Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar
10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi pada tulisan. Satu kolom pada...
WARTAWAN itu menghela napas dalam-dalam. Ia merasa gundah. Rumah yang ia tempati belasan tahun terakhir hanyalah kamar sempit. Bersama istri dan dua anak yang makin besar. Untuk bekerja, dia lebih sering berada di toko modern. Membeli kopi kemasan, dengan laptop keluaran lama, ia mengetik berita-berita hasil liputan.
Di kamar kos, itu semua mustahil ia lakukan. Konsentrasinya terganggu. Istri menonton televisi, anak-anak bermain sendiri, ditingkahi suara tertawa juga menangis (ah, bukankah itu sama dengan hidup, kadang tertawa, kadang menangis?). Ia merenung seperti biasa.
Wartawan itu merindukan rumah. Di kampung halamannya, rumah bukan lagi rumah. Apalagi setelah bapak dan ibunya berpulang, keadaan tak seperti dulu lagi. Amanat untuk saling menyayangi sesama saudara menguap bersama waktu.
Rumah, rumah, sering ia hanya pulang dalam mimpi-mimpi malam atau dini hari.
Kesempatan itu datang tanpa ia duga. Sebuah penerbitan di Yogyakarta menawarinya menjadi penulis buku lepas. Ia membaca surel itu berulang kali, memastikan dirinya tak salah paham. Selama ini ia hanya menulis berita dan sesekali esai. Buku, baginya, adalah impian yang ia simpan diam-diam sejak muda.
Ia menerima tawaran itu dengan hati berdebar. Malam-malamnya berubah. Jika dulu ia menulis berita dengan tenggat harian, kini ia harus menyusun bab demi bab dengan napas panjang. Ia belajar disiplin baru, bangun lebih pagi sebelum anak-anak terjaga, menulis saat rumah masih setengah sunyi.
Dua tahun berjalan, telah banyak buku yang ia tulis. Naskah-naskah itu membuat namanya mulai dikenal di kalangan tertentu. Honor yang awalnya kecil perlahan lebih stabil. Ia dan istrinya mulai berani berbicara tentang sesuatu yang dulu terasa mustahil: membeli rumah sendiri.
Mereka mengajukan KPR, mencicil rumah di pinggiran kota yang tidak terlalu sesak oleh penduduk. Rumah sederhana dengan halaman kecil dan dua kamar tidur. Saat menandatangani berkas di bank, tangannya sedikit gemetar. Ia sadar, ini bukan sekadar membeli bangunan, melainkan menandatangani tanggung jawab panjang.
Apalagi istrinya juga mendapat pekerjaan sebagai pengajar bahasa Inggris di sebuah bimbingan belajar tak jauh dari lokasi rumah baru. “Setidaknya aku bisa ikut membantu,” kata istrinya. Wartawan itu tersenyum. Selama ini ia merasa memikul beban sendirian, padahal istrinya selalu berdiri di sampingnya.
Hari pindah itu datang dengan langit cerah. Wartawan itu merasa haru ketika mesti meninggalkan rumah kos. Banyak sekali kenangan di sana. Tangisan bayi di tengah malam. Obrolan lirih tentang uang yang menipis. Pertengkaran kecil yang berakhir dengan pelukan canggung.
Namun ia tak mau berlama-lama larut dalam emosi. Anak-anaknya sudah semakin besar. Kamar kos tak cukup lagi menampung empat orang yang masing-masing menyimpan mimpi. Ia pamit pada tetangga kos, pada ibu penjual nasi di ujung gang, pada lorong sempit yang selama ini menjadi saksi.
Di rumah barunya, ia menyiapkan ruang tamu sebagai tempat kerja dan perpustakaan kecil. Buku-buku yang sejak muda ia kumpulkan kini tak lagi tersimpan dalam kardus. Ia susun rapi di rak kayu sederhana. Meja kerja diletakkan di dekat jendela yang menghadap halaman.
Istrinya tampak senang. Anak-anak berlari-lari di halaman yang tak begitu luas, tetapi bagi mereka terasa lapang. Sore itu, tawa mereka memantul di dinding yang masih berbau cat baru. Wartawan itu berdiri di ambang pintu, menatap pemandangan kecil itu dengan dada hangat.
Malam pertama di rumah baru, ia duduk sendirian di ruang kerjanya. Ia teringat masa-masa ketika harus menulis di toko modern, membeli kopi agar bisa duduk lama. Kini ia memiliki ruang sendiri. Bukan ruang besar, tetapi cukup untuk menaruh mimpi.
Namun kebahagiaan tak pernah sepenuhnya tanpa cemas. Cicilan KPR menunggu setiap bulan. Menjadi penulis lepas berarti hidup berdampingan dengan ketidakpastian. Kadang naskah diterima cepat, kadang revisi datang bertubi-tubi. Kadang honor cair tepat waktu, kadang tertunda.
Ia belajar mengatur diri. Setiap pagi setelah mengantar anak sekolah, ia masuk ke ruang kerja. Menulis seribu kata sehari, tak peduli sedang ingin atau tidak. Ia tahu, rumah ini dibangun dari kalimat-kalimat yang ia ketik dengan tekun.
Sesekali ia rindu menjadi wartawan lapangan. Hiruk-pikuk konferensi pers. Tawa rekan-rekan di warung kopi. Tetapi ia tak menyesal. Menulis buku memberinya ruang lebih dalam untuk menyelami gagasan. Ia tetap wartawan dalam jiwa; mencatat, mengamati, dan bertanya. Hanya medan kerjanya yang berubah.
Suatu sore hujan turun pelan. Ia dan istrinya duduk di teras, memandangi anak-anak menggambar di ruang tamu. “Kita benar-benar punya rumah,” bisik istrinya.
Ia mengangguk. Kata-kata terasa kecil untuk menggambarkan perjalanan panjang mereka. Dari kamar kos sempit, dari kopi kemasan di toko modern, dari rasa gundah yang sering ia sembunyikan.
Anak sulungnya pernah bertanya, “Ayah, kenapa Ayah suka menulis?”
Ia menjawab pelan, “Karena dengan menulis, Ayah bisa membangun rumah.”
“Rumah ini?”
“Bukan hanya ini. Rumah di dalam hati.”
Waktu berjalan. Pohon jambu kecil di halaman mulai berbuah. Anak-anak memetiknya dengan wajah riang. Istrinya semakin sibuk dengan murid-murid lesnya. Buku-buku baru terbit dengan namanya di sampul. Ia tak menjadi kaya, tetapi cukup untuk membayar cicilan dan menabung sedikit demi sedikit.
Suatu malam listrik padam. Mereka duduk melingkar diterangi lilin. Tawa anak-anak memecah gelap. Wartawan itu menyadari sesuatu yang dulu tak ia miliki: ketenangan.
Ia tak lagi hanya merindukan rumah dalam mimpi-mimpi malam atau dini hari. Ia telah membangunnya. Bukan rumah mewah, bukan rumah besar, tetapi rumah yang lahir dari kesabaran dan keberanian.
Kini setiap kali ia menghela napas dalam-dalam, bukan lagi karena gundah. Melainkan karena syukur. [T]
Denpasar, 14 Februari 2026
Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole
10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi pada tulisan. Satu kolom pada...
SEKAA Dramatari Arja Sudhamala ini baru pertamakali pentas di ajang Pesta Kesenian Bali (PKB). Bahkan, sekaa kesenian tradisional Bali yang memadukan unsur drama, tari, dan nyanyi...
LAGU “A Salty Dog” oleh Procol Harum (1969), dengan lirik karya Keith Reid, adalah elegi tentang pelayaran terakhir, tentang manusia yang berangkat dengan keberanian, namun akhirn...
PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa kehadiran Presiden Prabowo Subianto sempat menimbu...
“Kalau mau menjadi penulis hebat, tulis yang unik dan autentik.” Kalimat itu meluncur dari mulut sastrawan Bali, Gde Aryantha Soethama, dalam acara ‘NGERUMPI’: Ngobrol Se...
MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa. Apalagi ketika ia mulai berbicara dengan logat...
DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku diajari bahwa Barong adalah pelindung, bukan pemangsa....
Yang Tua yang Tak Mau Purna Segara punya pantai sebagai batas gelombangSungai punya sempadan untuk batas aliranTetapi tidak bagi yang tua yang tak mau purnaMereka tak punya bat...
“Mari kawan bersama kita bekerja, bersihkan lingkungan….” ITU adalah penggalan tembang yang menjadi salah satu hal menarik dari pementasan kesenian janger tradisi d...