STAND Gotra Pangusada Bali yang ada dalam pameran Bulan Bahasa Bali VIII menjadi favorit pengunjung. Sejak pameran itu dibuka bersamaan dengan pembukaan Bulan Bahasa Bali VIII, Minggu 1 Pebruari 2026 itu, pengunjung selalu mengalir. Apalagi, jenis pengusada yang ditawarkan selalu berbeda-beda dalam setiap minggunya, sehingga selalu ada yang baru bagi pengunjung festival bahasa, akrasa dan sastra Bali itu.
Pada Kamis, 26 Pebruari 2026, Stand Gotra Pangusada Bali yang berlokasi di pojok, tenggara Gedung Kriya, Taman Budaya Provinsi Bali itu kembali dipenuhi pengunjung. Saat itu, Jero Diva mencoba membaca kelahiran, karakter dan kehidupan melalui kartu tarot. Anak-anak muda utamanya siswa-siswi setingkat SMA dan SMK silih berganti memanfaatkan layanan yang diberikan. Mereka lebih banyak menanyakan tentang percintaan, selain kesehatan dan kehidupan yang akan dijalani mereka.
STAND Gotra Pangusada Bali diserbu pengunjung anak-anak muda di Bulan Bahasa Bali
“Banyak anak-anak yang suka dengan tarot ini. Mereka lebih banyak mengalami problem mungkin di percintaan dan kehidupan, sehingga mereka mencari solusi di sini sesuai gambar pada kartu yang ada. Ini sifatnya tidak akurat, karena untuk kebenaran itu tetap pada kuasa Tuhan,” ucap Jero Diva.
Untuk membaca karakter melalui gambar tarot itu, syaratnya adalah tanggal lahir dan nama lengkap yang dikatakan di dalam hati karena sifatnya privasi. Pengunjung dari kalangan SMA, dan pegawai-pegawai yang melihat ramalan kesehatan, cinta ataupun rejeki mereka. “Kebanyakan dari mereka yang menanyakan percintaan. Mereka menanyakan bagaimana pasangan saya, apakah masih sayang atau tidak, dan lainnya,” tegasnya.
STAND Gotra Pangusada Bali diserbu pengunjung anak-anak muda di Bulan Bahasa Bali
Okcta Putri, siswa setingkat SMK asal Klunkung mengaku, pada awalnya ia disuruh mengambil kartu lalu dibaca lewat kartu itu. Kalau masalah kehidupan, mungkin ini bisa menjadi lebih waspada. “Ada beberapa ramalan itu benar, tetapi masih ada pula yang meragukan. Di sana kebaca masalah percintaan itu jelek, tetapi dirinya tidak percaya kalau pacarnya seperti itu. Saya sudah pacaran lama, sehingga tidak mungkin ia akan melakukan hal seperti itu. Tetapi, takut juga,” ucapnya.
Pada kesempatan itu, juga ada pembacaan garis tangan dan totok punggung. Totok punggung untuk mengetahui sumber rejeki dan sumber masalah dalam tubuh. Semua masalah itu diprediksi dari punggung. Semua penyakit ditahu dari punggung, karena pungung tempat paling dekat dengan organ tubuh, sehingga ambil di punggung. “Tadi saya mentotok dua orang. Satunya bermasaah di paru-paru, satunya lagi masalah di perut,” imbuhnya.
Pijat tradisional di Stand Gotra Pangusada Bali
Sebelumnya, stand Gotra Pangusada Bali menyajikan pijat tradisional Bali. Ibu-ibu dan anak-anak muda juga meramainkan stand ini. Siswa yang baru menyinjak dewasa sering mengalami masalah psikis mental dan ketakutan maka dibenarin dengan shape healing dengan sentuhan sambal diajak ngobrol.
Dengan demikian, mereka tertarik untuk mengeluarkan tentang apa yang mengganjal di dalam pikirannya. “Itu yang kita therapy untuk membantu membukakan pikiran mereka, dan pijat therapy healing ini juga untuk mendeteksi medis dan non medisnya, sehingga lebih mudah mengonbatinya” lanjut Jero Rahayu Dewi serius.
Pijat ini juga sebagai upaya untuk memperbaiki mental anak yang mungkin terlalu banyak beban dan tekanan akibat Pekerjaan Rumah (PR) yang menumpuk, banyaknya pelajaran yang mereka sesungguh belum siap, sehingga perlu dilakukan shape healing. “Kami ikut pameran untuk mengajak khalayak umum bisa merasakan pijatan tradisioanl Bali. Ini mampu menyembuhkan sakit tanpa minum obat. Karena pijatan ini juga bersinergi dengan para medis,” papar instruktur therapies ini.
Sejumlah benda dan bahan pengobatan yang dipamerkan diStand Gotra Pangusada Bali
Kalau anak itu bermasalah, maka ketika disentuh mereka akan merasakan sakit yang luar biasa. Sebaliknya, jika anak itu tidak merasa sakit, nyaman dan tenang itu artinya tubuh mereka tidak bermasalah. “Pada hari pertama, seorang ibu yang baru disentuh langsung menangis dan memeluk saya. Wanita yang berbusana adat itu memang memiliki masalah dalam tubuhnya, sehingga meski melakukan pijat lanjutan,” ceritanya.[T]
JIKA menyaksikan Lomba Baca Puisi tingkat SMP dalam rangka Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, kekhawatiran bahwa generasi muda semakin jauh dari sastra tampaknya tidak berala...
UJUNG telunjuk dan jari tengah itu bergerak lincah di atas papan beroda sepanjang tak lebih dari sepuluh sentimeter. Sesaat papan skateboard mungil itu meluncur, lalu melompat. La...
PEMBUKAAN Singaraja Literary Festival (SLF), Jumat, 3 Juli 2026, berlangsung berbeda dari kebiasaan. Bukannya diawali dengan tari penyambutan tradisional seperti Panyembrama, Seka...
SOSOK-SOSOK perempuan bergerak perlahan menari di atas panggung, mengenakan caping petani dan membawa slepan (daun kelapa yang sudah tua) sebagai simbol kedekatan dengan alam. Mel...
KALAU puisi adalah sebuah negeri, maka Dr. Kadek Sonia Piscayanti, S.Pd., M.Pd. adalah warga-negara yang paling mencintai negerinya. "I love poetry", tulisnya dalam buku barunya M...
PADA 3 Juli 2026 digelar pameran senirupa yang cukup menarik, pameran senirupa ini, menurut saya, lahir dari keyakinan bahwa seni adalah ‘bahasa universal’ yang mampu menjembatani...
DUA PULUH lima tahun lalu, tepat saat 2 bulan setelah Milenium ketiga dimulai, segerombol anak muda yang menyebut diri mereka Kamasra (Keluarga mahasiswa Seni Rupa) STSI Den...
MANUSIA adalah makhluk yang gemar mengembara.
Tubuhnya berada di sini, tetapi pikirannya berlari ke hari esok. Atau sebaliknya, tubuhnya telah meninggalkan kemarin, tetapi bati...
Sorak-sorai penonton menyemangati temannya ketika tampil sebagai peserta lomba Matajog (egrang bambu) dalam ajang Jantra Tradisi Bali serangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII,...