Memang Cintalah yang Membuat Diri Bertahan
PUTU Fajar Arcana, jurnalis, penyair, esais, dan pelukis asal Jembrana, Bali, pada tahun 2019 menulis esai yang indah berjudul Cintalah yang Membuat Diri Bertahan di harian Kompas...
WARTAWAN itu menghela napas dalam-dalam. Ia merasa gundah. Rumah yang ia tempati belasan tahun terakhir hanyalah kamar sempit. Bersama istri dan dua anak yang makin besar. Untuk bekerja, dia lebih sering berada di toko modern. Membeli kopi kemasan, dengan laptop keluaran lama, ia mengetik berita-berita hasil liputan.
Di kamar kos, itu semua mustahil ia lakukan. Konsentrasinya terganggu. Istri menonton televisi, anak-anak bermain sendiri, ditingkahi suara tertawa juga menangis (ah, bukankah itu sama dengan hidup, kadang tertawa, kadang menangis?). Ia merenung seperti biasa.
Wartawan itu merindukan rumah. Di kampung halamannya, rumah bukan lagi rumah. Apalagi setelah bapak dan ibunya berpulang, keadaan tak seperti dulu lagi. Amanat untuk saling menyayangi sesama saudara menguap bersama waktu.
Rumah, rumah, sering ia hanya pulang dalam mimpi-mimpi malam atau dini hari.
Kesempatan itu datang tanpa ia duga. Sebuah penerbitan di Yogyakarta menawarinya menjadi penulis buku lepas. Ia membaca surel itu berulang kali, memastikan dirinya tak salah paham. Selama ini ia hanya menulis berita dan sesekali esai. Buku, baginya, adalah impian yang ia simpan diam-diam sejak muda.
Ia menerima tawaran itu dengan hati berdebar. Malam-malamnya berubah. Jika dulu ia menulis berita dengan tenggat harian, kini ia harus menyusun bab demi bab dengan napas panjang. Ia belajar disiplin baru, bangun lebih pagi sebelum anak-anak terjaga, menulis saat rumah masih setengah sunyi.
Dua tahun berjalan, telah banyak buku yang ia tulis. Naskah-naskah itu membuat namanya mulai dikenal di kalangan tertentu. Honor yang awalnya kecil perlahan lebih stabil. Ia dan istrinya mulai berani berbicara tentang sesuatu yang dulu terasa mustahil: membeli rumah sendiri.
Mereka mengajukan KPR, mencicil rumah di pinggiran kota yang tidak terlalu sesak oleh penduduk. Rumah sederhana dengan halaman kecil dan dua kamar tidur. Saat menandatangani berkas di bank, tangannya sedikit gemetar. Ia sadar, ini bukan sekadar membeli bangunan, melainkan menandatangani tanggung jawab panjang.
Apalagi istrinya juga mendapat pekerjaan sebagai pengajar bahasa Inggris di sebuah bimbingan belajar tak jauh dari lokasi rumah baru. “Setidaknya aku bisa ikut membantu,” kata istrinya. Wartawan itu tersenyum. Selama ini ia merasa memikul beban sendirian, padahal istrinya selalu berdiri di sampingnya.
Hari pindah itu datang dengan langit cerah. Wartawan itu merasa haru ketika mesti meninggalkan rumah kos. Banyak sekali kenangan di sana. Tangisan bayi di tengah malam. Obrolan lirih tentang uang yang menipis. Pertengkaran kecil yang berakhir dengan pelukan canggung.
Namun ia tak mau berlama-lama larut dalam emosi. Anak-anaknya sudah semakin besar. Kamar kos tak cukup lagi menampung empat orang yang masing-masing menyimpan mimpi. Ia pamit pada tetangga kos, pada ibu penjual nasi di ujung gang, pada lorong sempit yang selama ini menjadi saksi.
Di rumah barunya, ia menyiapkan ruang tamu sebagai tempat kerja dan perpustakaan kecil. Buku-buku yang sejak muda ia kumpulkan kini tak lagi tersimpan dalam kardus. Ia susun rapi di rak kayu sederhana. Meja kerja diletakkan di dekat jendela yang menghadap halaman.
Istrinya tampak senang. Anak-anak berlari-lari di halaman yang tak begitu luas, tetapi bagi mereka terasa lapang. Sore itu, tawa mereka memantul di dinding yang masih berbau cat baru. Wartawan itu berdiri di ambang pintu, menatap pemandangan kecil itu dengan dada hangat.
Malam pertama di rumah baru, ia duduk sendirian di ruang kerjanya. Ia teringat masa-masa ketika harus menulis di toko modern, membeli kopi agar bisa duduk lama. Kini ia memiliki ruang sendiri. Bukan ruang besar, tetapi cukup untuk menaruh mimpi.
Namun kebahagiaan tak pernah sepenuhnya tanpa cemas. Cicilan KPR menunggu setiap bulan. Menjadi penulis lepas berarti hidup berdampingan dengan ketidakpastian. Kadang naskah diterima cepat, kadang revisi datang bertubi-tubi. Kadang honor cair tepat waktu, kadang tertunda.
Ia belajar mengatur diri. Setiap pagi setelah mengantar anak sekolah, ia masuk ke ruang kerja. Menulis seribu kata sehari, tak peduli sedang ingin atau tidak. Ia tahu, rumah ini dibangun dari kalimat-kalimat yang ia ketik dengan tekun.
Sesekali ia rindu menjadi wartawan lapangan. Hiruk-pikuk konferensi pers. Tawa rekan-rekan di warung kopi. Tetapi ia tak menyesal. Menulis buku memberinya ruang lebih dalam untuk menyelami gagasan. Ia tetap wartawan dalam jiwa; mencatat, mengamati, dan bertanya. Hanya medan kerjanya yang berubah.
Suatu sore hujan turun pelan. Ia dan istrinya duduk di teras, memandangi anak-anak menggambar di ruang tamu. “Kita benar-benar punya rumah,” bisik istrinya.
Ia mengangguk. Kata-kata terasa kecil untuk menggambarkan perjalanan panjang mereka. Dari kamar kos sempit, dari kopi kemasan di toko modern, dari rasa gundah yang sering ia sembunyikan.
Anak sulungnya pernah bertanya, “Ayah, kenapa Ayah suka menulis?”
Ia menjawab pelan, “Karena dengan menulis, Ayah bisa membangun rumah.”
“Rumah ini?”
“Bukan hanya ini. Rumah di dalam hati.”
Waktu berjalan. Pohon jambu kecil di halaman mulai berbuah. Anak-anak memetiknya dengan wajah riang. Istrinya semakin sibuk dengan murid-murid lesnya. Buku-buku baru terbit dengan namanya di sampul. Ia tak menjadi kaya, tetapi cukup untuk membayar cicilan dan menabung sedikit demi sedikit.
Suatu malam listrik padam. Mereka duduk melingkar diterangi lilin. Tawa anak-anak memecah gelap. Wartawan itu menyadari sesuatu yang dulu tak ia miliki: ketenangan.
Ia tak lagi hanya merindukan rumah dalam mimpi-mimpi malam atau dini hari. Ia telah membangunnya. Bukan rumah mewah, bukan rumah besar, tetapi rumah yang lahir dari kesabaran dan keberanian.
Kini setiap kali ia menghela napas dalam-dalam, bukan lagi karena gundah. Melainkan karena syukur. [T]
Denpasar, 14 Februari 2026
Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole
PUTU Fajar Arcana, jurnalis, penyair, esais, dan pelukis asal Jembrana, Bali, pada tahun 2019 menulis esai yang indah berjudul Cintalah yang Membuat Diri Bertahan di harian Kompas...
WARUNG nasi campur ala Bali ini sangat sederhana, namun Putu selalu datang ke warung itu untuk menikmati sepiring nasi yang menjadi favoritnya. Setidaknya seminggu sekali Putu aka...
APOLOGI lewat analogi: kenapa tidak?eufemisme mengamplas idesebelum melabelinya “fakta”paham komoditas dipersuasi tetapi, mari lupakan sejenakkita tak (lagi) perlu berniagad...
NAGARI Tikalak merupakan salah satu nagari/desa yang terletak di tepian Danau Singkarak, Kecamatan X Koto Singkarak, Kabupaten Solok. Danau terluas di Sumatera Barat ini menjadi s...
ISTILAH “the man behind the gun”—yang menekankan bahwa kualitas manusia lebih menentukan daripada ketangguhan sistem—menjadi semakin relevan setelah UU KUHAP yang baru disahkan di...
TIDAK banyak yang tahu, Desa Jinengdalem di Buleleng, pernah menjadi tempat lahirnya sebuah drama gong yang menjadi primadona pada zamannya. Namanya Drama Gong Alapsari. Drama...
SAYA mematung di puncak tertinggi di desa yang teronggok di Kecamatan Tejakula, Kabupaten Buleleng, Bali, itu. Cahaya sore yang tumpah di Bukit Yangudi mengalir seperti lembaran w...
SIDANG pembaca yang budiman tentu pernah mendengar kasus dimana guru diajak baku hantam oleh muridnya, guru dipolisikan oleh orang tua murid, atau guru honorer bertahan belasan ta...
HAMPIR seluruh aktivitas masyarakat saat ini telah berpindah ke ruang digital berbasis internet (internet of things) mulai dari belajar, bekerja, bersosialisasi, sampai mencari hi...
ADA momen-momen tertentu dalam sejarah sastra yang terasa seperti gerbang kecil menuju pemahaman lebih dalam tentang manusia. Salah satunya adalah kisah hubungan antara Leo Tolsto...