyarakat umum datang dengan sumringah. Malam ini terasa sangat istimewa karna sudah sangat jarang, bahkan mungkin tidak pernah lagi, komunitas film mengadakan kegiatan nonton bersama. Pada dekade sebelum 2000-an, layar tancap memang sering diadakan, bahkan hingga ke desa-desa. Namun, setelah TV semakin marak dan digitalisasi ferfilman semakin merebak, layar tancap sangat jarang ditemukan. Ini mungkin menjadi kesenangan tersendiri bagi ratusan penonton yang hadir.
Bioskop India Jalan-Jalan di aula Yayasan Yasa Kerthi, Karangasem | Foto: Grace
Kegiatan menonton film ini merupakan program penguatan kebudayaan India oleh Consulat General of India, Bali bersama Teater Garaka dan Singaraja Menonton. Tajuknya adalah Bioskop India Jalan-Jalan.
Ada sesi menarik sebelum film India itu diputar, yaitu pemutaran film pendek karya siswa. Ada dua film pendek yang diputar, yaitu Terjebak karya Teater Garaka SMA Negeri 1 Amlapura dan Sebelum Cahaya Itu Padam karya Teater Galang Kangin SMA Negeri 2 Amlapura. Sesudah kedua dilm ini diputar, Tarania, selaku host dalam acara ini memanggil Kardian Narayana, filmmaker dari Singaraja Menonton untuk memberikan kritik atas kedua karya tersebut.
Orisinalitas dan isu adalah hal utama yang disoroti oleh Kardian. Praktisi film yang aktivitasnya sudah menasional ini mengungkapkan, semasih menjadi siswa, tidak apa-apa karya kita jelak, kurang bagus, tetapi jujur, termasuk juga pemuatan musik. Kejujuran akan menjadi fondasi baik dalam berkarya.
Dua film pendek karya siswa
Bagi Kardian, kelemahan lainnya dari dua film itu adalah kekritisan atas isu yang menjadi dasar pembuatan film. Baginya, isu kedua film di atas: narkoba dan keluarga, belum cukup kritis. Pola alurnya pun masih template, misalnya seorang pemuda dijebak memakai narkoba lalu ditangkap polisi. Pun dalam film kedua, seorang anak yang kuliah, lalu kembali ke rumah dengan ibu yang sudah meninggal.
Tepat pukul 19.00 Wita saat perwakilan Konsul India selesai menyampaikan pidatonya, lampu sorot mulai di padamkan. Semua mata pun tertuju pada layar putih besar di depan mereka.
Boomba Ride diputar. Film diawali dengan komedi dari tokoh Boomba sehingga penonton berhasil dibuat tertawa bersama. Namun, hingga beberapa menit berukutnya, penonton mulai paham bahwa flim ini bukan komedi biasa.
Boomba Ride mengisahkan realitas pendidikan yang dijalankan di daerah pelosok. Berkisah tentang sebuah sekolah dasar di pedesaan Assam yang hanya memiliki satu-satunya murid yaitu "Boomba". Para guru di sana terus berjuang mempertahankan sekolah agar tidak tutup. Namun, sayangnya, motifnya sesungguhnya bukan untuk pendidikan, bukan untuk melihat anak didiknya sukses di masa depan, melainkan tujuan ekonomi agar mereka tidak kehilangan uang yang diberikan pemerintah untuk mengelola sekolah itu. Boomba sendiri tahu posisinya sebagai kunci bisnis guru-gurunya. Ia pun dengan sengaja menyusahkan mereka, misalnya dengan enggan datang ke sekolah. Agar mau datang ke sekolah, guru-gurunya terus membujuknya dengan makanan, ayam kampung, bahkan uang.
Pemutaran film Boomba Ride | Foto: Grace
Meskipun bernada komedi, film ini menyoroti realitas kenyataan pahit mengenai buruknya infrastruktur sekolah di pedesaan dan pelosok terpencil. Film ini juga juga merupakan satire terkait korupsi di tingkat bawah. Memberikan gambaran bahwa permasalahan pendidikan itu sistemik, dari pemerintah paling atas, lewat kebijakan politik pendidikannya, hingga pelaksana paling bawah melalui korupsi-korupsinya. Kisah dalam film ini memang sederhana, tetapi ada peristiwa yang menyentuh hati, sekaligus menyindir, menunjukkan bagaimana pendidikan seharusnya mentransformasi kehidupan, namun justru dijadikan alat korupsi menerima uang.
Boomba Ride berakhir dipukul 20.20 Wita. Namun, aktivitas tidak berhenti. Rintik hujan memang turun di malam itu, tetapi antusiasme penonton takturun. Di Akhir flim, penonton diajak berdiskusi.
“Dari flim yang saya nonton, itu sangat memotivasi saya sendiri. Saya menyadari bagaimana ketimpangan pendidikan antara daerah perkotaan dan di pelosok pedasaan. Karenanya saya berharap besar, ketika saya astungkara berhasil menjadi seorang guru. Saya sangat berharap sekali nantinya saya akan di tempatkan di daerah pelosok-pelosok kecil. Tidak masalah mengenai jarak tetapi mengenai bagaimana saya memberikan pendidikan yang layak bagi anak-anak disana.” Ucap Dayu salah satu Mahasiswa STKIP Agama Hindu yang merupakan salah satu penonton setia dalam acara itu.
Penonton pada acaraBioskop India Jalan-Jalan di aula Yayasan Yasa Kerthi, Karangasem | Foto: Grace
Di akhir penyampaiannya, Aries Pidrawan, salah satu fasilitator dalam kegiatan “Bioskop India Jalana-Jalan” mengungkapkan, dari beberapa film yang ditentukan, ia memilih Boomba Ride karena dianggap sangat selaras dengan kondisi pendidikan saat ini di Indonesia, termasuk juga di Karangasem. Yayasan Yasa Kerti sangat dekat dengan kampus pendidikan, juga dihadiri oleh siswa dan praktisi pendidikan. Jadi, menurutnya, pemutaran Boomba Ride bisa menjadi bahan refleksi bagi penguatan pendidikan di Karangasem. Boomba Ride adalah pemantik kesadaran bahwa di Karangasem sendiri, penguatan kualitas pendidikan masih perlu ditingkatkan. [T]
Penulis: Ni Kadek Grace Vernita Editor: Adnyana Ole
JIKA menyaksikan Lomba Baca Puisi tingkat SMP dalam rangka Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, kekhawatiran bahwa generasi muda semakin jauh dari sastra tampaknya tidak berala...
UJUNG telunjuk dan jari tengah itu bergerak lincah di atas papan beroda sepanjang tak lebih dari sepuluh sentimeter. Sesaat papan skateboard mungil itu meluncur, lalu melompat. La...
PEMBUKAAN Singaraja Literary Festival (SLF), Jumat, 3 Juli 2026, berlangsung berbeda dari kebiasaan. Bukannya diawali dengan tari penyambutan tradisional seperti Panyembrama, Seka...
SOSOK-SOSOK perempuan bergerak perlahan menari di atas panggung, mengenakan caping petani dan membawa slepan (daun kelapa yang sudah tua) sebagai simbol kedekatan dengan alam. Mel...
KALAU puisi adalah sebuah negeri, maka Dr. Kadek Sonia Piscayanti, S.Pd., M.Pd. adalah warga-negara yang paling mencintai negerinya. "I love poetry", tulisnya dalam buku barunya M...
PADA 3 Juli 2026 digelar pameran senirupa yang cukup menarik, pameran senirupa ini, menurut saya, lahir dari keyakinan bahwa seni adalah ‘bahasa universal’ yang mampu menjembatani...
DUA PULUH lima tahun lalu, tepat saat 2 bulan setelah Milenium ketiga dimulai, segerombol anak muda yang menyebut diri mereka Kamasra (Keluarga mahasiswa Seni Rupa) STSI Den...
MANUSIA adalah makhluk yang gemar mengembara.
Tubuhnya berada di sini, tetapi pikirannya berlari ke hari esok. Atau sebaliknya, tubuhnya telah meninggalkan kemarin, tetapi bati...
Sorak-sorai penonton menyemangati temannya ketika tampil sebagai peserta lomba Matajog (egrang bambu) dalam ajang Jantra Tradisi Bali serangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII,...