Satia Guna Main “Bahaya”, Teror Cerita Teror Aktor…
Ketika tukang cukur menghunus pisau untuk meratakan godek, aku tersentak. Aku baru menyadari bahwa kehidupan berbahaya. Dunia manusia sama buasnya dengan rimba raya. Mengancam. Di...
Di Universitas Bumi Langit, tempat matahari sering kalah terang dari ego para dosennya, terletak sebuah fakultas yang namanya saja sudah membuat mahasiswa baru kebingungan: Fakultas Epistemologi.
Di fakultas inilah saya bekerja sebagai seorang dosen biasa, sangat biasa, yang selalu merasa perlu minum air putih sepuluh gelas sebelum rapat, demi persiapan menghadapi bahaya dehidrasi intelektual.
Pagi itu, seperti biasa, saya masuk ruang rapat yang suhunya bisa dipakai untuk menyimpan daging sapi. AC-nya berdengung seperti sedang meratap, “tolong matikan aku… tolong…” . Tapi rapat fakultas selalu memerlukan udara yang sangat dingin, mungkin agar para pejabat terlihat tetap segar walau bicara terlalu lama.
Saya duduk, membuka laptop, menyusun catatan. Topik rapat hari ini tertera jelas di papan:
“Rapat Sinkronisasi Program Pengembangan Mahasiswa.”
Judul yang sederhana, setidaknya sampai seseorang datang menghancurkan kesederhanaan itu.
Pukul sembilan lewat lima menit, pintu terbuka keras seperti dalam adegan telenovela. Masuklah sosok yang disebut-sebut sebagai pejabat paling fenomenal di kampus: Pak Narwanda Prakosa, M.M.M.M.
Saya tidak pernah tahu kepanjangan gelar “M.M.M.M.” itu apa. Ada rumor mengatakan itu singkatan dari Master of Multitafsir, Multivisi, Multikata, dan Multigaya. Ada juga yang bilang itu hanya tulisannya miring karena printer rusak. Yang jelas, Pak Narwanda adalah Wakil Dekan urusan apa saja yang membutuhkan banyak kata.
Hari itu ia membawa map warna emas, berdiri di pintu dengan aura yang setebal jaket motor. Senyumnya percaya diri, langkahnya terukur, dan matanya berbinar seperti orang yang baru menemukan kosakata baru di KBBI.
“Rekan-rekan Epistemologi,” katanya tanpa menunggu formalitas apa pun. “Secara paradigmatik, fakultas kita kini memasuki fase dekonstruksi epistemik yang memerlukan orkestrasi lintas entitas institusional agar konfigurasi kompetensial tetap konvergen dalam kerangka holistik transformatif.”
Saya menatap papan tulis: Rapat Sinkronisasi Program Pengembangan Mahasiswa.
Saya menatap teman saya, Miko, yang membalas dengan tatapan kosong seperti televisi kehilangan sinyal. Bu Onih, Kepala Sekretariat fakultas yang sudah bekerja sejak zaman kampus masih numpang di gedung kecamatan, mencubit lengannya sendiri. “Saya harus tetap waras, saya harus tetap waras,” gumamnya.
Pak Narwanda menatap kami satu-satu, lalu lanjut lagi:
“Karena itu, mari kita rekonsolidasikan kolektivitas deliberatif kita agar melahirkan intensionalitas praksis yang proporsional.”
Kami semua terdiam. Saya berusaha keras menebak maksudnya.Tentang mahasiswa? Mungkin.Tentang jadwal kuliah? Bisa jadi.Tentang cadangan beras nasional? Tidak menutup kemungkinan.
Akhirnya saya angkat tangan.
“Pak, maaf… intinya apa ya?”
Ia memandang saya seakan saya baru saja bertanya apakah bumi itu bulat atau kotak.
“Intinya, ya itu,” katanya tegas. “Konvergensi sinergis melalui parameter relasional. Simple.”
Simple katanya. Saya hampir pingsan.
***
Rapat baru berlangsung sepuluh menit, tapi rasanya sudah seperti dua semester. Pak Narwanda melanjutkan ceramahnya dengan gaya seperti influencer yang sedang live TikTok:
“Transformasi struktural akan terjadi apabila kita merevitalisasi jejaring komunikatif melalui narasi koheren untuk mendorong akselerasi partisipatoris para stakeholders.”
Kali ini, staf humas, Mas Raga, mencatat sesuatu dengan sangat serius. Saya pikir ia sedang membuat notulen. Ketika saya curi pandang, ternyata dia menulis:
‘Beli telur – cabai – bawang – minyak.’
Mungkin itu cara otaknya mempertahankan realitas. Lalu Bu Herlina, guru besar epistemologi terapan, menghela napas dan berkata pelan, “Pak, jadi maksudnya… ini rapat apa?”
Pak Narwanda langsung menjawab mantap:
“Kita sedang menetapkan peta jalan akseleratif untuk harmonisasi naratif kelembagaan Epistemologi.”
Hening.
Miko berbisik, “Kok kayak resep masakan ya? Ada akseleratif, harmonisasi, naratif…”
Saya menunduk sambil menutup mulut, menahan tawa agar tidak terdengar. Saya tak mau dianggap subversif dalam rapat epistemik.
Bagian paling komedi terjadi ketika kami sampai pada agenda anggaran. Sebagai dosen, saya sudah menyiapkan mental untuk menghadapi angka-angka yang mungkin tidak masuk akal. Tapi angkanya ternyata tidak muncul sama sekali.
“Baik,” kata Pak Narwanda sambil membuka map emasnya. “Anggaran tahun depan memerlukan formulasi dualistik antara agenda instruksional dan meta-instruksional yang harus diinterpolasikan dengan redundansi produktif.”
Kami menunggu angka-angka. Saya membuka Excel. Bu Onih menyiapkan kertas rekapan. Pak Darma, Gurubesar Emiritus menyiapkan kacamata fokusnya. Setelah lima menit penjelasan tanpa satu pun angka keluar, saya bertanya:
“Pak, nominalnya berapa?”
Pak Narwanda terlihat agak tersinggung.
“Saudara, esensinya bukan nominal. Esensinya adalah kerangka hermeneutiknya.”
Bu Herlina memijat pelipis. Pak Darma menatap langit-langit, mungkin mencari jawaban Tuhan. Raga menulis daftar belanja yang lebih panjang: ‘Detergen – sandal – busi motor.’ Saya mulai berpikir map emas itu berisi petunjuk harta karun. Atau surat kosong. Saya memberanikan diri lagi.
“Pak, boleh kami lihat tabelnya?”
Ia membuka map itu. Kosong. Kosong total. Tidak ada kertas. Tidak ada grafik. Tidak ada angka. Hanya udara, dan sedikit harapan yang langsung hilang. Saya yakin, pada titik itu, AC pun merasa sedih.
***
Saya memandang Pak Narwanda. Ia terlihat percaya diri, tapi juga tampak seperti seseorang yang sedang mencoba keras menjadi versi paling pintar dari dirinya sendiri. Mungkin ia memang suka bicara rumit. Mungkin ia pikir itu terlihat intelektual. Mungkin ia tidak sadar bahwa seluruh fakultas sedang berada di ambang migrain kolektif.
Saya ingat prinsip sederhana dalam filsafat ilmu: Yang bisa dijelaskan dengan sederhana, jangan dibikin rumit. Itu dosa epistemik. Akhirnya saya angkat tangan untuk ketiga kalinya, dengan keberanian level mahasiswa demo minta UKT diturunkan.
“Pak,” kata saya, “bagaimana kalau kita mulai dari hal yang paling sederhana dulu, tujuan rapat ini apa?”
Untuk pertama kalinya sejak mulai berbicara, Pak Narwanda terdiam. Ia melihat kami satu per satu. Melihat map kosongnya. Melihat papan tulis. Melihat dirinya sendiri dalam refleksi layar proyektor. Lalu akhirnya berkata:
“Tujuan rapatnya… eh… menentukan jadwal kegiatan fakultas bulan depan.”
Hening. Lalu tepuk tangan spontan terdengar. Bukan karena itu ide bagus. Tapi karena itu adalah kalimat paling jelas yang ia ucapkan sejak jam sembilan pagi.
Kami pun akhirnya mulai membahas jadwal. Dengan normal. Dengan bahasa manusia. Dengan kalimat yang tidak perlu menyebut “paradigmatik” setiap tiga menit. Rapat selesai dalam lima belas menit.
Saat kami keluar ruangan, Miko menepuk bahu saya.
“Gila, Mas. Tadi itu seperti menonton opera avant-garde tanpa subtitle.”
Saya tertawa. “Sudah biasa. Di Fakultas Epistemologi, semua hal sederhana harus dipersulit dulu, biar terlihat ilmiah.”
Kami berjalan di koridor, melewati poster besar bertuliskan:“Epistemologi: Mencari Kebenaran dengan Kejelasan.” Saya menatap poster itu, lalu menatap ruang rapat tempat kami baru saja disiksa. Saya tidak yakin fakultas kami sedang menuju kejelasan.
Tapi setidaknya, hari itu, kami selamat dari tsunami jargon. Dan sejak hari itu pula saya percaya: Kecerdasan sejati bukan tentang bicara rumit, tapi membuat rumit menjadi sederhana. Sementara Pak Narwanda… Entahlah.
Mungkin besok ia datang lagi dengan jargon baru. Entah “konstelasi teleologis”, entah “dialogisme meta-esensial”, entah apa. Tapi saya sudah siap. Saya sudah punya strategi pertahanan mental: Saya akan membawa earphone. Kalau terlalu banyak jargon, saya tinggal pura-pura mencatat padahal sedang mendengarkan musik Rock n Roll . Karena tidak ada epistemologi yang sekuat musik Rock n Roll, kawan. [T]
Penulis: Ahmad Sihabudin
Editor: Adnyana Ole
Ketika tukang cukur menghunus pisau untuk meratakan godek, aku tersentak. Aku baru menyadari bahwa kehidupan berbahaya. Dunia manusia sama buasnya dengan rimba raya. Mengancam. Di...
PENYELENGGARAAN lomba menulis cerpen Festival Sastra (Festra) Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Undiksha, tahun ini kembali diadakan dengan peserta yang relatif banya...
MEMBIDIK peristiwa untuk menjadi tema dalam puisi memang menarik dibicarakan. Butuh kepekaan untuk memaknai suatu peristiwa. Pemaknaan tersebut tidak serta merta terjadi dan hadir...
Cerpen: Putu Supartika DI kamar tamu yang pengap. Udara begitu panas. Tak ada desir angin yang menyusup lewat celah pintu ataupun celah jendela. Tak ada AC. Tak ada pula kipas angi...
LIRIK KASMARAN Manakala kau sentuh jiwaku pirus dan safir bertebaran di bawah kakiku matahari menyingkap kegelapan hatiku dan sebuah galaksi, dengan gugusan planet biru mengitari...
SAYA masuk kawasan Desa Pejaten di wilayah Kecamatan Kediri, Tabanan, ketika udara agak panas. Saya masuk lewat tikungan Jalan Raya Tanah Lot, dan di kiri-kanan masih tampak sediki...
JANGAN gundah, Ketut, masa depan yang nun jauh di sana, kini sedang menunggumu. Jika kamu harus bangun dinihari, lalu berjalan kaki dari rumah yang terpencil, melewati kebun dan hu...
KRAYON Hijau marah-marah sendiri. Ia kesal harus sendirian mewarnai tumbuh-tumbuhan. Apalagi ketika Matahari menyapanya dan menanyakan sesuatu yang tidak ia ketahui, Krayon Hijau s...
PEKAK Renes, tetangga saya, melakukan kajian isen-iseng. Dan ia mengeluarkan pertanyaan polos meceplos, yakni pertanyaan yang sudah sering diungkapkan orang. Meski polos bin klise,...
SETIAP negara di dunia memiliki ideologi sebagai pedoman dalam menjalankan roda kehidupan kenegaraannya. Beragam jenis ideologi yang ada di dunia ini seperti ideologi Marxisme-Komu...