Apa Ini Tempat Penghakiman? | Cerpen Kadek Indra Putra
SUARA tangis lirih terdengar hampir setiap malam dari arah dapur. Perempuan penghuni rumah tentu saja mendengarnya setiap malam, namun Ia pura-pura tidak tahu dan memilih mengabai...
SESEORANG sedang menyalakan dupa ketika lantainya terasa bergerak sedikit ke kiri lalu ke kanan. Kayu-kayu usuk rumah ikut berderit. Mata sembabnya terpaku menatap lampu gantung yang bergoyang. Canang di pelangkiran juga dalam pandangannya bergetar sesaat sebelum kembali tampak normal.
“Idup! Idup! Idup!”
Teriakan itu meledak hampir serempak: dari pekarangan yang basah oleh embun, dari jalan setapak yang di apit rumput, dan dari balik tembok-tembok penyengker yang ditumbuhi lumut. Luh Murni kemudian sadar bahwa yang dirasakan tadi bukan halusinasi, melainkan gempa.
Luh Murni berlari ke luar rumah dengan hati-hati. Langkahnya membuat kamen yang dikenakan sedikit tersingkap. Dia sempat merapikan kembali kain batik yang membalut bagian tubuh bawahnya itu sebelum ikut berteriak sama hebohnya dengan warga lain. Padahal, gempa telah berakhir beberapa waktu lalu.
“Idup! Idup! Idup!”
Kata-kata itu diwariskan turun-temurun, lebih tua dari ingatan siapa pun di pulau ini. Ia tidak tercatat dalam lontar, tapi dihapal laiknya mantra. Mantra yang tak pernah benar-benar mereka pelajari. Mantra yang konon bisa menenangkan sesosok makhluk di bawah sana.
Dahulu, sebelum bangunan di pulau ini sepadat sekarang, yang ada tidak hanya teriakan. Kulkul juga ikut dibunyikan agar kabar tentangku lebih cepat didengar sang naga, kakakku. Itu yang para orang tua yakini.
Orang-orang menyebutnya Naga Gombang atau Naga Loka. Para tetua desa ini mengisahkan asal-usul kami setiap malam sambil membelai anak mereka di peraduan. Luh Murni juga kelak pasti melakukannya.
Mereka bilang, aku terlahir sebagai anak perempuan yang punya kakak laki-laki. Ibuku seorang janda yang hidup di pinggiran hutan. Bahaya yang selalu mengintai membuat Ibu berpesan agar aku dan Kakak saling menjaga.
Semula semua baik-baik saja. Hingga suatu hari, kata mereka, tanpa sengaja kakakku memakan telur siluman ular yang disimpan di lumbung padi. Tidak ada yang tahu pasti bagaimana telur itu bisa sampai di sana. Ada yang bilang ibuku yang sering naik ke lumbung itu untuk bercinta dengan siluman. Ada juga yang bilang Dewata menitipkannya tanpa diminta. Hal paling jelas yang kupahami adalah telur itu mengubah tubuh kakakku: kulitnya menjadi keras dan berisik, tulangnya memanjang, napasnya berat.
Ibu kami mati di saat yang sama. Penyebabnya tidak mereka ceritakan. Kematian Ibu menyisakan aku dan Kakak yang telah sepenuhnya menjelma naga. Karena takut menggegerkan warga, aku membawa Kakak ke tengah hutan.
Aku menggendongnya hingga ke Gunung Lesung. Sampai di sana, Kakak menyuruhku meninggalkannya untuk mengambil air dengan keranjang. Aku menurut. Namun saat aku kembali, Kakak telah menghilang. Dia masuk ke perut bumi.
“Jangan menangis, Adikku! Aku memang telah ditakdirkan bersemayam di sini. Kelak saat kau merasakan bumi bergetar, berteriaklah! Katakan bahwa kau masih hidup. Dengan begitu aku akan tenang.” Suara Kakak menggema dari dalam kawah gunung.
Cerita berhenti sampai di situ lalu diwariskan mirip tetabuhan sumbang: tidak selaras, tapi tidak ada yang mempermasalahkan.
Tidakkah kalian merasa ada yang salah? Bukan, kesalahan bukan terletak pada wujud akhir kakakku. Para tetua tidak sepenuhnya keliru. Baik zona subduksi lempeng maupun patahan belakang busur kepulauan yang mengapit pulau ini, memang berbentuk memanjang seperti naga. Tanah di sini tidak pernah benar-benar diam sama seperti isi kepala Luh Murni dan perempuan-perempuan lain di pulau ini. Lempeng-lempeng di bawah sana gelisah, menunggu takdirnya. Punggungnya retak-retak seperti sisik, seakan berat menahan tanggungan adat.
Hanya saja, cerita ini terasa tidak adil bagiku. Kakakku diberi pelinggih untuk memujanya. Namanya disebut. Wujudnya dilukiskan tertidur tenang di perut bumi, dijadikan alasan mengapa tanah bergoyang sewaktu-waktu. Perintahnya diingat sampai detik ini. Orang-orang berlomba-lomba mengabarkan kalau aku masih hidup. Namun, kisahku terhenti.
Tidak ada yang mempertanyakan keberadaanku. Tidak ada yang bertanya bagaimana aku keluar dari hutan. Tak satu pun dari mereka berusaha mencari tahu atau menjelaskan. Kalian pun sama. Apa karena aku diwujudkan perempuan sehingga di tanah ini aku tak diistimewakan seperti anak lelaki? Tetap saja, beri aku kesempatan untuk menceritakan diriku.
Sejatinya, aku memang tidak pernah terlihat. Wajahku tidak bisa digambarkan secara pasti. Orang-orang membayangkan wujudku bermacam-macam. Luh Murni misalnya, dia membayangkanku seperti cahaya kecil yang bertahan di ujung gelap. Ada orang yang mengira aku perempuan muda dengan rambut panjang. Ada juga yang menganggapku sampah tak berguna.
Jangan berpikir aku punya sihir. Itu terjadi akibat pikiran orang-orang yang sering menggantungkan kata-kata padaku. Mereka akan tersenyum saat yang didapat terasa sesuai. Jika yang terjadi sebaliknya, mereka merengut.
Aku tidak disimpan di perut bumi seperti kakakku, tidak juga mendapat tempat di pura. Aku berada di sela-sela dua hal: di antara jatuh dan bangkit, di antara gemetar dan diam, di antara tangis dan tawa.
Aku tidak dijadikan nama patahan atau lempeng, Tidak juga mendapat nama keren seperti kakakku. Namun, orang-orang mengenalku sebagai alasan, sesuatu yang mereka pastikan tetap ada.
Dalam kehidupan sehari-hari, keberadaanku muncul samar. Saat petani memandang sawah yang padinya mulai menguning misalnya, tak satu dari mereka menyebut namaku. Tapi aku ada di udara yang mereka hirup. Aku juga ada di tengah kelahiran bayi yang tangisnya pecah. Sampai detik ini pun, orang-orang masih merawatku: saat tubuh mereka melemah terlalu cepat atau saat dinding rumahnya retak atau saat laut terasa lebih dekat dari biasanya.
Semua ini kuutarakan bukan karena ingin menuntut. Sama seperti Luh Murni, aku hanya sedang melanjutkan kisah yang masih tersisa. Aku hanya ingin kalian menyadari keberadaanku. Ketahuilah, aku dan kakakku diciptakan saling melengkapi. Setiap kakak bertingkah, aku akan hadir. Saat gempa misalnya, aku berada dalam kata idup idup yang kalian teriakan. Kata itu bukan semata untuk menenangkan yang di bawah, melainkan memastikan aku tidak pergi. Seperti halnya yang dilakukan Luh Murni. Sejatinya, dia masih berada dalam bayang-bayang duka karena kematian sang suami. Namun kini, dia sedang tersenyum sambil mengelus perut. Dia tidak sedang menyapa si penghuni rahim, tapi merayuku. [T]
Penulis: Putri Harya
Editor: Adnyana Ole
SUARA tangis lirih terdengar hampir setiap malam dari arah dapur. Perempuan penghuni rumah tentu saja mendengarnya setiap malam, namun Ia pura-pura tidak tahu dan memilih mengabai...
PEMATUNG I Ketut Putrayasa selalu menawarkan ide-ide baru dalam karyanya. Lihat saja karya terbarunya, berupa air terjun buatan terpanjang dan tertinggi di kawasan New Kuta Golf (...
ALUNAN gamelan mengentak panggung Tugu Singa Ambara Raja, Kamis, 21 Agustus 2025. Nadanya terkadang melesat cepat, lalu mengalir tenang laksana air. Dan di balik komposisi itu, te...
DEWA HYANG tak pandai aku merapal mantratak mampu aku menghapal nama-Musaat hina dalam diritak bisa lenyapbahkan dengan riuh-rendah parisudha maka di sudut merajanpada wangi...
DALAM lomba fashion desain tenun Buleleng bertajuk “Ethno Glam”, I Nyoman Riang Pustaka bersama sang istri Maria Cornelia, tampak anggun menggunakan busana etnik di panggung utama...
TONY Raka Gallery dengan bangga menghadirkan Tubuh dan Waktu: Kesadaran Nawasena, pameran tunggal I Wayan Sujana Suklu, berlangsung 23 Agustus – 23 Oktober 2025. Melampaui seni vi...
“INI bukan ladang kami sendiri, milik orang Prancis,” terang Ketut Kirana saat senja baru saja jatuh di ladang garam Dusun Penyumbahan, Desa Les, Kecamatan Tejakula, Kabupaten Bul...
KETIKA Okokan, gamelan tradisional Bali berbahan kayu itu dimainkan, 20 gadis kemudian bergerak ritmis menari menabur bunga wangi. Di depannya, ibu-ibu PKK berbusana putih memakai...
PADA serangkaian acara Buleleng Festival (Bulfest) 2025 di Sasana Budaya Jumat (22/8/2025) malam, banyak sekali pengunjung yang datang. Padat. Tempat duduk seakan tak ada celah ba...
KAMIS, 17 November 2022. Langit Sumbawa masih gelap ketika saya meninggalkan Alas. Saya lihat jam di ponsel, pukul 05.19 WITA. Alas merupakan kota kecamatan yang kecil. B...