WAJAH-wajah kecil itu tampak amat serius pagi itu. Jas dokter kecil yang mereka kenakan terlihat rapi, lengkap dengan pin dan atribut UKS di dada. Sebagian menggenggam alat tulis, sebagian lagi saling berbisik pelan mengulang materi yang telah dipelajari. Di balik tubuh yang masih belia, tersimpan kesiapan untuk menjalankan peran yang tidak sederhana: menjadi penolong pertama bagi teman sebaya.
Hari itu, Senin, 9 Februari 2026, beberapa ruang kelas SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) menjadi lokasi pelaksanaan Lomba Dokter Kecil tingkat SD/MI se-Sarbagita (Denpasar, Badung, Gianyar, dan Tabanan) dalam rangkaian Kesbam Anniversary Contest (KAC) VI, memperingati HUT Kesbam ke-17. Sebanyak 24 peserta hadir sebagai perwakilan terbaik dari sekolah masing-masing.
Babak tes tulis dalam Lomba Dokter Kecil di KAC VI│Foto: Dok. OSIS Kesbam
Kompetisi hari itu dimulai dengan babak tes tulis. Lembar soal dibagikan, dan suasana ruangan tes mendadak hening. Materi yang diujikan mencakup konsep dasar kesehatan sekolah, Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), hingga penanganan awal kondisi darurat sederhana. Ketelitian membaca soal dan pemahaman materi menjadi kunci pada tahap ini.
Babak tes tulis menjadi gerbang awal untuk menyaring sekitar 50–75 persen peserta menuju tahap berikutnya. Setelah rekapitulasi nilai usai dilakukan, nama-nama yang lolos pun kemudian diumumkan.
Memasuki babak semifinal, kompetisi beralih ke ujian keterampilan (skill UKS). Di ruang praktik, para peserta menghadapi simulasi kasus nyata yang diperoleh melalui undian. Setiap anak harus sigap menangani probandus (orang yang berpura-pura menjadi pasien) dengan kondisi berbeda-beda.
Babak praktik keterampilan UKS dalam Lomba Dokter Kecil di KAC VI│Foto: Dok. OSIS Kesbam
Beberapa peserta mendapatkan kasus epistaksis (mimisan). Dengan tenang, mereka memposisikan kepala pasien, menekan bagian yang tepat, serta memberikan instruksi sesuai prosedur. Peserta lain melakukan perawatan luka, mereka membersihkan area yang terluka sebelum membalutnya dengan rapi. Ada pula yang menangani pasien pingsan, mereka memastikan posisi tubuh aman dan memeriksa respons awal.
Pada tahap ini, penilaian tidak hanya mencakup ketepatan prosedur dan kebersihan tindakan, tetapi juga komunikasi interpersonal. Cara peserta menenangkan probandus, menjelaskan langkah penanganan, dan menunjukkan empati menjadi aspek penting dalam penilaian.
Lomba Dokter Kecil di KAC VI│Foto: Dok. OSIS Kesbam
Ns. I Made Gede Suryawan, S.Kep., selaku koordinator lomba menuturkan, tahun ini Lomba Dokter Kecil tampil dengan format yang lebih dinamis dan adaptif. Selain tes teori dan praktik, peserta juga ditantang membuat video reels edukasi. Tema-tema yang diangkat sangat relevan dengan isu kesehatan anak usia sekolah dasar, seperti pencegahan stunting, kampanye “Jentik Nggak Asik!”, bahaya junk food dibandingkan bekal sehat, tanggap bencana melalui P3K, hingga kesehatan mental dengan pesan “Stop Bullying”.
Melalui media digital tersebut, para peserta menunjukkan kemampuan menyampaikan pesan kesehatan secara kreatif dan komunikatif kepada teman sebaya. Inovasi ini memperluas makna dokter kecil, tidak hanya sebagai petugas UKS di sekolah, tetapi juga sebagai agen edukasi di era digital.
Kompetisi mencapai puncaknya pada babak Cerdas Cermat. Para finalis yang telah dibagi duduk berjajar, memegang bendera kecil sebagai tanda kesiapan menjawab. Pertanyaan demi pertanyaan dibacakan, menguji kecepatan berpikir, ketelitian, dan akurasi jawaban. Tangan-tangan kecil itu terangkat cepat, berlomba memberikan respons paling tepat.
Babak cerdas cermat dalam Lomba Dokter Kecil di KAC VI│Foto: Dok. OSIS KesbamLomba Dokter Kecil di KAC VI│Foto: Dok. OSIS Kesbam
Kredibilitas penilaian dijaga oleh dewan juri yang terdiri dari I Wayan Wiratma, S.Km., M.Si. (Dinas Kesehatan Provinsi Bali), Ni Made Alit Pudiani, S.Km. (Dinas Kesehatan Kota Denpasar), serta Ns. I Made Gede Suryawan, S.Kep. (pengajar SMK Kesehatan Bali Medika). Penilaian dilakukan secara kumulatif dari seluruh tahapan lomba.
Setelah melalui proses yang ketat, hasil akhir pun diumumkan. Juara 1 diraih oleh Ni Wayan Bening Danandra Sinawa dari SD Saraswati 3 Denpasar. Juara 2 diraih Ni Made Alina Arianita dari SD Saraswati 4 Denpasar, dan Juara 3 diraih Ni Luh Stella Nathania Mau dari SD No. 3 Sempidi.
Kategori Harapan 1 diraih Ni Putu Bunga Nitya Putri Rahayu dari SD Tri Murti Denpasar, Harapan 2 oleh I Gede Aga Satrya Putrayasa dari SD No. 3 Sempidi, serta Harapan 3 oleh Anandita Sita Prabhandari dari SD Saraswati 3 Denpasar. Sementara itu, kategori Terfavorit diraih oleh Ni Made Alina Arianita dari SD Saraswati 4 Denpasar.
Dewan juri bersama peserta Lomba Dokter Kecil di KAC VI│Foto: Dok. OSIS Kesbam
Koordinator lomba, Ns. I Made Gede Suryawan, S.Kep., turut menyampaikan apresiasi atas kemampuan para peserta.
“Ada kepuasan batin yang sulit dilukiskan saat melihat anak-anak usia SD mampu melakukan tindakan P3K dengan begitu tenang dan sistematis. Harapan saya, semangat yang berkobar hari ini tidak padam. Saya ingin mereka kembali ke sekolah sebagai duta perubahan, membawa misi mulia untuk mewujudkan lingkungan yang sehat dan tangguh secara fisik maupun mental,” ujarnya.
Menurut Suryawan, kompetisi ini bukan sekadar ajang perebutan piala, melainkan proses pembentukan karakter dan kepedulian sejak dini. Sejalan dengan visi Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, ajang ini diharapkan menjadi inkubator lahirnya role model cilik yang mampu mentransformasikan pengetahuan menjadi aksi nyata di sekolah dan lingkungan sekitar. [T]
Reporter/Penulis: Dede Putra Wiguna Editor: Budarsana
DALAM berbagai diskusi mengenai kewirausahaan, ada satu narasi yang terus berulang seperti sebuah gema yang tak kunjung reda. Ketika seorang calon wirausaha ditanya mengenai apa y...
SETELAH melewati rentetan perawatan medis yang panjang dan melelahkan, pernahkah Anda berbisik pada diri sendiri, "Apakah tubuh ini akan kembali seperti sediakala?"
Pertanyaan...
PAGI INI saya teringat mendiang Ida Bagus Ketut Dharma Santika Putra, sahabat dan guru kami dalam dunia sastra dan budaya di Jembrana-Bali, yang telah berpulang pada 21 Januari 20...
KRISIS iklim bukan lagi ramalan apokaliptik di makalah-makalah seminar melainkan kenyataan di depan mata semua bangsa. Ayolah jujur mengakui ironi ini: hutan-hutan terbaik yang be...
"YANG kami bangun bukan sekadar ruang publik yang indah, tetapi juga ruang yang mampu mengingatkan masyarakat akan perjalanan panjang Kota Singaraja," ujar Bupati Buleleng, dr. I...
JAUH sebelum psikolog modern David Dunning dan Justin Kruger merumuskan Dunning-Kruger Effect pada tahun 1999, pujangga Jawa Kuno telah meramalkan akan datang orang-orang yang dan...
HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai marmer rumah mewah di kawasan elit. Suara temba...
MENJELMA KATA DI KURUSETRA BERANDA
mata-mata telingasulih gaduh suaralahir ribuan kekata
jemari adalah ujung belatirobek halus di layar tanduskebajikan serta kebijakan berbe...
TEPAT hari Sabtu, 13 Juni 2026, saat Renon sedang menyengat, ribuan orang memadati kawasan Monumen Perjuangan Rakyat Bali di Denpasar. Di tengah gemuruh tabuh dan warna-warni busa...
RAHWANA adalah nama yang kerap kali tidak membutuhkan pengantar. Ia hadir lebih dulu dari ceritanya; datang sebagai prasangka sebelum sempat dikenali secara utuh dalam epik Ramaya...