Hujan, Jambore Pemuda Indonesia 2019 dan Kenangan yang Menyertainya
Yang Hujan turun lagi Di bawah payung hitam kuberlindung - Benci…benci… tapi rindu jua… memandang wajah dan senyummu saying Rindu…rindu… tapi benci jua…bila inga...
SESEORANG sedang menyalakan dupa ketika lantainya terasa bergerak sedikit ke kiri lalu ke kanan. Kayu-kayu usuk rumah ikut berderit. Mata sembabnya terpaku menatap lampu gantung yang bergoyang. Canang di pelangkiran juga dalam pandangannya bergetar sesaat sebelum kembali tampak normal.
“Idup! Idup! Idup!”
Teriakan itu meledak hampir serempak: dari pekarangan yang basah oleh embun, dari jalan setapak yang di apit rumput, dan dari balik tembok-tembok penyengker yang ditumbuhi lumut. Luh Murni kemudian sadar bahwa yang dirasakan tadi bukan halusinasi, melainkan gempa.
Luh Murni berlari ke luar rumah dengan hati-hati. Langkahnya membuat kamen yang dikenakan sedikit tersingkap. Dia sempat merapikan kembali kain batik yang membalut bagian tubuh bawahnya itu sebelum ikut berteriak sama hebohnya dengan warga lain. Padahal, gempa telah berakhir beberapa waktu lalu.
“Idup! Idup! Idup!”
Kata-kata itu diwariskan turun-temurun, lebih tua dari ingatan siapa pun di pulau ini. Ia tidak tercatat dalam lontar, tapi dihapal laiknya mantra. Mantra yang tak pernah benar-benar mereka pelajari. Mantra yang konon bisa menenangkan sesosok makhluk di bawah sana.
Dahulu, sebelum bangunan di pulau ini sepadat sekarang, yang ada tidak hanya teriakan. Kulkul juga ikut dibunyikan agar kabar tentangku lebih cepat didengar sang naga, kakakku. Itu yang para orang tua yakini.
Orang-orang menyebutnya Naga Gombang atau Naga Loka. Para tetua desa ini mengisahkan asal-usul kami setiap malam sambil membelai anak mereka di peraduan. Luh Murni juga kelak pasti melakukannya.
Mereka bilang, aku terlahir sebagai anak perempuan yang punya kakak laki-laki. Ibuku seorang janda yang hidup di pinggiran hutan. Bahaya yang selalu mengintai membuat Ibu berpesan agar aku dan Kakak saling menjaga.
Semula semua baik-baik saja. Hingga suatu hari, kata mereka, tanpa sengaja kakakku memakan telur siluman ular yang disimpan di lumbung padi. Tidak ada yang tahu pasti bagaimana telur itu bisa sampai di sana. Ada yang bilang ibuku yang sering naik ke lumbung itu untuk bercinta dengan siluman. Ada juga yang bilang Dewata menitipkannya tanpa diminta. Hal paling jelas yang kupahami adalah telur itu mengubah tubuh kakakku: kulitnya menjadi keras dan berisik, tulangnya memanjang, napasnya berat.
Ibu kami mati di saat yang sama. Penyebabnya tidak mereka ceritakan. Kematian Ibu menyisakan aku dan Kakak yang telah sepenuhnya menjelma naga. Karena takut menggegerkan warga, aku membawa Kakak ke tengah hutan.
Aku menggendongnya hingga ke Gunung Lesung. Sampai di sana, Kakak menyuruhku meninggalkannya untuk mengambil air dengan keranjang. Aku menurut. Namun saat aku kembali, Kakak telah menghilang. Dia masuk ke perut bumi.
“Jangan menangis, Adikku! Aku memang telah ditakdirkan bersemayam di sini. Kelak saat kau merasakan bumi bergetar, berteriaklah! Katakan bahwa kau masih hidup. Dengan begitu aku akan tenang.” Suara Kakak menggema dari dalam kawah gunung.
Cerita berhenti sampai di situ lalu diwariskan mirip tetabuhan sumbang: tidak selaras, tapi tidak ada yang mempermasalahkan.
Tidakkah kalian merasa ada yang salah? Bukan, kesalahan bukan terletak pada wujud akhir kakakku. Para tetua tidak sepenuhnya keliru. Baik zona subduksi lempeng maupun patahan belakang busur kepulauan yang mengapit pulau ini, memang berbentuk memanjang seperti naga. Tanah di sini tidak pernah benar-benar diam sama seperti isi kepala Luh Murni dan perempuan-perempuan lain di pulau ini. Lempeng-lempeng di bawah sana gelisah, menunggu takdirnya. Punggungnya retak-retak seperti sisik, seakan berat menahan tanggungan adat.
Hanya saja, cerita ini terasa tidak adil bagiku. Kakakku diberi pelinggih untuk memujanya. Namanya disebut. Wujudnya dilukiskan tertidur tenang di perut bumi, dijadikan alasan mengapa tanah bergoyang sewaktu-waktu. Perintahnya diingat sampai detik ini. Orang-orang berlomba-lomba mengabarkan kalau aku masih hidup. Namun, kisahku terhenti.
Tidak ada yang mempertanyakan keberadaanku. Tidak ada yang bertanya bagaimana aku keluar dari hutan. Tak satu pun dari mereka berusaha mencari tahu atau menjelaskan. Kalian pun sama. Apa karena aku diwujudkan perempuan sehingga di tanah ini aku tak diistimewakan seperti anak lelaki? Tetap saja, beri aku kesempatan untuk menceritakan diriku.
Sejatinya, aku memang tidak pernah terlihat. Wajahku tidak bisa digambarkan secara pasti. Orang-orang membayangkan wujudku bermacam-macam. Luh Murni misalnya, dia membayangkanku seperti cahaya kecil yang bertahan di ujung gelap. Ada orang yang mengira aku perempuan muda dengan rambut panjang. Ada juga yang menganggapku sampah tak berguna.
Jangan berpikir aku punya sihir. Itu terjadi akibat pikiran orang-orang yang sering menggantungkan kata-kata padaku. Mereka akan tersenyum saat yang didapat terasa sesuai. Jika yang terjadi sebaliknya, mereka merengut.
Aku tidak disimpan di perut bumi seperti kakakku, tidak juga mendapat tempat di pura. Aku berada di sela-sela dua hal: di antara jatuh dan bangkit, di antara gemetar dan diam, di antara tangis dan tawa.
Aku tidak dijadikan nama patahan atau lempeng, Tidak juga mendapat nama keren seperti kakakku. Namun, orang-orang mengenalku sebagai alasan, sesuatu yang mereka pastikan tetap ada.
Dalam kehidupan sehari-hari, keberadaanku muncul samar. Saat petani memandang sawah yang padinya mulai menguning misalnya, tak satu dari mereka menyebut namaku. Tapi aku ada di udara yang mereka hirup. Aku juga ada di tengah kelahiran bayi yang tangisnya pecah. Sampai detik ini pun, orang-orang masih merawatku: saat tubuh mereka melemah terlalu cepat atau saat dinding rumahnya retak atau saat laut terasa lebih dekat dari biasanya.
Semua ini kuutarakan bukan karena ingin menuntut. Sama seperti Luh Murni, aku hanya sedang melanjutkan kisah yang masih tersisa. Aku hanya ingin kalian menyadari keberadaanku. Ketahuilah, aku dan kakakku diciptakan saling melengkapi. Setiap kakak bertingkah, aku akan hadir. Saat gempa misalnya, aku berada dalam kata idup idup yang kalian teriakan. Kata itu bukan semata untuk menenangkan yang di bawah, melainkan memastikan aku tidak pergi. Seperti halnya yang dilakukan Luh Murni. Sejatinya, dia masih berada dalam bayang-bayang duka karena kematian sang suami. Namun kini, dia sedang tersenyum sambil mengelus perut. Dia tidak sedang menyapa si penghuni rahim, tapi merayuku. [T]
Penulis: Putri Harya
Editor: Adnyana Ole
Yang Hujan turun lagi Di bawah payung hitam kuberlindung - Benci…benci… tapi rindu jua… memandang wajah dan senyummu saying Rindu…rindu… tapi benci jua…bila inga...
Ada yang memandang dengan heran. Cuek saja sambil berlalu juga banyak. Beberapa ada yang terusik dan mulai mendekat. Sembari mengabadikan beberapa foto, baik foto lokasi setempat...
BACA JUGA: Cara Dosen Merespons Kondisi Kekinian – Catatan Pameran Seni Rupa Dosen Undiksha Ditanya soal seni, saya memang awam. Bahkan sangat awam. Boleh dibilang saya tid...
Andai pariwisata tidak berkembang di Nusa Penida, saya yakin tidak akan ada yang peduli dengan sampah plastik. Sampah-sampah itu pasti berserakan baik di tegalan, sungai kering, t...
TANAH liat yang dibentuk serupa manusia itu saling bertumpuk. Sengkarut meniti tangga. Manusia-manusia liat itu berebut, bertempuk, menuju sebuah mangkuk tanah liat yang di dalamn...
Ada kebanggaan tersendiri yang terkandung dalam kata "sukla", yang seolah-olah bermakna murni atau virgin, suci dan lain sebagainya dan "surudan" seolah-olah tidak murni, tidak...
Memasuki tahun kedua Unspoken - Bali Poetry Slam kembali mengadakan tahap final dari program tahunan poetry slam yaitu THE GRAND SLAM 2019: UNSPOKEN JUSTICE yang akan diselenggara...
Dalam rangkaian acara Parade Teater Canasta 2019, pada tanggal 25 November 2019 pada sore harinya diisi workshop oleh Husni Wardhana tentang teknis dan cara keluar atau masuk ke p...
Beberapa orang menyapa penonton dengan sopan namun meneror telinga. Ketika penonton baru masuk hingga penonton sudah duduk diberi salam yang sama dan berulang-ulang. Seolah, ruang...
Bali Aga, mendengar kata tersebut, terbesit pemaknaan tentang suatu tempat atau peradaban yang kuno, lampau, bahkan tidak relevan lagi jika disandingkan dengan digitalalisasi masa...