Topeng Tugek Carangsari – Memainkan Topeng Mengolah Karakter
KALANGAN Ayodya di Taman Budaya Bali, malam itu begitu riuh. Gelak tawa dan tepuk tangan terus berganti. Penonton berjejalan. Duduk berdesak-desakan. Banyak yang akhirnya duduk les...
“Kenapa baru memberikan bunga ketika orang itu sudah membiru…?”
Kalimat ini dilontarkan oleh pacar saya setelah dirinya melewati hari yang panjang dengan sesekali mendengarkan lagu “Lalu Biru” karya Eleanor Whisper. Sebuah lagu dari band asal Medan yang bermarkas di Jakarta — Nama band yang terasa asing di telinga saya. Band ini tidak se-terkenal .feast dengan “Tarot” nyaataupun Barasuara dengan “Terbuang Dalam Waktu” nya. Tapi setelah ia (pacar saya) membagikan lagu ini kepada saya, feel yang dibawakan terasa setara dengan band luar negeri Cigarette After Sex.
Lagu ini menciptakan diskusi mendalam antara kami berdua, membahas cinta, ketiadaan, dan betapa dungu manusia. Kedunguan seperti apa yang manusia lakukan? ia percaya bahwa manusia memiliki sifat yang kekal yang kami sebut sebagai “keterlambatan”. Konteks keterlambatan disini ia pakai untuk menjelaskan betapa tidak pedulinya manusia dalam memikirkan waktu bersama pasangannya. Apabila kekasihnya sudah tiada dan meninggalkan diri mereka, manusia akan cenderung menyesal dan rindu tak berdaya.
Ini sesuai dengan makna dari lagunya yang merupakan spekulasi saya pribadi. Ferri Neldy (gitaris/vokal band ini) dan rekan-rekannya seolah mengajak saya untuk merebahkan badan dengan menutup mata sembari membayangkan simulasi keterpisahan dengan senyuman seorang gadis yang semakin pudar dan menghilang, meninggalkan seorang lelaki sendirian dan bergejolak memandangi bulan di langit.
Dengan alunan musik rock indie dan lirik puitis sangat membuat suasana melankolis dan berhasil mengangkat tema besar dari lagu tersebut — yaitu kerinduan.
“Bila tubuhku membiru apakah kau datang sayang”
Lirik ini menjadi point utama dari seluruh diskusi kami. Ia merasa bahwa ketika seseorang masih hidup di dunia, tak ada yang spesial. Tawa hanya sekedar tawa dan bercengkrama hanya sebatas obrolan. Bahkan beberapa hanya sekilas saja. Namun apa arti tawa dan cengkrama apabila orang itu sudah tiada? Tentu rasanya akan menjadi berbeda.
Sebenarnya, “tubuh membiru” disini memiliki konteks masing-masing. Bagi saya sendiri “tubuh membiru” memberikan makna “kesedihan dalam diri”. Warna biru identik dengan melankolis dan juga kesedihan. Sehingga sosok aku dalam lagu ini mempertanyakan, “apakah cinta dari dirimu akan datang dikala aku sedih?” Tapi ia mendefinisikan makna “tubuh biru” sebagai “tubuh yang membusuk karena ajal menjemput”. Sehingga sosok aku seolah-oalah bertanya, “Jika aku tiada, apakah dirimu akan datang?”
Perbedaan makna ini menimbulkan perdebatan di antara kami. Ia merasa bahwa hari yang kita jalani hari ini bisa menjadi hari terakhir kita bersama seseorang. Karena kematian dan hari esok adalah misteri terbesar manusia saat ini. Tapi bagi saya sendiri, menganggap hari esok bisa menjadi hari terakhir itu justru membuat kita terus memikirkan kematian itu sendiri. Dan balik lagi, kematian adalah misteri, jadi untuk apa kita terus berfokus kepada kematian itu sendiri?
Pada titik ini, saya masih skeptis atas konsep “keterlambatan manusia” yang ia bawakan. Rasanya aneh saja jika manusia dikatakan “terlambat”. Akan lebih masuk akal apabila manusia dikatakan “menyesal” tak memberikan waktu lebih kepada pasangannya. Tapi setelah saya pikir baik-baik, “terlambat” dan “menyesal” memiliki konteks yang berbeda.
Terlambat memiliki konteks waktu dan peristiwa, sehingga sifatnya adalah objektif. Seperti contoh ketika kita terlambat pergi ke sekolah, konteks yang dibawakan adalah sebuah momen. Sehingga terlambat bekerja seperti sebuah kamera yang menangkap sebuah gambar dan menyimpannya pada kartu memori kita. Sisi lain, menyesal adalah respon emosional, maka akan bersifat sangat subjektif. Memori dari foto yang kita lihat akan menimbulkan reaksi batin di dalam kita — kira-kira seperti itu rasa menyesal bekerja.
Dengan memahami konteks tersebut, saya dan ia akhirnya sama-sama sepakat bahwa manusia sendiri memiliki sifat “keterlambatan” dalam menentukan momentum mereka. Tapi dalam benak saya muncul pertanyaan baru.
“Jika Sudah Tahu Bahwa Kematian akan Datang, Mengapa Manusia Tetap Tak Peduli?”
Sebuah hal yang tak masuk di logika saya ketika saya sadar betapa apatisnya manusia dalam menjalani hidup mereka, apalagi dalam konteks kebersamaan.
Coba pikir, siapa juga yang akan peduli dan terus menerus bertanya “Apakah besok aku mati?” atau “Apakah besok dirinya akan meninggalkanku?” pertanyaan-pertanyaan ini sebenarnya bisa saja dipikirkan. Tapi apakah manusia akan terus menerus memikirkannya? Kalau saya sendiri, tentu akan lelah! Memikirkan kematian setiap hari atau memikirkan pacar saya akan meninggalkan saya suatu hari nanti di setiap malam rasanya tidak relevan, karena saya yakin itu tidak akan terjadi (dalam waktu dekat).
Apa yang saya alami ternyata juga dialami oleh pacar saya dan juga 80 persen populasi manusia di dunia ini. Kadang kala kita melihat banyak kasus pasangan yang berpisah karena tidak cocok atau ajal menjemput, tapi rasanya itu tidak akan terjadi di hidup kita.
Kondisi ini disebut sebagai Optimism Bias, sebuah fenomena dimana seseorang memiliki kecenderungan untuk melebih-lebihkan kemungkinan yang positif dan meremehkan kemungkinan dengan hasil negatif. Dan ini normal secara neurologis, otak manusia cenderung responsif pada informasi positif agar kita tak terus cemas memikirkan 1000 skenario perpisahan dengan pasangan kita.
Sebenarnya Optimism Bias tidak hanya bekerja pada konteks hubungan, tapi kehidupan manusia itu sendiri. Misalkan sifat apatis masyarakat atas sampah dan bencana di sekitar mereka. Justru menimbulkan sifat apatis dalam diri mereka. Bukan karena mereka jahat, tapi karena respon alami otak untuk membuat kita tidak cemas atas masa depan mereka. Akhirnya manusia malah terlihat seperti “nyaman di keamanan yang palsu” dan tak sadar hal mengerikan akan tiba di depan mereka.
Tapi kita tak bisa menyalahkan manusia sepenuhnya! Otak memang dirancang untuk memproses kemungkinan dan realitas secara berbeda. Kematian bersifat abstrak bagi otak, tapi ketiadaan fisik dari seseorang yang selalu berada di samping diri kita akan terasa lebih menghantam.
Di mana dikau (yang tercinta)
Yang tercinta
Apakah sang malam mendengarkan kata yang kuucap
Lirik ini membuat saya mempertanyakan sebuah arti “ucapan adalah doa”. Orang dulu selalu bilang bahwa berhati-hati lah bercakap, jaga mulut dan omongan. Karena ucapan akan menjadi kenyataan. Tapi yang terjadi adalah ucapan itu bukan yang memuat menjadi kenyataan. Tapi buah pikiran lah yang berperan besar.
Keterlambatan manusia hadir dari pemikiran bahwa waktu yang mereka miliki masih panjang. Optimisme membuat mereka meremehkan waktu, dan dari sini mereka tidak bisa memanfaatkan waktu untuk diri mereka, sesama manusia, maupun alam semesta itu sendiri. Dalam konteks lirik di atas, dirimu tetap ku cari, sosok ku cintai yang selalu ku ucapkan yang padahal sosokmu sudah tak ada.
Pada akhirnya, “Lalu Biru” bukan hanya tentang kehilangan seseorang. Lagu ini seperti cermin yang memantulkan wajah manusia ketika waktu telah lewat dan kesempatan telah hilang.
Diskusi saya dan pacar saya mungkin tidak menemukan jawaban pasti tentang kematian atau tentang mengapa manusia kerap meremehkan waktu. Namun satu hal yang kami pahami: keterlambatan bukan selalu soal tidak tahu, melainkan soal merasa masih punya waktu.
Optimism bias membuat manusia mampu berharap, tetapi juga membuatnya lengah. Kita hidup dengan keyakinan bahwa esok masih tersedia, bahwa orang yang kita cintai akan tetap ada di samping kita. Sampai suatu hari, waktu menjawab dengan caranya sendiri.
Barangkali manusia tidak sepenuhnya salah. Kita tidak bisa hidup dengan terus-menerus membayangkan kehilangan. Kita juga tidak mungkin mencintai dengan dihantui ketakutan setiap detik. Namun mungkin yang bisa kita lakukan adalah menyadari bahwa waktu tidak pernah benar-benar menjadi milik kita.
Mungkin lagu ini tidak meminta kita untuk takut akan kematian. Ia hanya mengingatkan agar kita tidak menunggu sesuatu menjadi “biru” sebelum kita menyadari nilainya.
Karena pada akhirnya, yang paling sunyi bukanlah perpisahan itu sendiri, melainkan kata-kata yang diucapkan ketika pendengarnya sudah tiada. [T]
Penulis: Made Ayu Radha Dwi Pradnyani
Editor: Adnyana Ole
KALANGAN Ayodya di Taman Budaya Bali, malam itu begitu riuh. Gelak tawa dan tepuk tangan terus berganti. Penonton berjejalan. Duduk berdesak-desakan. Banyak yang akhirnya duduk les...
JIKA di atas meja belajar anda terdapat dua buah benda yaitu gadget dan buku, manakah yang akan anda pilih? Saya percaya, demi sinetron kesukaan ibu-ibu di tivi, kebanyakan dari a...
LAGU anak-anak itu kadang unik, terutama liriknya. Saat Taman Kanak-Kanak dulu kita tidak begitu hirau dan memang tak banyak mengerti arti dan maksud lagunya itu apa. Cuma nyanyi d...
BALI merupakan kepulauan seribu pura yang telah terkenal sejak zaman dahulu. Masyarakat Bali tak lepas dari Tri Hita Karana yang merupakan landasan kehidupan beragama dan beradat....
JIKA benar harga rokok setinggi langit biru, dan jika benar harga tinggi itu bisa menghentikan orang merokok, dan (siapa tahu) nanti benar-benar tak ada yang merokok, bagaimana nas...
PERNAH nyuluh jangkrik? Zaman saya kecil, di desa saya di Jembrana, nyuluh jangkrik (memburu jangrik malam hari) adalah kegemaran saya dan teman sebaya. Jauh-jauh sebelumnya, bapak...
Cerpen: Putri Handayani HAMPIR setiap hari Griya Siwa tidak pernah sepi dari orang-orang yang ngayah1. Mulai dari membuat sarana upakara sampai meracik tirta, semua dilakukan oleh ...
KELAHIRAN istilah 'simakrama' menarik untuk ditelusuri. Awalnya istilah ini yang lebih mengarah pada padanan kata 'silahturahmi', yang mencerminkan keinginan untuk berbicara dan sa...
ADA serombongan remaja sedang berebut peran. Mereka akan menjadi pelakon sandiwara dalam perayaan Agustusan tingkat RT. Peran konglomerat, menteri, dokter, mahasiswa, semua mereka...
GARIS berliku itu menyerupai sungai. Lebar di hulu kemudian menyempit di hilir. Warnanya hijau, biru, dan jingga. Garis berliku serupa sungai itu membelah lukisan menjadi dua bagia...