17 Agustus 2016, Belum Semua Anak Indonesia Merdeka
MERAYAKAN Hari Kemerdekaan memang bukan sebuah keharaman. Wajar saja rakyat Indonesia merayakannya. Betapa tidak, karena kemerdekaan ini diraih dengan iuran darah para pejuang terd...
PEMERINTAH Provinsi Bali mewajibkan penggunaan Bahasa Bali setiap hari Kamis. Kebijakan itu sempat membuat sebagian Organisasi Perangkat Daerah (OPD) takut menggelar rapat pada hari Kamis karena merasa belum percaya diri menggunakan Bahasa Bali dengan tata krama yang tepat.
Untuk itulah, pada Bulan Bahasa Bali 2026 ini diadakan Kriyaloka (Workshop) “Mababaosan Basa Bali” di Lantai Bawah Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Provinsi Bali, Rabu (25/2/2026). Tujuan, antara lain, agar pejabat dan pegawai pada OPD tak takut lagi rapat di hari Kamis karena sudah percaya diri menggunakan bahasa Bali.
Kegiatan itu diikuti 80 peserta yang terdiri dari perwakilan OPD dan penyiar. Kegiatan itu menghadirkan narawakya Drs. I Gde Nala Antara, M.Hum dan dimoderatori Dr. Ni Wayan Sariani, S.Pd., M.Hum. Selama sekitar empat jam, peserta dibekali teknik berbicara Bahasa Bali yang baik dan benar, sekaligus berdiskusi mengenai kendala yang kerap dihadapi saat menggunakan bahasa daerah tersebut di ruang publik.

Materi yang diberikan tidak sebatas teori. Peserta langsung mempraktikkan cara membuka dan menutup rapat, menyambut tamu dalam upacara adat dan keagamaan, hingga berbicara di rumah, banjar, maupun kantor dengan memperhatikan anggah-ungguhing basa.
“Workshop ini penting supaya mereka tidak takut mabasa Bali, termasuk saat memimpin rapat. Kami berikan strategi agar lebih percaya diri,” ujar Gde Nala Antara.
Ia menjelaskan, tidak semua penggunaan Bahasa Bali harus dalam bentuk halus (kruna mider). Penggunaan basa andap atau bahasa sehari-hari tetap dapat diterapkan sesuai konteks. Anggah-ungguhing basa, menurutnya, lebih ditekankan saat memimpin rapat resmi, matur ke griya, berbicara dengan sulinggih, atau tampil di depan umum.
Gde Nala juga menyinggung adanya sejumlah kosakata yang tidak memiliki padanan bentuk halus, seperti “gulem”, “tembok”, atau “nyongkok”, yang kerap menimbulkan keraguan saat digunakan di forum resmi. Ketakutan itulah yang coba direduksi melalui pemahaman kontekstual.
“Kalau pun salah, itu wajar. Dari kesalahan kita belajar menuju yang benar. Kuncinya jangan takut salah,” tegasnya.
Dalam sesi praktik, peserta diberi kesempatan mencoba langsung membuka dan menutup rapat, menyambut tamu, hingga menyampaikan sambutan pada upacara ngaben, otonan, maupun pernikahan. Meski masih ada yang ragu tampil, sebagian peserta mulai berani mencoba, walau belum sempurna.
Lebih jauh, Gde Nala menekankan bahwa penguatan Bahasa Bali harus dimulai dari keluarga, lalu diperluas ke lingkungan banjar, sekaa teruna, dan komunitas lainnya. Bahkan saat kegiatan kreatif seperti pembuatan ogoh-ogoh, suasana kebahasaan Bali perlu dibangun, tanpa harus selalu menggunakan bahasa halus.
“Basa Bali memiliki empat rasa bahasa: kasar, andap, madya, dan halus. Semua ada tempatnya,” jelasnya.

Melalui workshop ini, ia berharap OPD tak lagi ragu menggelar rapat pada hari Kamis. Dengan pemahaman strategi dan praktik yang telah diberikan, penggunaan Bahasa Bali di ruang-ruang formal diharapkan semakin mantap dan membumi. [T]
Reporter/Penulis: Nyoman Budarsana
Editor: Jaswanto
MERAYAKAN Hari Kemerdekaan memang bukan sebuah keharaman. Wajar saja rakyat Indonesia merayakannya. Betapa tidak, karena kemerdekaan ini diraih dengan iuran darah para pejuang terd...
Semalam di tengah gempita dentuman suara sound sistem, saya mengkhayal dibayar 150 juta untuk mengajar 34 jam per minggu, wah pasti kaki saya tidak akan pernah pegal saat berdiri d...
KETIKA mengantar seorang teman untuk membeli sepatu sebagai keperluan bekerja di sebuah instansi pemerintah, kami sempat terlibat obrolan singkat yang pada intinya alas kaki tidak...
BANGKUNG mepalu adaang di Buleleng, jeg pasti rame! Asal gratisss! Iya, babi betina saling sruduk digelar di Buleleng, pasti ramai penontonnya. Apalagi Slank pentas gratisan. Kutik...
MENJELANG Hari Galungan biasanya banyak warga adat menggelar karya gede di Pura. Karya Gede di sebuah Pura merupakan hari yang ditunggu-tunggu warga. Di situ banyak orang akan mema...
ADA semacam mitos yang tampaknya bisa menghantui keluarga Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Buleleng dalam Pilkada, Februari 2017. Yakni, kenyataan bahwa sejak era refor...
AKU adalah ruh sebuah negeri. Negeri nun jauh di sana. Tubuhku bersandar pada pegunungan yang berbaris rapi. Di hadapan mataku terhampar laut utara yang begitu tenang. Mungkin kare...
HALO, kawan sebangsa dan setanah air, sudah makan apa hari ini? Tahu? Tempe? Semoga Tuhan selalu memudahkan rejeki kita, agar tahu dan tempe selalu dapat terbeli. Tahu dan tempe m...
KISAH percintaan memang tak pernah habis jika dibicarakan. Virus-virus cinta dapat tumbuh di mana saja dan kapan saja. Tak seorangpun bisa menduga hal tersebut. Salah satu ajang ya...
I dan Ni oleh banyak orang dianggap title “wong jaba” padahal ini adalah honorific yang generic. I dan Ni adalah honorific. I semacam Mr dan Ni semacam Ms. I dan Ni bukan hanya di...