ANAK-anak yang terdiri dari laki-laki dan perempuan duduk melantai di Wantilan Taman Budaya Propinsi Bali. Meski dari sekolah yang berbeda, mereka tampak akbrab komunikatif. Wajahnya begitu ceria dalam kegiatan merangkai janur. Tangan kiri memegang janur, tangan kanan memutar ujung janur atas ke bawah, lalu bagian bawah diputar ke kiri. Terkadang ujungnya dilepas, terkadang pula dijepit, lalu anyam janur dirapatkan hingga terbentuk menjadi sebuah bola yang ramah.
Itulah suasana agenda Malajah sambal Maplalianan yang merupakan kegiatan anak-anak terakhir dalam ajang Bulan Bahasa Bali VIII, Jumat 27 Pebruari 2026. Sekitar 30 anak larut dalam kegiatan untuk mengasah kreativitas, ketelitian, kesabaran, dan keterampilan motorik halus itu. Kegiatan tersebut dipandu oleh 3 Dosen dan 5 Mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) di Universitas Hindu Negeri (UHN) I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar.
Tepat pukul 10.00 Wita, anak-anak dari beberapa SD di Kota Denpasar itu dipersilahkan duduk beralaskan karpet merah. Mereka kemudian diberikan sehelai janur yang memang disiapkan oleh panitia. Namun, sebelum itu koordinator Dr. Ni Gusti Ayu Made Yeni Lestari S.Pd, MPd memberikan penjelasan, jenis ulat-ulatan yang dibuat adalah bola kasti. Kasti itu salah satu permainan tradisional yang populer di Indonesia, terutama dalam pembelajaran pendidikan jasmani.
Sekarang bolanya terbuat dari bahan karet atau kulit. Berbeda dengan dulu, boloa kasti terbuat dari bahan alami, yakni janur yang dirangkai menjadi bola. “Bola kasti jaman dulu itu yang kini diperkenalkan kepada anak-anak. Bahannya dari alam yang ramahnya lingkungan,” kata Ayu Made Yeni Lestari didamping teman dan mahasiswanya saat menjadi narasumber dalam kegiatan maplalianan itu.
Anak-anak belajar membuat bola kasti dari bahan janur
Puluhan anak-anak mengikuti dengan serius. Tidak semuanya mampu menyelesaikan bola kasti yang ramah itu. Anak yang mengenal permainan ini atau yang sudah pernah melakukan ini mungkin bisa. Termasuk anak yang biasa ngulat tipat, dapat mengikuti keterampilan merangkai janur itu. Berbeda dengan anak-anak lain, yang masih perlu mendapat panduan dari dosen dan mahasiswa itu. Benar saja, setalah waktunya selesai, masih ada anak yang belum menyelesaikan tugasnya.
“Aktivitas ini untuk mengenalkan budaya tradisional, melatih konsentrasi, serta membangun kebanggaan terhadap warisan budaya sejak dini. Melalui permainan berbahan alam itu, untuk mengurangi anak-anak yang ketergantungan terhadap permainan gadget, sehingga melalui permainan ini kami ingin mengembalikan dan mengenalkan permainan jaman dulu terkait dengan alam,” jelas Ayu Made Yeni Lestari.
Selain untuk majejahitan dan ngulat tipat, dulu janur juga sering dipakai untuk membuat bola kasti. Sebenarnya, alam itu sudah menyediakan bahan untuk belajar, tinggal memanfaatkan dan menggunakan saja. “Acara juga untuk mengenalkan tentang menganyam dari daun kelapa, seperti konsep kembali ke alam. Karena alam itu memberikan pembelajaran yang kontekstual kepada anak-anak,” tambahnya.
Kegiatan Malajah sambil Maplalianan itu berbasis budaya yang mesti dikenalkan kepada anak-anak sejak dini. Ke depannya, anak-anak akan paham bahan-bahan alam, sehingga lebih peduli terhadap alam. Melalui permainan ini, anak-anak akan mengenal karakter, dan mereka tak hanya pedulit terhadap alam, tetapi memupuk rasa kerjasaama. Dalam merangkai bola kasti dengan janur ini untuk melatih anak-anak sabar, berpikir kreatif, dan memotivasi untuk mengeluarkan segala ide-idenya.
Ayu Made Yeni Lestari kemudian berharap kepada guru SD, TK ataupun Paud untuk lebih banyak mengajak mereka mengembalikan memori jaman dulu, mengembalikan permainan tradisonal. Selama ini, sekolah-sekolah itu hanya mengajak melakukan permaianan saja, tetapi belum benyak yang menagajak anak-anak bernmaian dengan alam. “Konsep jaman dulu itu bisa dikenalkan kepada anak-anak sekarang,” imbuhnya.
Anak-anak bermain magoak-goakan
Guru SD Harapan Denpasar, Diana mengaku, kegiatan ini sangat positif untuk mengenalkan budaya serta melatih motoric anak. Sekolahnya, memang kali ini pertama mengikuti kegiatan membuat alat pemainan itu. “Anak-anak yang mewakili SD Harapan ini akan menularkan kepada teman-temannya. Permainan ini bermaanfaat bagi anak untuk melatih keterampilan mereka. Apalagi alat itu menggunakan bahan alam, sehingga ini dapat menumbuhkan rasa menyayangi alam,” sebutnya.
Salah satu peserta, Mang Adrian mengaku senang dengan kegiatan membuat bola dari alam. Ia tidak menyangka, kalau bola kasti itu bisa dibuat dari daun. Selama ini ia hanya mengenal bola kasti dari kulit yang dijual di toko atau swalayan. “Tapi sulit juga ngulat (membuatnya), perlu waktu banyak dan sabar,” akunya polos.
Anak-anak kembali bergembira. Sebab, setelah mengajak anak-anak membuat bola kasti berbahan janur, anak-anak mengenakan busana adat Bali itu kemudian diajak melakukan permainan tradisional Magoak-goakan. Aktivitas ini untuk sebagai ajang untuk berosialisasi, berkenalan lalu berteman. [T]
DERU puluhan sepeda motor bergema dari arah utara Kota Singaraja pada Senin, 29 Juni 2026. Satu per satu kendaraan itu bergerak perlahan melintasi Jalan Ngurah Rai menuju Gedung D...
Bali Kembali Diserang, Kali Ini Tanpa Ledakan
TANGGAL 12 Oktober 2002 menjadi salah satu hari paling kelam dalam sejarah Bali. Ledakan bom merenggut ratusan nyawa dan menggunca...
NOTARIS pada hakikatnya merupakan salah satu pilar utama dalam menjaga kepastian hukum, khususnya dalam lalu lintas perdata, investasi, pembentukan badan usaha, hingga berbagai tr...
PEMBACA tak perlu mengukur jarak antara Plaju dan Hawkins, apalagi harus repot-repot mencari tahu apa yang hendak dihidangkan di sana, sebab keniscayaan yang akan pembaca dapati....
HAMPIR saja tim nasional sepak bola Republik Indonesia lolos ke Piala Dunia 2026 yang dihelat di tiga negara, Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Iya, hampir saja. Itu berarti b...
Ketika anak-anak itu bermain riang, ruang Gedung Mario berubah menjadi area interaktif, sangat dinamis dan terkesan lebih hidup. Langit-langit tinggi dan tiang-tiang bangunan ikut...
KEMBALINYA seni Arja di Banjar Bukit Buwung, Kesiman, tidak dapat dipahami semata sebagai upaya revitalisasi kesenian tradisional, melainkan sebagai proses pemulihan roh kebudayaa...
IRONI terbesar abad ke-21 mungkin bukan ketika mesin mulai mampu berbicara. Ironinya justru ketika mesin mulai mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang telah lama berhenti diajukan m...
PADA tahun 1999 sampai 2005 saya sempat membantu Bre Redana, mengkurasi karya-karya seni rupa yang berdialog dengan cerpen. Waktu itu, Bre Redaktur Kompas Minggu.
Bagi saya, it...