“Rhythm of the Rain” yang dinyanyikan oleh The Cascades tetaplah lagu yang sama seperti ketika pertama kali kita memutarnya puluhan tahun silam. Pianonya masih berdenting dengan jeli, seperti rintik yang mengetuk jendela kenangan. Dulu kita meromantiskan hujan melalui lagu legendaris tahun 60-an itu, menjadikannya latar bagi cinta yang patah namun anggun. Kini, bagi sebagian penduduk kota, irama hujan tak lagi sekadar melankoli. Ia berubah menjadi tanda tanya yang menggantung di langit muram.
Grup pop asal Amerika ini lahir dari persahabatan para anggota Angkatan Laut di San Diego. Mereka sempat berganti nama, dari Silver Strands hingga Thundernotes, sebelum akhirnya memilih nama yang sederhana, terinspirasi dari kotak deterjen: The Cascades. Namun dari kesederhanaan itu lahir sebuah lagu yang tak sederhana jejaknya.
“Rhythm of the Rain” dirilis pada 1962 dan melesat ke peringkat atas tangga lagu Amerika, bahkan menggema di puluhan negara. Lagu itu ditulis oleh vokalisnya, John Gummoe, konon ketika ia tengah bertugas di tengah badai petir. Direkam di Gold Star Studios, Los Angeles, dengan dukungan para musisi legendaris yang kelak dikenal sebagai The Wrecking Crew, lagu ini menjelma harmoni yang bening dan tak lekang waktu.
Kesuksesan besar itu memang tak sepenuhnya terulang lewat single-single berikutnya seperti “The Last Leaf” atau “Shy Girl”. Namun “Rhythm of the Rain” sudah terlanjur menjadi penanda zaman, sebuah lagu yang melampaui musim popularitas.
Apa yang membuatnya abadi bukan semata pencapaian tangga lagu, melainkan kesederhanaannya yang jujur. Tema kehilangan cinta diolah tanpa guncangan dramatik. Ia tidak memaksa kita menangis, ia hanya menemani. Seperti hujan yang menerima dirinya sebagai hujan, lagu ini menerima dirinya sebagai pengiring kesedihan tanpa perlu tersedu.
Suara guntur dan rintik di bagian pembuka dan penutup membingkai lagu dalam suasana yang seketika akrab. Progresi akord yang sederhana, petikan gitar yang lembut, dan vokal yang tak berlebihan menciptakan ruang bagi pendengar untuk menaruh perasaannya sendiri di sana.
I wish that it would go and let me cry in vain And let me be alone again.
Hujan adalah metafora bagi air mata yang jatuh diam-diam, seperti perasaan sedih yang ingin dialirkan. Alam menjadi cermin hati. Kita tak hanya mendengar lagu, kita merasa ditemani.
Namun waktu berjalan, dan makna pun ikut bergeser.
Mendengarkan “Rhythm of the Rain” hari ini, mungkin ada yang berubah dalam cara kita memandang hujan. Ia tak lagi sepenuhnya romantik. Rintik di jendela tak selalu menghadirkan nostalgia, melainkan kecemasan. Tetes yang dulu kita anggap puitis telah berubah menjadi aliran air keruh yang merayap di lantai rumah.
Hujan tetaplah hujan, namun kota-kota kita tak lagi sekuat dulu dalam menerimanya. Saluran yang tersumbat, ruang hijau yang menghilang, tanah yang kehilangan daya serapnya, semua membuat hujan terdengar berbeda. Lagu yang dahulu menjadi elegi di senja hari kini terasa seperti latar bagi kegelisahan kolektif, ketika kita kehilangan rasa aman di rumah sendiri.
Dan di titik ini, nostalgia berjumpa kenyataan.
Kita tetap dapat mencintai lagu itu. Keindahannya tak pudar. Tetapi mungkin kita mendengarnya dengan kesadaran baru bahwa hujan bukan hanya simbol perasaan romantik, melainkan juga kecemasan terhadap datangnya bencana.
Barangkali suatu hari, ketika kota kembali ramah pada air yang tumpah dari langit, kita bisa memutar “Rhythm of the Rain” tanpa beban. Hingga saat itu tiba, biarlah lagu ini mengalun pelan, bukan sekadar sebagai kisah cinta yang hilang, melainkan sebagai bisikan agar kita belajar kembali mendengar hujan dengan hati teduh. [T]
JIKA menyaksikan Lomba Baca Puisi tingkat SMP dalam rangka Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, kekhawatiran bahwa generasi muda semakin jauh dari sastra tampaknya tidak berala...
UJUNG telunjuk dan jari tengah itu bergerak lincah di atas papan beroda sepanjang tak lebih dari sepuluh sentimeter. Sesaat papan skateboard mungil itu meluncur, lalu melompat. La...
PEMBUKAAN Singaraja Literary Festival (SLF), Jumat, 3 Juli 2026, berlangsung berbeda dari kebiasaan. Bukannya diawali dengan tari penyambutan tradisional seperti Panyembrama, Seka...
SOSOK-SOSOK perempuan bergerak perlahan menari di atas panggung, mengenakan caping petani dan membawa slepan (daun kelapa yang sudah tua) sebagai simbol kedekatan dengan alam. Mel...
KALAU puisi adalah sebuah negeri, maka Dr. Kadek Sonia Piscayanti, S.Pd., M.Pd. adalah warga-negara yang paling mencintai negerinya. "I love poetry", tulisnya dalam buku barunya M...
PADA 3 Juli 2026 digelar pameran senirupa yang cukup menarik, pameran senirupa ini, menurut saya, lahir dari keyakinan bahwa seni adalah ‘bahasa universal’ yang mampu menjembatani...
DUA PULUH lima tahun lalu, tepat saat 2 bulan setelah Milenium ketiga dimulai, segerombol anak muda yang menyebut diri mereka Kamasra (Keluarga mahasiswa Seni Rupa) STSI Den...
MANUSIA adalah makhluk yang gemar mengembara.
Tubuhnya berada di sini, tetapi pikirannya berlari ke hari esok. Atau sebaliknya, tubuhnya telah meninggalkan kemarin, tetapi bati...
Sorak-sorai penonton menyemangati temannya ketika tampil sebagai peserta lomba Matajog (egrang bambu) dalam ajang Jantra Tradisi Bali serangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII,...