Musik Pop Gamelan – Musik yang Sudah “Terkunyah Habis”
MUSIK pop gamelan yang sudah distandarkan sampai mencapai “terkunyah habis” -- penonton semua sudah biasa mendengarkannya. Maka, tidak memerlukan usaha intelektual untuk mendengark...
“I am not a man of religion, but religion alone cannot solve all our problem.” (Beyond Religion: Ethics for a Whole World, page xxx)
PADA abad ke-21 ini, dunia menyaksikan paradoks yang menyedihkan: kemajuan teknologi semakin memudahkan hidup manusia, tetapi konflik atas nama agama, identitas, dan kepentingan politik justru semakin tajam. Dalam konteks inilah, Dalai Lama, pemimpin spiritual Tibet sekaligus tokoh perdamaian dunia, menawarkan gagasan yang sederhana namun radikal lewat bukunya Beyond Religion: Ethics for a Whole World (2011).
Buku ini tidak sekadar mengkritisi peran agama, tetapi mencoba menyingkap dasar yang lebih dalam—suatu etika universal yang bisa menjadi fondasi bagi kehidupan bersama, melampaui batas dogma.
Dalai Lama membuka gagasannya dengan kesadaran sederhana: umat manusia berbeda dalam keyakinan, budaya, dan tradisi, tetapi memiliki kebutuhan yang sama—kedamaian batin, kebahagiaan, dan relasi yang harmonis. Agama-agama memang memberi arah, tetapi sejarah juga menunjukkan betapa agama sering menjadi sumber konflik, sebagai akibat dari fanatisme berlebihan dari pemeluknya.
Karena itu, Dalai Lama tidak mengajak meninggalkan agama, melainkan melampaui agama dalam arti mencari landasan yang bisa diterima semua orang, termasuk mereka yang tidak beragama. Inilah yang ia sebut etika universal: seperangkat nilai kemanusiaan yang melintasi sekat agama dan budaya.
Bagi beliau, nilai-nilai ini bukan milik eksklusif agama tertentu, tetapi lahir dari kesadaran manusia itu sendiri. Semua orang bisa memahami kasih sayang, welas asih, keadilan, dan non-kekerasan tanpa perlu berdebat soal kitab suci.
Dalam buku ini, Dalai Lama menekankan beberapa nilai yang harus menjadi fondasi etika universal:
Nilai-nilai ini, menurutnya, bersifat lintas-agama dan lintas-ideologi. Bahkan seorang ateis pun bisa menjalankannya.
Meski berbicara tentang etika sekuler, Dalai Lama tidak menafikan dimensi spiritual. Baginya, spiritualitas bukan monopoli agama, melainkan pengalaman batin yang bisa diakses siapa saja. Spiritualitas berarti merasakan keterhubungan dengan semua makhluk, hidup dengan penuh kasih, dan menjaga bumi dengan penuh tanggung jawab.
Dengan cara ini, Dalai Lama menawarkan spiritualitas inklusif, sebuah jalan tengah antara dogma agama yang kerap membatasi dan sekularisme kering yang sering melupakan dimensi batin manusia.

Gagasan Dalai Lama tentang etika universal menemukan gaungnya dalam perjalanan tokoh spiritual Indonesia, Guruji Anand Krishna. Seperti Dalai Lama, Guruji percaya bahwa nilai tertinggi bukanlah dogma, melainkan kesadaran. Baginya, kesadaran adalah sumber tindakan yang benar, melampaui moralitas yang relatif.
Kedua tokoh ini bahkan menjalin persahabatan lintas batas. Dalam salah satu momen penting, Guruji menghadiahkan sebuah patung Buddha setinggi lebih dari dua meter kepada Dalai Lama. Hadiah itu bukan sekadar simbol penghormatan, melainkan juga wujud nyata dari persahabatan global—bahwa lintas bangsa dan agama, manusia bisa saling menopang demi perdamaian. Ini selaras dengan apa yang menjadi visi Anand Ashram sejak 1991 yakni: One Earth One Sky One Humankind dengan misi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony.
Dalam berbagai forum, Guruji juga kerap menggemakan nilai yang sejalan dengan etika universal Dalai Lama. Melalui gerakan lintas agama, pendidikan, meditasi, dan advokasi sosial, beliau menekankan bahwa kesadaran manusia adalah kunci kesehatan holistik dan kebersamaan dunia.
Indonesia sebagai bangsa majemuk sangat membutuhkan gagasan seperti yang ditawarkan dalam Beyond Religion. Perdebatan agama seringkali menyita energi bangsa, sementara persoalan kemiskinan, krisis lingkungan, dan ketidakadilan sosial terabaikan.
Etika universal bisa menjadi dasar etos kebangsaan: menghormati perbedaan, menegakkan keadilan, dan menumbuhkan kasih sayang dalam ruang publik. Dengan demikian, kemajemukan tidak lagi dilihat sebagai ancaman, melainkan kekayaan yang memperkaya kebersamaan.
Beyond Religion: Ethics for a Whole World bukanlah buku teologi, melainkan refleksi kemanusiaan yang mengajak kita kembali pada hal yang paling mendasar: bahwa sebelum menjadi penganut agama apa pun, kita terlebih dahulu adalah manusia.
Dalai Lama menekankan etika universal sebagai dasar hidup bersama, sementara Guruji menekankan kesadaran sebagai inti spiritualitas. Keduanya sejalan: nilai-nilai kemanusiaan sejati tidak lahir dari aturan luar, melainkan dari kesadaran batin yang universal.
Di tengah dunia yang penuh luka, persahabatan global antara Dalai Lama dan Guruji memberi inspirasi: bahwa kedamaian bisa dibangun, bukan dengan mengedepankan perbedaan, tetapi dengan menegaskan kemanusiaan yang sama-sama kita miliki. [T]
Penulis: Agung Sudarsa
Editor: Adnyana Ole
MUSIK pop gamelan yang sudah distandarkan sampai mencapai “terkunyah habis” -- penonton semua sudah biasa mendengarkannya. Maka, tidak memerlukan usaha intelektual untuk mendengark...
Cerpen: Made Adnyana Ole WAJAH Gede Juta tiba-tiba menyala. Usianya dekat 70, namun seperti seseorang hendak berperang dan siap menghadapi apa saja, bahkan kematian, ia berdiri te...
Pertengahan tahun 1990-an, Teater Angin SMAN 1 Denpasar sedang suntuk-suntuknya bergaul dengan teater dan puisi. Sejumlah siswa suntuk di teater, sejumlah siswa lain tergila-gila p...
BILA teater berlari terlalu cepat, perlukah ekselarasi dikurangi? Atau teater mesti buang waktu jalan di tempat sementara, menunggu masyarakt mengejar, agar bisa jalan bareng? Atau...
TEATER kini cenderung bicara dengan bahasa visual. Hanya saja penonton (pasar) masih lebih nyaman menikmati tontonan verbal. Kita harus berani membuat kompromi dengan paradigma bar...
BUKU kumpulan esai “Menitip Mayat di Bali” dibincangkan dalam program Pustaka Bentara di Bentara Budaya Bali, Minggu, 9 April 2017, pukul 19.00 WITA. Buku yang ditulis Gde Aryantha...
PUJIAN BAGI TANGANMU Tanganmu seperti senja hilang cahaya tanganmu seperti dua bayang bersilang di petang yang lengang Setiap kali kata punya goa dan jejak rahasia Tanganmu menul...
JANGER kuno dari Desa Menyali, Buleleng, sesungguhnya bisa membuat sejumlah seniman di Bali, sedikit agak malu. Janger itu kuno, diyakini sudah ada sekitar tahun 1938, namun keseni...
MERUJUK KBBI, lema ‘petani’ berarti orang yang pekerjaannya bercocok tanam. Mulia betul batasan itu. Namun kenyataannya jauh panggang dari api. Juru bercocok tanam itu nyaris sepan...
DI Sunda istilahnya 'makutawangsa', disebutkan: "Sing saha bae anu make iket ieu dirina kudu ngalakonkeun PANCADHARMA" (Yang mengenakan ikat kepala itu dirinya mesti menjalankan PA...